KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 20: Abdullah bin Umar

oleh Muhammad Akhyar

 

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Jika selama ini dalam berbagai kesempatan saya seringkali mengutip pernyataan Umar tentang seorang sahabat, kali ini kita akan mencoba mencuplik kehidupan orang yang begitu dekat dengan Umar, Abdullah bin Umar. Ya, sahabat yang akan coba kita tilik ringkasan hidupnya kali ini adalah anak dari khalifah Islam ke dua, Umar.

Ibnu Umar telah memulai interaksinya dengan Rasulullah dan Islam semenjak usia tiga belas tahun, ketika itu ia begitu ingin menyertai ayahandanya dalam perang Badar. Namun sebagaimana kisah Zaid sebelumnya, ia pun ditolak oleh Rasulullah karena masih terlampau kecil.

Ibnu Umar adalah salah sahabat yang dikenal tidak pernah melewatkan tengah malamnya tanpa shalat dan merintih meminta ampun kepada Allah. Mengenai kebiasaannya ini Ibnu Umar menuturkannya sendiri,

“Di masa Rasulullah, saya bermimpi seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang saya ingin di surge, beludru itu akan menerbangkanku ke sana.

Lalu tampaklah pula dua orang yang mendatangiku dan ingin membawaku ke neraka. Tetapi seorang malaikat menghadang mereka, katanya, ‘Jangan ganggu!’ Kedua orang itu pun meluangkan jalan bagiku.

Oleh Hafsah, yaitu saudaraku, mimpi itu diceritakannya kepada Rasulullah. Rasulullah pun bersabda, ‘Akan menjadi laki-laki paling utamalah Abdullah itu, andainya ia sering shalat malam dan banyak melakukannya.’”

Semenjak ia mendengar perkataan Rasulullah tadi, tak pernah ia meninggalkan shalat malamnya baik ia dalam keadaan menetap atau dalam perjalanan.

Ibnu Umar juga dikenal sebagai sahabat yang selalu berusaha mengikuti tindak tanduk Rasulullah. Ibunda kita, Aisyah, mengomentarinya dengan,

“Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentiannya, sebagaimana yang dilakukan Ibnu Umar.”

Ia meniru dengan cermat tingkah laku Rasulullah. Misalnya Rasulullah pernah melakukan shalat di suatu tempat, Ibnu Umar melakukannya pula di tempat itu. Di tempat lain misalnya Rasulullah pernah berdoa sambil berdiri, Ibnu Umar pun akan berdoa sambil berdiri di tempat itu. Bahkan ia tak akan lupa bahwa unta tunggangan Rasulullah berputar dua kali di suatu tempat di kota Mekkah sebelum Rasulullah turun dari atasnya untuk melakukan shalat dua rakaat. Walaupun mungkin untuk itu berkeliling dengan suatu maksud untuk mencari tempat bersimpuh yang cocok, namun tetap saja jikalau Ibnu Umar baru sampai di tempat itu, ia akan membawa untanya berputar dua kali kemudian baru bersimpuh, dan setelah itu ia shalat dua rakaat, sehingga persis dengan perbuatan Rasulullah yang ia lihat.

Begitulah Ibnu Umar. Kecintaannya yang mendalam terhadap Rasulullah membuatnya tidak ingin melewatkan perbuatan-perbuatan yang bisa mendekatkan dirinya dengan yang ia cintai, bisa melakukan sesuatu seperti yang ia cintai lakukan. Itulah manifestasi seorang sahabat kepada sahabatnya yang mulia, Rasulullah.

Ibnu Umar dikenal pula sebagai sahabat yang berperilaku hati-hati. Meskipun kita telah mengetahui betapa kuatnya ia ingin mengikuti suri tauladan Rasulullah, ia sangat jarang menyampaikan hadits Rasulullah kecuali jika ia hafal benar seluruh kata-kata yang diucapkan Rasulullah. Orang-orang semasanya bahkan mengatakan,

“Tak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati agar tidak terselip atau terkurangi sehuruf pun dalam menyampaikan hadits Rasulullah sebagai halnya Ibnu Umar.”

Itulah dia Abdullah bin Umar. Sahabat yang jika kita ringkas hidupnya, sebagaimana ia tuturkan sendiri,

“Saya telah baiat kepada Rasulullah, sampai saat ini saya tak pernah membelot atau ingkar janji. Dan saya tak pernah baiat kepada pengobar fitnah. Tidak pula membangunkan orang Mukmin dari tidurnya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s