KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 19: Abbas bin Abdul Mutthalib

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:)

Suatu ketika di masa pemerintahan Umar, terjadilah kemarau yang begitu panjang. Seluruh negeri ditimpa kekeringan yang parah. Dilakukanlah oleh Umar bersama-sama dengan kaum Muslimin shalat istisqa’ sambil berdoa merendahkan diri di depan Allah agar segera dikirimkan awan yang membawa hujan untuk negeri mereka.

Jikalau kita saat itu berada di sana, kita akan melihat Umar memegang tangan kanan seseorang, diangkatnya ke arah langit sembari berkata,

“Duhai Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan hujan dengan perantaraan Nabi-Mu, pada masa beliau masih berada di antara kami. Duhai Allah, sekarang kami meminta hujan pula dengan perantaraan paman Nabi-Mu, berikanlah hujan kepada kami.”

Belum lagi sempat kaum Muslimin meninggalkan tempat mereka, datanglah hujan tebal dan turunlah hujan yang begitu lebat. Demi menyaksikan itu, para sahabat berkerumun mendatangi orang yang diangkat tangannya tadi oleh Umar. Mereka berseru,

“Selamat kami ucapkan untuk anda, duhai penyedia air minum Haramain.”

Tentunya kita akan bertanya-tanya siapakah orang itu. Kita tentu tahu kapasitas Umar. Khalifah kedua, salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, pembela Islam dengan segala kapasitasnya di awal-awal periode di Mekkah, namun ketika itu ia malah meminta hujan untuk turun kepada Allah dengan perantaraan seseorang. Ah, inilah dia paman Nabi yang mulia, Abbas bin Abdul Mutthalib. Orang yang disebut oleh Rasulullah,

“Inilah orang tuaku yang masih ada.”

Meskipun Abbas adalah paman Nabi, umur mereka hanya terpaut sekitar tiga tahun. Hal ini tentu mengingatkan kita pada paman Nabi yang lain, yang sudah kita simak kisahnya beberapa hari yang lalu, Hamzah. Namun, jika kita menelisik peri kehidupan mereka, akan kita dapati cara memecahkan masalah yang sangat berbeda. Jika Hamzah kita kenal dengan ketajaman pedangnya dalam membela Rasul dan Islam, sementara Abbas akan kita lihat sebagai orang yang membela Islam dengan kecerdikannya.

Oleh karena itulah meskipun ia adalah salah seorang manusia di Mekkah yang masuk ke dalam agama Islam, ia tidak menunjukkan keislamannya secara terbuka, bahkan ia tidak mengikuti hjirahnya Nabi. Ia tetap berdiam di Mekkah. Hal ini dinyatakan oleh Abu Rafi’ pembantu Rasulullah,

“Aku adalah pelayan bagi Abbas bin Abdul Mutthalib, dan waktu itu Islam telah masuk kepada kami, ahli bait, Abbas pun masuk Islam begitu pula Ummul Fadlal dan aku pun juga masuk, hanya Abbas menyembunyikan keislamannya.”

Hal inilah yang menyebabkan ia harus mengikuti perang Badar dengan berada di pihak Quraisy Mekkah. Untuk itulah Rasulullah sampai harus bersabda,

“Sesungguhnya ada beberapa orang dari keluarga Bani Hasyim dan bukan Bani Hasyim yang keluar dipaksa pergi berperang, padahal sebenarnya mereka tidak hendak memerangi kita, oleh sebab itu siapa di antara kamu yang menemukannya, janganlah ia dibunuh. Siapa yang bertemu dengan Abul Bakhtari bin Hisyam bin Harits bin Asad, janganlah membunuhnya. Dan siapa yang bertemu dengan Abbas bin Abdul Mutthalib, jangan membunuhnya karena orang itu dipaksa untuk ikut berperang.”

Itulah dia Abbas, orang yang begitu mendapat istimewa di sisi Rasul. Orang yang Rasulullah ajak untuk menguji kesetiaan orang-orang Madinah yang ingin mengikat janji dengan Rasulullah di Baitul Aqabah. Orang yang begitu dekat dengan Rasulullah di perang Hunain dan berhasil memanggil kembali orang-orang Anshar yang sempat tercerai berai karena kaget dalam menghadapi serangan mendadak musuh saat itu.

Ya, inilah Abbas, sahabat yang juga merupakan paman Nabi. Yang pernah Nabi sampaikan kemuliaan mengenainya sebagai,

“Abbas adalah saudara kandung ayahku. Siapa yang menyakiti Abbas tak ubahnya seperti menyakitiku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s