KisahSahabat · reblog

#lebihdekatdengansahabat 16: Zubair bin Awwam

oleh Muhammad Akhyar

 

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan:).

Sudah setengah bulan Ramadan berlalu, seperti biasa jamaah masjid semakin menyusut ke depan. Namun, saya yakin semangat teman-teman sekalian tentu saja belum juga hilang, malah makin bertambah-tambah. Karena demikianlah hal yang diajarkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang mulia. Makin mendekati akhir Ramadan makin semarak ibadah mereka, makin membuncah-buncah semangat mereka meraup keberkahan Ramadan.

Nah, demi itulah kisah ini akan berlanjut. Kisah perkenalan singkat tentang sahabat Rasulullah. Jika kemarin kita telah menyimak untaian kisah menakjubkan dari Thalhah, hari ini kita akan mencoba menelisik orang yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Thalhah, Zubair.

Ya, jika disebut nama Thalhah, akan disebut pula nama Zubair. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah bahkan pernah berkata,

“Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di dalam surga.”

Memang mereka berdua begitu mirip. Pertumbuhan masa remajanya, kedermawanannya, keteguhan mereka dalam beragama, kekayaannya, dan kegagahberaniannya. Keduanya pun tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasul masuk surga. Keduanya pun termasuk kelompok sahabat ahli musyawarah yang enam, yang diserahi oleh Umar untuk memilih Khalifah sepeninggalnya. Bahkan akhir hayat mereka pun sama, yaitu gugur di perang Jamal. Perang yang awalnya mereka berada di pihak yang bertentangan dengan Ali, Khalifah saat itu, namun kemudian berbalik berada di pihak Ali karena mereka akhirnya menemukan kebenaran memang berada di pihak Ali.

Jika kita melihat kisah Zubair di awal kehadiran Islam di Mekkah, ada cerita mengharukan yang ia lakukan karena suatu ketika terdengar kabar bahwa Rasulullah telah dibunuh. Demi mendengar kabar itu Zubair langsung menghunus pedang dan mengacungkannya, lalu ia berjalan di jalan-jalan kota Mekkah laksana tiupan angin padahal kala itu ia masih begitu muda. Ia pergi meneliti berita tersebut dengan tekad jika ternyata benar, niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang Quraisy, sehingga ia mengalahkan mereka, atau mereka yang menewaskannya.

Kemudian setelah upaya yang ia lakukan itu, di ketinggian kota Mekkah, Rasulullah menemukannya, lalu bertanya akan maksudnya. Zubair menyampaikan berita tersebut dan menyatakan apa yang telah ia lakukan. Setelah mendengar keterangan itu, Rasulullah langsung memohonkan bahagia dan mendoakan kebaikan baginya serta keampuhan bagi pedangnya.

Dan memang keberanian Zubair tiada duanya. Ia tak pernah ketinggalan dalam perang bersama Rasulullah. Dan karena inilah di tubuhnya dimeriahi bekas-bekas perjuangannya itu. seorang sahabat pernah berujar tentang ini,

“Aku pernah menemani Zubair ibnul Awwam pada sebagian perjalanan dan aku melihat tubuhnya, aku saksikan banyak sekali bekas luka goresan pedang, sedang di dadanya terdapat seperti mata air yang dalam, menunjukkan bekas tusukan lembing dan anak panah. Lalu kukatakan padanya, ‘Demi Allah, telah kusaksikan sendiri pada tubuhmu apa yang belum pernah kulihat pada orang lain sedikit pun.’ Mendengar hal ini Zubair pun menjawab, ‘Demi Allah, semua luka-luka itu kudapat bersama Rasulullah pada peperangan di jalan Allah’.”

Inilah Zubair. Orang yang begitu mendambakan pertemuan dengan kesyahidan. Ia bahkan tak pernah memerintah satu daerah pun, tidak pula mengumpul pajak atau cukai, pendeknya tak ada jabatannya yang lain kecuali berperang di jalan Allah. Mengenai hal ini Zubair pernah berujar,

“Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal sudah sama diketahui bahwa tiada nabi sepeninggal Muhammad. Aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada, semoga mereka berjuan mengikuti para syuhada.”

Inilah dia Zubair. Orang yang ketika wafatnya, diberi salam penghormatan oleh Ali,

“Selamat dan bahagia bagi Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan hidupnya. Selamat, kemudian selamat kita ucapkan kepada pembela Rasulullah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s