Harta Karun · Hikmah · reblog

Prestasi

oleh Lanina Lathifa

Kitab biografi Khadijah dan ‘Aisyah (radhiyallaahu ‘anhuma) lebih tebal mana?

Ternyata lebih tebal biografi ‘Aisyah.

Mengapa? (1)

Karena, sejarah (dalam hal ini adalah peran ulama’) telah merekam jejak dan karya ‘Aisyah dalam ranah ilmiah memang sangat banyak.

Mengapa? (2)

Karena…

Rasulullaah wafat di saat beliau masih berusia 18 tahun. Beliau masih sangat belia, dan kala itu belum dikaruniai buah hati. Yap, bersama ‘Aisyah, Rasulullaah memang tak dianugerahi keturunan –dan itu tak mengurangi kemuliaan beliau sebagai Ummahatul Mukminin–

Di tengah “kesendiriannya”, apakah kemudian beliau larut dalam kegalauan hebat?

Ternyata tidak.

‘Aisyah memilih untuk fokus berkarya, mewariskan prasasti ilmiah yang diwariskan oleh suaminya sendiri; Rasulullaah. Beliau berkhidmat menjadi oase kedua bagi masyarakat di sekitarnya, melalui karya-karya ilmiah. Maka tak heran, ibunda ‘Aisyah pun mampu mengukir prestasi sebagai satu-satunya perempuan yang menduduki posisi keempat dalam jajaran “The Big Seven Perawi Hadits Terbanyak”.

(Ummu Salamah termasuk istri yang juga banyak meriwayatkan hadits Nabi, namun tak sebanyak ‘Aisyah –dan itu tak mengurangi kemuliaan beliau sebagai Ummahatul Mukminin–)

Maka kemudian, karena prestasi ilmiah beliau inilah yang membuat biografinya terhimpun lebih kompleks dibanding Khadijah. Padahal Khadijah pernah disebut Rasulullaah sebagai sebaik-baik wanita ahli surga. Hal ini sampai pernah membuat ‘Aisyah cemburu.

Nah jadi, mengapa? (3)

Mengapa kisah Khadijah tak setebal kisah ‘Aisyah?

Karena…

Karya dan prestasi beliau adalah fokus mendidik anak.


Nah jadi…

Kemuliaan seorang perempuan itu memang tak pernah diukur dari sehebat apa ia berkarir. Khadijah dan ‘Aisyah, keduanya adalah perempuan istimewa di bawah didikan lelaki istimewa pula. Entah menjadi seorang ibu ataukah istri (karena belum dianugerahi buah hati), keshalihannya tetap memancar kuat.

Dalam Al-Qur’an pun, peran wanita setidaknya terbagi menjadi 3 (lebih lengkapnya in syaa Allaah disambung di kuliah 3 atau seterusnya), yaitu:

1. Sebagai pribadi muslimah – lajang (yang sepenuhnya masih menjadi “milik orangtuanya), maka dia pun memiliki kewajiban untuk fokus berbakti kepadanya.

2. Sebagai seorang istri (ternyata porsi inilah yang prosentasenya disebutkan paling banyak di dalam Al-Qur’an) – fokus mengupayakan keridhaan suami.

3. Sebagai seorang ibu (prosentase terbesar kedua) – fokus mendidik anak.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita memahami esensi peran kita sebagai muslimah, sebagai hamba Allah.

“Setiap upaya kesungguhan untuk mendapatkan ridha-Nya, pasti akan menuai ujian dimana-mana – bagaimanapun bentuknya. Tugas kita bukan menghindar atau mencari-cari alasan, namun menguatkan kesabaran.”

Sebagai apapun kita kelak, wanita shalihah akan tetap istimewa. Mari mulai berbenah. 🙂

–Tulisan ini disarikan dari materi Ust. Budi Ashari, Lc dalam Stadium General Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah di Semarang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s