KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 9: Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah

oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Kemarin kita telah mengintip kisah seorang sahabat mulia yang bernama ‘Ammar. Sahabat yang oleh Rasulullah disebut sebagai matanya sendiri, karena sayangnya Rasulullah terhadapnya. Hari ini kita akan berkenalan dengan sahabat yang juga merupakan kesayangan Rasulullah. Kita akan memulai kisah kali ini dengan adanya kedatangan perutusan Najran dari Yaman yang menyatakan keislamannya dan meminta kepada Nabi agar dikirim bersama mereka seorang guru untuk mengajarkan Al Quran dan sunah Nabi serta seluk-beluk agama Islam. Demi menanggapi hal ini, Rasulullah pun berkata,

“Baiklah akan saya kirim bersama tuan-tuan seorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.”

Tentu saja sahabat-sahabat yang mendengar pujian tersebut berharap agar pilihan itu jatuh kepada diri mereka. Kalimat fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, memang sudah melekat kuat di pembuluh darah mereka. Dalam hal ini, bahkan Umar pun berharap itu dia. Berikut penuturan beliau:

“Aku tak pernah berangan-angan menjadi amir, tetapi ketika itu aku tertarik oleh ucapan beliau dan mengharapkan yang dimaksud itu adalah aku. Aku cepat-cepat berangkat untuk salat zuhur. Dan tatkala Rasulullah selesai mengimami kami salat, beliau memberi salam, lalu menoleh ke sebelah kanan dan kiri. Saya pun mengulurkan badan agar kelihatan oleh beliau. Tetapi ia masih juga melayangkan pandangannya mencari-cari, hingga akhirnya tampaklah Abu ‘Ubaidah, dipanggilnyalah lalu sabdanya, ‘Pergilah berangkat bersama mereka dan selesaikanlah apabila terjadi perselisihan di antara mereka dengan haq!’ Abu ‘Ubaidah pun berangkatlah bersama orang-orang itu.”

Itulah dia Abu ‘Ubaidah. Orang yang dijuluki Rasulullah sebagai kepercayaan umat. Sahabat yang dikirim oleh Nabi ke medan tempur Dzatus Salasil sebagai bantuan bagi Amar bin ‘Ash. Kala itu ia didaulat sebagai panglima, sementara di dalam pasukan itu ada sahabat sekaliber Abu Bakar dan Umar.

Inilah dia Abu ‘Ubaidah. Orang yang ketika menjabat sebagai wali negeri Syria di masa kekhalifahan Umar tidak memiliki perabot apapun di rumahnya kecuali pedang, tameng, dan pelana kendaraannya. Seorang sahabat yang disebut oleh Umar ketika ia hendak menghembuskan nafas terakhir sebagai berikut:

“Seandainya Abu ‘Ubadaidah ibnul Jarrah masih hidup, tentulah ia di antara orang-orang yang akan saya angkat sebagai penggantiku. Dan jika Tuhanku menanyakan hal itu tentulah akan saya jawab, ‘Saya angkat kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya’.”

Tentu saja ketika kita mengamati sosoknya yang tinggi, kurus, dan tipis jenggotnya kita tentu tidak akan menyangka ia adalah orang yang begitu dipuji oleh Rasulullah sebagai orang yang terpercaya. Oh, tunggu jika kita perhatikan lebih dekat, kita akan menyaksikan, sahabat yang mulia ini ompong karena patah dua gigi mukanya. Aduhai, apa gerangan yang menyebabkan itu? Inilah prasasti yang didapat Abu ‘Ubaidah di perang Uhud, perang yang membuktikan bahwa kualitasnya memang sesuai seperti apa yang dikatakan Rasulullah. Mari kita simak penuturan saksi mata saat itu, Abu Bakar.

“Di waktu perang Uhud, Rasulullah ditimpa anak panah hingga dua buah rantai ketopong masuk ke dalam dua belah pipi bagian atasnya. Saya segera berlari mendapatkan Rasulullah. Kiranya ada seorang yang datang bagaikan terbang dari Timur, lalu aku berkata ‘Ya Allah semoga itu merupakan pertolongan.’ Dan tatkala kami sampai kepada Rasulullah, ternyata orang itu adalah Abu ‘Ubaidah yang telah mendahuluiku ke sana, serta katanya ‘Atas nama Allah, saya minta kepada anda duhai Abu Bakar, agar saya dibiarkan mencabutnya dari pipi Rasulullah’ Saya pun membiarkannya, lalu dengan gigi mukanya Abu ‘Ubaidah mencabut salah satu mata rantai baju besi penutup kepala beliau hingga ia terjatuh ke tanah, dan bersamaan dengan itu jatuhlah sebuah gigi Abu ‘Ubaidah. Kemudian ditariknya pula mata rantai yang kedua dengan giginya  yang lain hingga tercabut, menyebabkan Abu ‘Ubaidah tampak di hadapan orang banyak bergigi ompong.”

Inilah Abu ‘Ubaidah, orang yang begitu sedih melihat darah mengalir dari wajah mulia, Rasulullah saw. Ia berseru kala itu,

“Bagaimana mungkin berbahagia suatu kaum yang mencemari wajah Nabi mereka, padahal ia menyerunya kepada Tuhan mereka.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s