KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 8: ‘Ammar bin Yasir

by Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Bagaimana aktivitas Ramadan teman-teman semuanya? Wah, pasti makin semangat ya. Hari ini kita akan melanjutkan perjalanan ke sahabat berikutnya. Semoga usai mengamati jejak hidup sahabat yang satu ini kita akan semakin paham makna ayat ke kedua dari surat Al Ankabut:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ‘Kami telah beriman’, padahal mereka belum lagi diuji.”

Ayat ini merupakan manifestasi terhadap apa yang terjadi pada sahabat yang bernama ‘Ammar bin Yasir. ‘Ammar bersama kedua orang tuanya Yasir dan Sumayyah adalah contoh betapa keras ikhtiar yang harus dilakukan untuk mempertahankan apa yang disebut dengan keimanan itu. Mereka adalah salah satu dari sedikit orang yang sudah menerima ajaran di Islam di masa-masa awal kenabian. Konsekuensi dari keislaman mereka ini adalah penyiksaan yang dilakukan orang-orang Quraisy di Mekkah.

Pada saat itu kaum Quraisy menjalankan dua metode untuk membawa kembali orang-orang yang sudah beriman ke dalam pelukan kepercayaan jahiliyah: pertama, kepada golongan yang kaya akan dihadapkan pada ancaman dan gertakan, kedua, kepada golongan miskin akan diberikan dera dan sulutan api yang menyala. Dan, teman-teman sekalian keluarga Yasir yang mulia ini adalah termasuk golongan kedua.

Sungguh tak terbayangkan dan tak terceritakan bagaimana siksaan yang didapatkan oleh keluarga ini. Demi melihat ini Rasulullah tak pernah lupa untuk menjenguk mereka. Setiap kali ia melihat keluarga Yasir selalu timbul kekaguman akan ketabahan mereka, sementara di waktu yang bersamaan hatinya yang mulia serasa hancur berkeping menyaksikan siksa yang terperi itu.

Pada satu hari ‘Ammar memanggil Rasulullah dalam suatu kunjungannya,

“Duhai Rasulullah, azab yang kami derita telah sampai ke puncak.”

Lalu Rasulullah pun berkata,

“Sabarlah duhai Abal Yaqdhan, sabarlah duhai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah surga.”

Suatu ketika karena tak tahannya lagi pada beratnya siksaan yang ia alami, tanpa sadar ‘Ammar mengikuti permintaan para penyiksanya untuk menyebut nama-nama tuhan mereka. ketika ia sadar teringatlah ia apa yang telah terjadi. Sungguh gaduh perasaannya, telah terbayang di pelupuk matanya dosa besar yang telah ia lakukan. Jiwanya melemah. Dan di sinilah kemuliaan sahabat ini ditampakkan. Allah langsung menjawab kegalauannya itu.

Ketika Rasulullah menemuinya, ia masih dalam keadaan menangis, disapulah oleh Rasulullah tangisnya itu dan beliau bersabda,

“Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?

‘Ammar menjawab sambil meratap,

“Benar, duhai Rasulullah.”

Rasulullah pun bersabda,

“Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi.”

Beliau pun membacakan kepada ‘Ammar ayat 106 dari surat An Nahl berikut:

“Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan.”

Tenanglah ‘Ammar mendengar penuturan Rasulullah ini. Begitulah sahabat Rasulullah yang mulia ini, penyiksaan tidak lagi membuatnya merasa gentar, tetapi penyiksaan itu dianggapnya sebagai suatu ujian pada keimanannya. Tak heran, deraan siksa yang begitu kejam ini membentuk jiwa yang terpuji pada diri ‘Ammar. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah dengan,

“Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya.”

Hal ini diperkuat pula oleh Hudzaifah, seorang sahabat yang pakar dalam masalah kemunafikan, ketika ditanya oleh orang-orang mengenai siapa yang harus diikuti jika terjadi pertikaian di antara ummat. Sambil mengucapkan kata-kata yang akhir, karena pada saat itu adalah menjelang ia dipanggil oleh Allah,

“Ikutilah oleh kalian Ibnu Sumayyah, karena sampai matinya ia tak hendak berpisah dengan kebenaran.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s