KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 14: Abu Darda’

Oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Jika dalam beberapa hari terakhir ini kita telah menyimak sahabat-sahabat yang merupakan para panglima perang Rasulullah, hari ini kita akan berkenalan dengan sahabat yang memiliki jalan hidup yang agak berbeda. Sahabat kali ini dikenal sebagai ahli hikmah, orang yang mengagungkan pikiran, sekaligus manusia zuhud yang melakoni praktik yang kita kenal sekarang dengan tasawuf. Ya, ialah Abu Darda’.

Oh, tapi anda tak bisa membayangkan sahabat Rasulullah ini adalah seorang yang tak berpunya, anda juga tak boleh membayangkan ia hanya berzikir pagi hingga malam. Tidak teman, Abu Darda’ tidaklah seperti itu. Mari kita dengar kalimat yang senantiasa ia ucapkan kepada masyarakat Madinah,

“Maukah kamu sekalian aku kabarkan amalan-amalan yang terbaik, amalan-amalan yang terbersih di sisi Allah dan paling meninggikan derajat anda, lebih baik daripada memerangi musih dengan menghantam batang leher mereka, lalu mereka pun menebas batang leher anda, dan malah lebih baik dari emas dan perak.”

Demi mendengar seruan itu, mereka yang mendengar akan langsung bertanya,

“Apakah itu duhai Abu Darda’?”

Abu Darda’ akan menunjukkan wajah berseri-seri, kemudian berkata,

“Mengingat Allah dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih utama.”

Namun, tidak lantas dengan mengucapkan ini, Abu Darda’ tidak pernah ikut berjuang bersama Rasulullah. Tidak, jika anda berpikir seperti itu anda salah besar. Abu Darda’ adalah sahabat Rasulullah yang senantiasa ikut berjihad dalam mempertahankan agama bersama Rasulullah hingga sampai kemenangan kaum Muslimin merebut kota Mekkah.

Abu Darda’ memang adalah orang yang senang menjalani hidup yang sederhana, jauh dari kebisingan dunia, bahkan ia adalah orang yang gemar melakukan perenungan, mencari hakikat kehidupan. Hal ini dapat kita ketahui ketika ibunya ditanya oleh orang, tentang amal apa yang sangat disenangi Abu Darda’, ia akan menjawab,

“Tafakur dan mencari i’tibar atau pelajaran.”

Namun, sekali lagi, kita tak boleh buru-buru mengambil kesimpulan, ia melakoni hal ini karena memang dunia menjauhinya, ia memang tak berharta, tidak memiliki pekerjaan yang layak. Untuk jelasnya mari kita simak penuturan beliau,

“Aku mengislamkan diriku kepada Nabi saw. sewaktu aku menjadi saudagar. Keinginanku agar ibadah dan perniagaanku dapat berhimpun pada diriku jadi satu, tetapi hal itu tidak berhasil. Lalu aku kesampingkan perniagaan, dan menghadapkan diri kepada ibadah. Dan aku tidak akan merasa gembira sedikit pun jika sekarang aku berjual beli dan beruntung setiap harinya tiga ratus dinar, sekalipun tokuku itu terletak di muka pintu mesjid.

Perhatikan, aku tidak menyatakan kepada kalian bahwa Allah mengharamkan jual beli. Hanya aku pribadi lebih menyukai agar aku termasuk ke dalam golongan orang yang perniagaan dan jual beli itu tidak melalaikannya daripada zikir kepada Allah.”

Kita lihat kalimat-kalimat beliau tadi. Betapa ia telah menempatkan semua pada posisinya. Ia menunjukkan kepada kita semua ada tujuan tertinggi dari kehidupan ini yang hendak dicapainya, karena hal inilah ia meninggalkan perniagaan meskipun ia beroleh kesuksesan di sana.

Ia adalah orang yang begitu takzim dan mengerti benar surat al Humazah ayat 2 hingga 3 yang berbunyi,

“Orang yang mengumpu-ngumpul harta dan menghitung-hitungnya… disangkanya hartanya dapat mengekalkannya.”

Ia pun begitu begitu terpesona dengan kata-kata mulia dari Rasulullah,

“Yang sedikit mencukupi, lebih baik dari yang banyak membawa rugi.”

Oleh karena itulah ia seringkali menangisi mereka yang jatuh menjadi tawanan harta dan berkata,

“Oh Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang bercabang-cabang.”

Ia ditanya oleh sebagian orang,

“Dan apakah pula hati yang bercabang-cabang itu duhai Abu Darda’?”

Ia pun menjawab,

“Memiliki harta di setiap lembah.”

Begitulah Abu Darda’ melihat hidup. Ia adalah sahabat penjaga kezuhudan dalam pemerintahan Islam di Syria ketika Utsman, khalifah saat itu, memintanya menjadi hakim di sana. Inilah dia Abu Darda’ yang begitu tajam pemikirannya, begitu jernih logikanya, begitu dalam perenungannya. Ia adalah orang yang tidak akan mencela manusia yang telah berbuat dosa. Ia menganggap orang yang berdosa itu ibarat orang yang sedang terperosok ke dalam lubang, tugas kita bukanlah menyalah-nyalahkannya, tetapi menolongnya untuk keluar dari lubang itu.

Dan inilah Abu Darda. Orang yang begitu takut berbuat aniaya,

“Aku benci menganiaya seseorang, dan aku lebih benci lagi jika sampai menganiaya seseorang yang tidak mampu meminta pertolongan dari perbuatanku, kecuali kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s