KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 13: Khalid ibnul Walid

Oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Kemarin kita telah menyimak tuturan mulia dari Rasulullah tentang gugurnya tiga panglima perang kaum Muslimin di perang Mu’tah. Lalu, tentu saja kita akan bertanya-tanya tentang akhir dari perjuangan pasukan Islam di Mu’tah dalam menghadapi pasukan Romawi. Ah, ternyata Rasulullah belum selesai berkata-kata, mari kita dengan ujaran beliau,

“Kemudian panji itu pun diambil alih oleh suatu pedang dari pedang Allah, lalu Allah membukakan kemenangan di tanganya.”

Orang yang disebut Rasulullah sebagai pedang Allah itu tentu saja sahabat yang mulia Khalid ibnul Walid. Untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, mari kita melompat dari Madinah tempat Rasulullah mengucapkan ujaran mulianya tadi menuju medan laga di Mu’tah. Setelah panglima ketiga menemui panggilan Allah, dengan cepat Tsabit bin Arqam menuju bendera perang tersebut, lalu membawanya dengan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan Islam agar barisan mereka tidak kacau balau dan semangat mereka tetap tinggi. Kemudian, dengan gesit ia pacu kudanya ke arah Khalid, sembari berkata,

“Peganglah panji ini, duhai Abu Sulaiman.”

Khalid yang merasa dirinya baru saja masuk Islam, tidak layak memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat orang-orang Anshar dan Muhajirin, yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam Islam ketimbang dirinya. Ia menjawab,

“Tidak, tak usah aku yang memegang panji, andalah yang berhak memegangnya, anda lebih tua dan telah menyertai perang Badar.”

Tsabit langsung menukas,

“Ambillah, sebab anda lebih tahu muslihat perang dari aku dan demi Allah aku tak akan mengambilnya kecuali untuk diserahkan kepada anda.”

Lalu ia pun berseru kepada seluruh pasukan Muslim,

“Bersediakah kamu sekalian di bawah pimpinan Khalid?”

Dan kala itu pasukan Muslim menjawab bahwa mereka setuju dipimpin Khalid. Khalid pun dengan pengalamannya yang luar biasa di medan tempur berhasil membawa kembali sisa-sisa pasukan Muslim dan menghindarkannya dari kehancuran total.

Inilah dia Khalid. Orang yang dulu dikenal sebagai pembunuh kejam. Orang yang menggetarkan kaum Muslimin dalam perang Uhud. Namun, kini segala usahanya hanya dinisbatkan kepada kejayaan agama. Bagaimanakah awal perubahan yang luar biasa ini, tentu menjadi tanda tanya di kepala kita. Dan perubahan itu bermula dari dialog dengan dirinya sendiri yang mulai bertanya-tanya, benarkah kiranya apa yang dibawa oleh Muhammad. Pertanyaan-pertanyaan yang merisaukannya itu akhirnya terhenti pada keyakinannya pada Islam. Ketika dia sudah yakin dengan keputusan akal sehatnya itu, ia pun berangkatlah ke Madinah.

“Aku menginginkan seseorang yang akan menjadi teman seperjalanan, lalu kujumpai Utsman bin Thalhah, kuceritakan kepadanya apa maksudku, dan ia pun segera menyetujuinya. Kami ke luar berangkat bersama-sama di waktu siang. Sewaktu kami sampai di suatu dataran tinggi, tiba-tiba kami bertemu dengan ’Amr bin ‘Ash.

Ia mengucapkan salam dan kami membalasnya. Kemudian ia bertanya, ‘Mau ke mana tuan-tuan ini?’ Kami pun menceritakan maksud kami, ia balik memberitakan maksudnya hendak menjumpai Nabi pula, ia pun hendak masuk Islam.

Berangkatlah kami bersama hingga sampai di Madinah di awal bulan Safar tahun kedelapan Hijriyah. Di kala aku telah dekat dengan Rasulullah aku segera memberi salam kenabiannya. Nabi pun membalas salamku dengan muka yang cerah. Aku pun masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang haq.

Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Sungguh aku telah mengetahui bahwa anda mempunyai akal sehat dan aku mengharap akal sehat itu hanya akan menuntun anda kepada jalan yang baik.’ Aku berjanji setia kepada Rasulullah, lalu kataku, ‘Mohon anda mintakan ampun untukku terhadap semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah.’

Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya keislaman itu telah menghapuskan segala perbuatan yang lampau.’

Kataku pula, ‘Sekalipun demikian duhai Rasulullah.’

Lalu ia pun berdoa, ‘Ya Allah, aku mohon engkau ampuni dosa Khalid ibnul Walid terhadap tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu.’

Sesudah itu datang pula ‘Amr bin ‘Ash, kemudian Utsman bin Thalhah keduanya sama-sama memeluk Islam dan berjanji setia kepada Rasulullah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s