KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 12: Abdullah ibnu Rawahah

Oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Setelah sebelumnya kita berkenalan dengan dua panglima pertama yang diangkat Nabi untuk perang Mu’tah, sekarang giliran panglima ketiga yang akan kita telusuri hidupnya. Jika teman-teman masih ingat tentu kalian akan cepat menyebut nama sahabat ini. Ya, ialah Abdullah ibnu Rawahah. Orang yang menggantikan untuk menjadi panglima kaum Muslimin ketika Ja’far gugur di medan tempur itu.

Tentu di antara teman-teman ada yang bertanya-tanya, siapakah sahabat yang satu ini, dari manakah ia berasal, apa keutamaannya. Baiklah kita akan sedikit melompat dari perang Mu’tah kembali ke masa-masa awal kenabian di Mekkah. Waktu itu Rasulullah sedang duduk di suatu tempat di dataran tinggi Mekkah, menghadapi para utusan yang datang dari Madinah dengan sembunyi-sembunyi. Inilah dia dua belas orang yang mulia itu, utusan kelompok yang di kemudian hari kita kenal sebagai kaum Anshar, kaum penolong Rasul. Saat itu mereka sedang dibaiat, diambil sumpah setianya oleh Rasulullah. Peristiwa ini kita kenal sebagai Baiatul Aqabah Ula. Jika kita jeli melihat kedua belas orang itu, kita akan tahu, satu di antaranya adalah Abdullah ibnu Rawahah.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka dengan kepandaian tulis baca. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang penyair yang ulung. Syair-syairnya indah dan begitu kuat. Rasulullah sendiri sangat menyukai lantunan syair yang biasa disampaikan oleh Ibnu Rawahah. Sampai suatu ketika, ia amat berduka karena turunnya ayat 224 surat asy-Syu’ara,

“Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat.”

Akan tetapi dukanya tak terlampau lama, Allah kemudian menghiburnya dengan ayat 227 dalam surat yang sama,

“Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak ingat kepada Allah dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya.”

Hingga akhirnya sampailah kita kembali ke medan tempur Mu’tah. Sahabat yang satu ini pun serta di dalamnya, bahkan ia adalah panglima ketiga di perang tersebut. Dalam pasukan itu ia senantiasa melantunkan syair-syair ciptaannya untuk memberi semangat kepada pasukan Muslimin,

“Duhai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati jua.”

Akhirnya, saat-saat itu pun tiba, demi melihat banyaknya tentara Romawi kala itu sementara jumlah mereka begitu sedikit, beberapa sahabat agak ragu kemudian memberi usul untuk mengirim utusan kepada Rasulullah dengan harapan akan mendapatkan tambahan bantuan. Di kala situasi seperti inilah, penyair Rasulullah ini muncul kemudian ia berujar,

“Sahabat-sahabat sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasarkan bilangan, kekuatan, atau banyaknya jumlah. Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah. Ayolah kita maju. Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah.”

Demi mendengar itu bersoraklah kaum Muslimin,

“Sungguh demi Allah, benar yang dikatakan Ibnu Rawahah.”

Sementara itu, jauh di Madinah, selagi pertempuran sedang sengit terjadi di Mu’tah, Rasulullah sedang terlihat duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba di tengah percapakan yang awalnya berjalan tenang, Nabi terdiam, kedua matanya yang mulia basah berkaca-kaca. Ia pandangi para sahabatnya dengan pandangan haru, kemudian ia berkata,

“Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula.“

Beliau terdiam sebentar, lalu kemudian ia teruskan,

“Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah ibnu Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia pun syahid pula.”

Kemudian setelah itu Rasulullah diam seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketenteraman, dan kerinduang, lalu ia berujar,

“Mereka bertiga telah diangkatkan ke tempatku ke surga.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s