KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 11: Ja’far bin Abi Thalib

Oleh Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Kemarin kita sudah sama-sama menyimak sedikit kisah tentang sahabat Rasulullah dan juga anak angkat beliau, Zaid. Sahabat yang kisah perceraiannya menjadi sebab turunnya ayat 40 dari surat Al Ahzab,

“Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. Tetapi ia adalah Rasul Allah dan Nabi penutup.”

karena kemudian Rasulullah menikahi jandanya Zaid. Hal menarik ini bisa teman-teman telusuri pada buku-buku sirah Rasulullah yang begitu banyak di luar sana.

Kemarin juga kita telah mengetahui bahwa Rasulullah mengangkat Zaid sebagai panglima pertama di perang Mu’tah. Hari ini kita menelisik sedikit orang yang Rasulullah amanahkan menjadi panglima seandainya Zaid wafat di medan tempur itu, orang itu adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dan takdir Ja’far bin Abi Thalib pun pada akhirnya mirip dengan Zaid, gugur di perang yang sama. Beginilah kesaksian Abdullah bin Umar saat melihat jenazah Ja’far,

“Aku sama-sama terjun di perang Mu’tah dengan Ja’far. Waktu kami mencarinya, kami dapati ia beroleh luka-luka bekas tusukan dan lemparan lebih dari 90 tempat.”

Jika kita hidup di zaman Rasulullah masih ada, kita akan tersadar bahkan akan tercengang, bahwa wujud tubuh dan budi pekerti Ja’far bin Abi Thalib sungguh-sungguh mirip dengan Rasulullah. Ia pula sahabat yang diberi gelar “Si Bersayap dua di surga” dan “Si Burung Surga” karena pada saat ia gugur Rasulullah bersabda,

“Aku telah melihatnya di surga, kedua bahunya yang penuh bekas-bekas kucuran darah penuh dihiasi dengan tanda-tanda kehormatan.”

Kedahsyatan Ja’far tidak sekadar di medan perang, kisah kelihaiannya beretorika di depan Negus, sang penguasa Ethiopia tak kurang hebatnya. Untuk mengintip apa yang terjadi pada saat itu, kita akan kembali beberapa tahun ke belakang.

Pada saat itu kondisi Mekkah sungguh tidak kondusif untuk bertahan hidup karena sangat intimidatif terhadap kaum Muslimin. Demi melihat hal ini Rasulullah kemudian meminta sahabat untuk hijrah ke Ethiopia atau kala itu dikenal dengan Habsyi.. Salah satu dari sahabat itu adalah Ja’far. Selama tinggal di sana, Ja’far yang tampil menjadi juru bicara yang lancar dan sopan, serta cocok menyandang nama Islam dan utusannya. Dialog dengan Negus terjadi bukan karena Negus adalah Raja yang senang mempersulit manusia, melainkan karena adanya utusan Quraisy yang meminta Negus untuk mengusir orang-orang Muslim yang telah hijrah ke sana.

Namun, Negus sebagai raja yang adil, memiliki iman Nasrani yang murni, tentu saja tidak mudah untuk dihasut seperti ini. Ia mengundang kedua belah pihak untuk berdialog. Untuk kemudian ia putuskan kebijakan yang tepat. Mari kita dengar apa yang disampaikan oleh utusan Quraisy,

“Baginda Raja yang mulia. Telah menyasar ke negeri paduka orang-orang bodoh dan tolol. Mereka meninggalkan agama nenek moyang mereka, tetapi tidak pula hendak memasuki agama paduka. Bahkan, mereka datang dengan membawa agama baru yang mereka ada-adakan, yang tak pernah kami kenal, dan tidak pula oleh paduka. Sungguh, kami telah diutus oleh orang-orang mulia dan terpandang di antara bangsa dan bapak-bapak mereka, paman-paman mereka, keluarga-keluarga mereka, agar paduka sudi mengembalikan orang-orang ini kepada kaumnya kembali.”

Negus memalingkan mukanya ke arah kaum Muslimin sambil melontarkan pertanyaan,

“Agama apakah itu yang menyebabkan kalian meninggalkan bangsa kalian, tetapi tak memandang perlu pula kepada agama kami?”

Ja’far pun bangkit berdiri, untuk menunaikan tugas yang telah dibebankan oleh kawan-kawannya sesama Muhajirin. Beginilah penuturan beliau,

“Duhai paduka yang mulia. Dahulu kami memang orang-orang jahil lagi bodoh, kami sembah berhala, memakan bangkai, melakukan pekerjaan-pekerjaan keji, memutuskan silaturrahim, menyakiti tetangga dan orang yang berhampiran. Yang kuat waktu itu memakan yang lemah. Hingga datanglah masanya Allah mengirimkan Rasul-Nya kepada kami dari kalangan kami. Kami kenal asal-usulnya, kejujurannya, ketulusan dan kemuliaan jiwanya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan mengabdikan diri pada-Nya dan agar membuang jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dahulu, berupa batu-batu dan berhala. Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan amanah, menghubungkan silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari menumpahkan darah serta semua yang dilarang Allah.

Dilarangnya kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadap wanita yang baik. Lalu kami benarkan dia dan kami beriman kepadanya, dan kami ikuti dengan taat apa yang disampaikan dari Tuhannya. Lalu kami beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikit pun juga, dan kami haramkan apa yang diharamkan-Nya kepada kami, dan kami halalkan apa yang dihalalkan-Nya untuk kami. Karenanya kaum kami memusuhi kami, dan menggoda kami dari agama kami, agar kami kembali menyembah berhala lagi, dan kepada perbuatan-perbuatan jahat yang pernah kami lakukan dulu. Sewaktu mereka memaksa dan menganiaya kami, menghalangi kami dari agama kami, kami keluar hijrah ke negeri paduka, dengan harapan akan mendapatkan perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan aniaya mereka.”

Kata-kata Ja’far menerbitkan haru di hati Negus yang mulia, kemudian ia bertanya,

“Adakah anda ada membawa sesuatu (wahyu) yang diturunkan atas Rasulmu itu?”

Ja’far pun menjawab bahwa wahyu itu ada. Negus pun memintanya untuk membacakan wahyu itu. Saat inilah kita melihat betapa bersihnya pikiran Ja’far. Ia memilih untuk membacakan surat Maryam dengan irama yang menciptakan kekhusyukan di tempat itu. Mendengar surat Maryam itu, Negus, pendeta, dan pembesar-pembesar agama lainnya tak terkecuali, semuanya meneteskan air mata. Saat tangisannya berhenti, Negus berpaling kepada utusan Quraisy,

“Sesungguhnya apa yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa sama memancar dari satu pelita. Kamu keduanya dipersilahkan pergi. Demi Allah kami tak akan menyerahkan mereka kepada kamu.”

Pertemuan ini tampaknya telah usai, tetapi tidak bagi utusan Quraisy. Mereka ternyata datang lagi pada keesokan harinya menghadap Negus, kemudian berkata,

“Duhai Sri Paduka. Orang-orang Islam itu telah mengucapkan suatu ucapan keji yang merendahkan kedudukan Isa.”

Demi mendengar ini, Negus dan para pendeta cukup terguncang. Mereka kemudian memanggil kembali orang-orang Islam untuk ditanyakan bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang Isa al-Masih. Kaum Muslimin kemudian duduk berunding dan akhirnya memperoleh kesepakatan untuk menyatakan yang haq saja, sebagaimana yang mereka dengar dari Nabi mereka. mereka tak hendak menyimpang serambut pun daripadanya. Ujung dari semua ini mereka serahkan hanya kepada keputusan Allah saja.

Kemudian untuk menjawab pertanyaan ini, Ja’far kembali maju berdiri,

“Kami akan mengatakan tentang Isa sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami Muhammad bahwa: ‘Ia adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimah-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Marya dan ruh daripada-Nya.’“

Mendengar hal itu, Negus bertepuk tangan tanda setuju. Ia mengatakan memang begitulah yang dikatakan al-Masih tentang dirinya. Namun, tentu saja barisan pembesar agama hiruk-pikuk mendengar pernyataan ini, seolah menunjukkan ketidaksetujuan mereka. Negus kemudian melanjutkan perkataannya,

“Silahkan anda sekalian tinggal bebas di negeriku. Dan siapa berani mencela dan menyakiti anda, orang itu akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu.”

Itulah kisah Ja’far di Habsyi. Sahabat yang ketika ia hadir di Medinah setelah bermukim lama di Habsyi untuk menyusul Rasulullah, disambut oleh Rasulullah dengan ucapan,

“Aku tak tahu, entah mana yang lebih menggembirakanku, apakah dibebaskannya Khaibar atau kembalinya Ja’far.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s