KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 10: Zaid bin Haritsah

oleh: Muhammad Akhyar

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Oh tidak, kita harusnya tak boleh mengatakan “tidak terasa sudah sepertiga saja Ramadan bergulir”. Ramadan haruslah jadi momen yang benar-benar bermakna, tak sekadar harinya, saatnya pun harus dicerap hikmah yang terkandung di dalamnya. Jadi Ramadan haruslah terasa. Ya, Ramadan kita haruslah berasa. Berasa Ramadannya.

Hari ini kita akan melanjutkan kisah lebih dekat dengan sahabat dengan seorang yang bernama Zaid bin Haritsah. Sahabat Rasulullah yang satu ini memiliki kedudukan yang begitu tinggi di mata Rasul. Ada suatu ketika di masa hidupnya, ia dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Ya, orang ini adalah anak angkat Rasulullah. Begitu sayangnya Rasulullah pada anaknya ini sampai-sampai bunda kita, Aisyah berkata:

“Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat Nabi menjadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkat sebagai khalifah.”

Ya, sahabat yang mulia ini memang meninggal dunia mendahului Rasulullah di medan tempur Mu’tah yang begitu terkenal itu. Pertempuran dahsyat itu kaum Muslimin yang baru belajar bertatanegara berhadapan dengan negara tua, Romawi yang berkekuatan 200.000 orang. Jumlah yang sama sekali tak diduga oleh kaum Muslimin saat itu. Namun, Zaid yang diangkat sebagai panglima oleh Rasulullah di perang tersebut benar-benar menginsafi makna dari ayat 111 surat At Taubah,

“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang Mukmin dengan surga sebagai imbalannya.”

Kita tinggalkan dulu medan tempur itu. Mari kita mundur beberapa belas tahun ke belakang. Ah, di tengah padang pasir itu kita lihat seorang laki-laki sedang meratap. Pria itu bernama Haritsah. Ia sedang menangisi putranya yang diculik gerombolan perampok. Dari hari itu tak pernah putus ikhtiarnya untuk mencari putranya, buah hatinya, Zaid.

Sementara, di kota Mekkah anak tadi sudah sampai di tangan ibunda kita tercinta, Khadijah. Ia dibeli oleh keponakan Khadijah di pasar ‘Ukadz. Hingga sampailah pada suatu saat, ketika ibunda kita ini menikah dengan Rasulullah, Zaid diberikannya kepada Rasulullah.

Demi Allah, di dalam diri Rasulullah ada teladan untuk sekalian alam. Zaid saat itu juga dimerdekakan oleh Rasulullah. Tak sekadar itu, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti anak sendiri. Hingga sampailah pada saat mengharukan, yaitu ketika Haritsah dalam pencariannya yang panjang akhirnya sampai di Mekkah. Ia mengetahui bahwa anaknya sedang berada dalam naungan perlindungan, Muhammad Al Amin. Muhammad yang terpercaya. Berkatalah ia setelah bertemu dengan Rasulullah:

“Duhai ibnu Abdil Mutthalib, duhai putra dari pemimpin kaumnya. Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang kepada anda hendak meminta kembali anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya.”

Rasulullah pun berkata,

“Panggillah Zaid ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya ia memilih anda, akan saya kembalikan kepada anda tanpa tebusan. Sebaliknya jika ia memilihku, demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku.”

Demi mendengar itu berseri-serilah wajah Haritsah. Kemudian setelah Zaid sampai di sana. Rasulullah pun bertanya padanya tentang pilihannya apakah akan ikut bersama ayahnya atau tetap tinggal bersama beliau. Tanpa berpikir panjang Zaid menjawab,

“Tak ada orang pilihanku kecuali anda. Andalah ayah dan andalah pamanku.”

Demi mendengar itu, haru dan basahlah mata Rasulullah. Ia langsung memegang tangan Zaid, di bawanya ke pekarangan Ka’bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lalu ia berseru,

“Saksikanlah oleh kalian semua, bahwa mulai saat ini, Zaid adalah anakku, yang akan menjadi ahli warisku dan aku juga jadi ahli warisnya.”

Demi melihat itu, legalah Haritsah. Ia telah menemukan anaknya, tak sekadar itu, bahkan anaknya sekarang telah diangkat anak oleh  seseorang yang termulia di suku Quraisy, “Ash-Shadiqul Amin”, orang lurus lagi terpercaya, Muhammad. Kembalilah ia pulang ke kaumnya dengan hati tentram. Sementara itu Zaid tetap tinggal bersama Rasulullah untuk kemudian menjadi satu dari sedikit orang-orang pertama yang memeluk Islam ketika Muhammad diangkat Allah menjadi seorang Rasulullah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s