Belajar · reblog · Selftalk

Musuh Terbesar Seorang Ibu

f12f99678da3ce86c8653d5b0ef99480
image from here

Musuh terbesar seorang Ibu bukanlah pornografi dan pornoaksi yang rentan memapar otak anak-anaknya. Bukan pula kekerasan seksual yang mengintai langkah pendek anak-anaknya. Bukan pula paham radikalisme yang bisa menjangkiti keyakinan anak-anaknya. Semua itu musuh kita bersama, namun ada yang lebih berbahaya dari itu semua.

Musuh ini tak tampak. Hadirnya sulit dideteksi oleh indera. Memata-matai dari sangat dekat. Mudah datang tanpa diundang. Mudah menginfeksi tanpa diketahui. Halus dan perlahan-lahan. Musuh itu adalah stigma bahwa profesi Ibu (rumah tangga) adalah pekerjaan biasa.

Menghabiskan hari-hari di rumah untuk merawat anak sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang itu-itu lagi sangat berpeluang membuat Ibu terjebak dalam rutinitas yang kaku, beku, dan membuat jenuh. Kadang Ibu membayangkan betapa menyenangkan jika Ibu bisa travelling dengan teman-teman seperti saat Ibu lajang. Namun sekarang hidup tak sesederhana itu.

Melihat rekan-rekan satu sekolah dulu sudah mencapai jenjang karir tertentu di perusahaan-perusahaan besar, atau menjadi pengusaha, atau sedang studi lanjutan di negeri lain, kadang-kadang bisa membuat Ibu kehilangan makna. Ibu mulai menilai diri Ibu sebagai orang biasa, yang tidak hebat, yang tidak keren, yang tidak bergengsi. Dan membuat Ibu perlahan-lahan melepaskan mimpi-mimpi dan standar-standar profesional seorang Ibu.

Ibu harus memasak masakan sehat agar keluarga sehat. Ibu harus menjaga kesehatan agar tidak sakit–karena keluarga membutuhkan Ibu. Ibu harus mengelola keuangan agar pemasukan seimbang dengan pengeluaran. Ibu harus mendidik dan memberi contoh baik agar anak ikut-ikutan menjadi baik.

Semua standar itu kalah oleh perasaan minder dan tak berharga.Self-esteem rendah, kebahagiaan Ibu menurun, Ibu pun akan sulit menjalani peran dengan baik.

Lalu Ibu merasa tidak perlu belajar, untuk apa seorang Ibu menjadi terpelajar? Lalu yang paling menakutkan, Ibu berhenti berdoa–padahal kunci langit ada di lisan Ibu yang tulus.

Ibu pun menjalani hari hanya untuk menanti malam tiba, lalu menghabiskan malam untuk istirahat agar cepat bertemu esok. Tak ada hari istimewa, setiap hari sama : penuh dengan rutinitas yang membosankan. Hilang sudah semangat bermain dengan anak, hilang sudah dorongan memasak makanan sehat, hilang sudah harapan untuk membangun keluarga hebat.

Ibu pun sepenuhnya menerima tanpa perlawanan, bahwa pekerjaan Ibu rumah tangga memang pekerjaan biasa.

Itulah musuh terbesar seorang Ibu, jauh lebih berbahaya daripada pornografi, kekerasan seks, penyimpangan perilaku seksual, kecanduan gawai, paham radikalisme, liberalisme, dan sederet permasalahan lain yang mengancam di luar sana.

Mengapa lebih berbahaya?

Karena yang harus dilawan adalah pikiran dan perasaan Ibu sendiri.

tulisan aslinya teh urfa 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s