Hikmah · reblog · Selftalk

Tips Adil Dalam Berbicara

51a3a3f9aa01e421f2a7453a3828aa98
image from here

Kita sudah kenyang dengan nyinyiran-nyinyiran di media. Kalau nyinyir bisa dikonversi ke makanan, mungkin dunia kita sudah bebas dari bencana kelaparan. Membuat kesal, memang. Tapi, hidup di dunia, bersama miliaran manusia lain, tidak mungkin kita bisa membuat semua orang senang.

Yang kita tidak suka dari nyinyir adalah, seringkali isinya tidak adil dan berlebih-lebihan. Padahal, meskipun kita benci, kita tetap diharuskan untuk berbuat adil, bukan?

Perkara adil memang perkara yang rumit. Namun yang pasti, adil harus dimulai sejak dalam perasaan dan pikiran. Dalam berbicara, meski bermaksud nyinyir atau mengritik sekali pun, adil pun tetap perlu ditegakkan.
Sebagian besar kita sangat senang berbicara. Namun, tak banyak yang pandai berhati-hati. Sedang kehati-hatian adalah tangga menuju adil. Berikut beberapa tips untuk menjadi pembicara yang berhati-hati dan adil.

1. Menghindari penggunaan istilah yang mengandung kesan hiperbolis seperti : Selalu, nggak pernah, mana mungkin. Terutama ketika kita berbicara dengan emosi (emosi yang baik maupun yang buruk).

Contoh A :

a. “Anakku tuh ya, SELALU saja susah kalau saya ajak shalat ke masjid.”

Gimana kalau anaknya nyeletuk balik, “Ayah tuh, ya, SELALU saja melihatku buruk. Emang Ayah SELALU sempurna apa?”

b. “Suamiku NGGA PERNAH mengerti kalau aku capek mengurus rumah”

Definisi ngga pernah itu = kuantitasnya nol. Coba diingat lagi dengan lebih jernih, benar-benar ngga pernah atau ngga ingat?

c. “Apa katamu? Kamu akan berubah? MANA MUNGKIN!”

Ragu-ragu boleh, tapi jangan berlebihan juga sih. Nanti beneran ngga bisa berubah lagi.

d. “Aku SELALU suka penampilan kamu!”

Meskipun ini maksudnya memuji, tapi saya merasa ini kurang hati-hati. Selalu suka? Kalau lagi dasteran tetep suka ga?

Bandingkan dengan Contoh B:

a. Anakku sudah LEBIH DARI LIMA KALI ogah-ogahan kalau saya ajak ke masjid.

b. Suamiku JARANG bisa mengerti kondisiku yang capek karena ngurus rumah.

c. Apa katamu? Kamu akan berubah? Maaf, AKU SANGSI.

d. Aku SUKA penampilan kamu!

Coba perhatikan mana yang lebih enak dibaca dan lebih masuk akal, contoh A atau B?

Menurut saya, penggunaan istilah hiperbolis, baik dalam konteks negatif maupun positif, seperti dalam contoh A, berpeluang membuat subjek terjebak pada ketidakadilan juga generalisasi yang subjektif.

Kecuali memang datanya menunjukkan demikian. Misalnya : “Matahari ngga pernah telat terbit dan terbenam.” Ya ini mah memang objektif.

Hal tersebut bisa diminimalkan dengan memilih istilah yang lebih fair dan lebih objektif seperti beberapa contoh di contoh B.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

2. Menggunakan kata “Sebagian, sekelompok, dsb” dan lebih berhati-hati dalam penggunaan keseluruhan populasi apalagi jika tidak didasari data.

Contoh A :

a. “SEMUA laki-laki itu sama saja! Kurang ajar SEMUA!”

Eh, emangnya sudah pernah bertemu semua laki-laki dari awal zaman Nabi Adam yang jumlahnya bermiliar-miliar?

b. “Muslim? MEREKA adalah teroris!”

Shahrukh Khan muslim lho, tapi dia bukan teroris, dia artis!

Contoh B :

a. “Di antara miliaran laki-laki yang ada di Bumi, kenapa aku bertemu dengan PARA LELAKI yang kurang ajar?”

b. “Ada KELOMPOK-KELOMPOK di kaum Muslim yang senang menebarkan teror”

Hmmm.. Kesan yang terbacanya berbeda bukan?

Penggunaan kata “sebagian” alih-alih “seluruh” untuk sesuatu yang tidak dapat dipastikan kebenarannya (kecuali dengan melakukan penelitian kepada seluruh populasi), akan membuat kita lebih berhati-hati dalam melabeli seseorang.

Stereotip muncul karena ketidakhati-hatian dalam membedakan mana yang persoalan individu, mana yang persoalan kelompok, mana yang persoalan populasi. Jangan terjebak.

3. Menyebutkan dengan spesifik objek atau subjek yang dimaksud, terutama kalau bentuk komunikasinya tulisan (seperti di medsos) supaya konteks tulisan ngga melebar, supaya nggak ada yang ge-er dan salah sangka.

Contoh A :

“Yang bodoh tapi ngerasa pinter makin banyak aja nih.”

Siapa sih yang dimaksud? #sensi. Setiap kita menulis di medsos, tulisan kita akan dibaca oleh ratusan hingga ribuan orang, bahkan lebih. Kamu ngga kepengen kan orang-orang itu merasa sakit hati dan kesal karena mengira ujaran “bodoh” kamu itu ditujukan buat mereka? Bisa-bisa mereka komentar balik, “Iya setuju! Salah satunya pembuat status ini!”

Karena itu, coba lebih spesifik deh. Ya tapi ngga perlu sebut nama juga sih. Harusnya memang ngga perlu juga ya ngomong nyinyir-nyinyir begitu. Tapi kalau sudah ngga tahan ingin nyinyir, nyinyirlah secara tepat sasaran.

Contoh B :

“Banyak orang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Merasa tahu, merasa pintar, merasa benar. Padahal sebenarnya tidak.”

Sama-sama nyinyir juga. Tapi subjeknya jelas, yaitu : Orang yang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Nyinyir akan lebih tepat sasaran.

—-

Memang, berbicara adalah salah satu bentuk kebebasan dalam berpendapat. Tapi, jangan lupa bahwa kebebasan adalah tanggung jawab yang tertunda. Apa yang kita bicarakan bisa berdampak luas, bisa baik bisa juga buruk.

Sebelum berbicara, berhati-hatilah memilih kata-kata. Agar di hari nanti, hidup kita tidak menjadi sulit karena lisan kita sendiri. Think before speak, think before type.

Wallahu a’lam bisshawwab.

tulisan asli dari teh urfa 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s