Harta Karun · Hikmah · KisahSahabat

Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul

Ini adalah kisah tentang salah satu sahabat Rasulullah shallahu’alaihi wassalam. Namanya Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul. Jika kita pernah mendengar kisah tentang kedurhakaan salah satu putra dari Nabi Nuh alaihissalam. Maka pada kisah ini kita akan melihat kisah kebalikannya.

Abdullah bin Ubay bin Salul, ayahanda Abdullah adalah salah satu tokoh penting di kota Madinah saat itu. Bahkan sebelum Rasulullah shallahu’alaihi wassalam melakukan hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul ini adalah calon terkuat sebagai pemimpin kota Madinah saat itu.

Jika Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul mendapat gelar sebagai seorang sahabat, karena keimanannya terhadap Rasulullah shallahu’alaihi wassalam dan terhadap ajaran yang dibawanya. Maka sang Ayah, Abdullah bin Ubay bin Salul justru mendapat julukan sebagai dengdengkotnya kaum Munafik di Madinah. Hampir semua fitnah terkait umat muslim yang terjadi di Madinah menampilkan sosok Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai salah satu provokator utamanya.

Dikisahkan, karena saking geramnya, Umar bahkan meminta Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam untuk mengizinkan membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketika mendengar kabar tersebut, Abdullah bin Abdullah bin Ubay segera datang untuk menemui Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam,

“wahai Rasulullah, aku mendengar perintah untuk membunuh ayahku. Maka, perintahkanlah aku untuk itu dan akan ku bawa kepala ayahku dihadapanmu. Demi Allah, kaum Khazraj telah mengetahui bahwa mereka tidak memiliki orang yang lebih berbakti kepada orang tuanya lebih daripada diriku. Sesungguhnya aku takut jika orang lain yang melakukannya aku tidak bisa menahan diri membiarkan pembunuh ayahku bebas berkeliaran, lalu aku membunuhnya. Aku takut menjadi pembunuh orang beriman..”

Atas permintaan Abdullah bin Abdullah bin Ubay itu, Rasulllah saw. bersabda, “Bahkan kami akan bersikap lembut kepadanya dan berlaku baik kepadanya dalam bergaul selama dia masih hidup berdampingan dengan kita.”

Hingga dikisah selanjutnya kita akan menemukan sepenggal kisah yang menjadi asbabun nuzul dari ayat ke-84 di surat At Taubah.

Abdullah bin Abdullah bin Ubay datang menemui Rasulullah saw, meminta kepada beliau seuntai kain yang akan digunakannya untuk mengkafani jenazah ayahnya. Abdullah bin Ubay bin Salul, ayahnya telah wafat karena sakit. Abdullah bin Abdullah bin Ubay juga meminta kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam untuk berkenan mensholatkan jenazah ayahnya.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam, Nabi kita yang sangat penyayang itu memenuhi pinta Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul. Berangkatlah Rasulullah untuk mensholati jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika Rasulullah berdiri hendak menshalatkannya, Umar bin Khaththab menarik baju Rasulullah saw dari belakang dan berkata: “Wahai Rasulullah, Engkau akan menshalatkannya? Bukankah Allah melarangmu untuk menshalatkannya?

“Rabb ku, telah memberikan kepada ku hak untuk memilih (At Taubah :80 -red), dan aku akan meminta ampunan untuknya lebih dari tujuh puluh kali.” Jawab Rasulullah shallahu’alaihissalam penuh kasih.

Setelah selesai Rasulullah mensholatinya, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan sebuah ayat yang sesuai dengan apa yang terucap dari lisan Umar bin Khattab,

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah:84)

.
.

.

 

Sebenarnya, Allah bisa saja menurunkan larangan ini sebelum wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul. Tetapi kemudian para Ulama bersepakat salah satu hikmah dari turunnya ayat ini adalah agar kita ummat Muhammad dapat menyaksikan betapa mulianya akhlaq Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bahkan kepada orang yang selama ini memusuhi dan mencaci makinya.

Sedangkan hikmah terbesar yang bisa saya tangkap adalah, bahwa keimanan tidak dapat mewariskan atau diwariskan. Bahkan oleh orang terdekat sekalipun, seperti keluarga. Iman tidak bisa diwarisi, karenanya Allah memberikan peringatanNya kepada setiap hamba Nya yang beriman, setiap anggota keluarga di ayat ke-6 surat At Tahrim.

Kisah mengharukan ini juga mengajarkan kepada kita sebagai seorang anak. Bahkan jika ternyata orang tua kita adalah seorang yang ahli maksiat sekalipun, kewajiban berbakti kita sebagai seorang anak kepada keduanya tidaklah luntur sedikitpun. Selama keduanya tidak menyuruh untuk berbuat maksiat dan melarang melakukan amal sholih.

.

.

.

*inspirasi dari berbagai sumber (materi kajian NHIC UNS, tulisan tumblr, web)

*inspirasi utamanya dari sebuah buku, yang saya lupa judul bukunya apa karena sudah saking lama membacanya dan bukan buku milik pribadi dan lupa pulak menulis judul bukunya saat membuat tulisan tentang ini yang pertama –___–

*merivisi ulang  tulisan lima tahun yang lalu :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s