Harta Karun · Hikmah · reblog · Selftalk

“Sampai Jumpa di Neraka”

Kalau ngomongin surga dan neraka, ada dua hal yang pertama-tama terlintas di pikiran : Pertama, ini bahasan serem dan… b e r a t, o m! Kadang saking ngerasa ini terlalu berat, kita jadi cenderung ngga mau ngomongin soal ini. Ditambah karena ada semacam stereotip “Huh! Kayak situ pemilik cap surga dan neraka aja!” yang dilabelkan pada orang-orang yang berusaha menyiarkan ajaran agama, obrolan macam gini jadi rada-rada sensitif. Akhirnya, ya, urung diomongin. Takut dikira ekstremis. Padahal, keimanan seseorang ngga utuh kalau ngga meyakini adanya surga dan neraka (percaya pada akhirat adalah bagian dari rukun iman, jadi ngga usah didebat lagi penting enggaknya beriman pada surga dan neraka). Dari keyakinan itulah bisa muncul dorongan untuk mikirin, terlebih, nyiapin diri untuk menuju ke sana.

Kedua, yang langsung terlintas di pikiran adalah bayangan soal k e m a t i a n. Ngomongin mati ngga kalah seremnya. Gimana supaya ngomongin kematian bisa sambil santai? (Eh dibahas tuh di buku Psikologi Kematian karya Prof Komaruddin.) Hm. Gimana ya, diomongin ngga diomongin, namanya kematian pasti menghampiri. Kalau diomongin, minimal kita jadi ngeh kalau kita ga hidup lama, mesti siap-siap. Iya kan ya?

Hitung mundurnya juga kita ngga tau udah sampe angka berapa. Yang bikin nyesek itu kan ketika kita mikir bakal mati nanti saat udah tua, saat ibadah lagi rajin-rajinnya, ikut pengajian lagi getol-getolnya, nongkrongnya pun di masjid, eh padahal bisa jadi waktu yang kita punya tinggal seputaran rotasi Bumi saja. Yang lebih super nyesek, ketika kita mikir kita masih bakal ketemu orang tua, adik kakak, sanak saudara, teman kerabat yang kita sayangi dan bercanda gurau seperti biasa, lalu Allah menjemput satu per satu orang yang kita sayangi itu ke haribaan-Nya, sebelum kita sempat bertemu lagi.

Jadi, mari memberanikan diri untuk memikirkan dan membicarakan topik yang satu ini. Sesuatu yang pasti akan terjadi. Jangan lari, karena bisa jadi kematian sedang berlari menuju…..k i t a :“

Oke, cukup prolognya. Mumpung ada 10 menit waktu me time, saya ingin deh berbagi soal ilmu yang saya dapet dari seorang guru via suami saya mengenai surga dan neraka.

Saya tuh suka penasaran ingin nyari tahu, ketika ada orang yang dengan santai ngomong kalau dia mending masuk neraka aja karena biar bisa bareng sama artis-artis idolanya–sedangkan surga dianggap membosankan karena isinya orang2 yang ngga dia sukai.

“Sampai jumpa di neraka!” ujarnya.

Penasaran ingin tahu kenapa bisa mikir gitu. Apa karena putus asa, apa marah, atau sebatas bercanda? Mudah-mudahan canda aja sih. Kalau putus asa, mudah-mudahan beralih jadi punya harapan deh. Amin..

Soalnya, yang bikin saya bingung, di neraka masih sempet kenalan gitu?

Pada surat An-Nisa ayat 13-14, Allah menggambarkan kondisi penghuni surga dan neraka. Yang menarik, ada perbedaan pilihan kata yang digunakan oleh Allah dalam menggambarkan keadaan penghuni surga dan penghuni neraka. Supaya to the point, saya langsung sebutkan saja perbedaan katanya ya.

Jadi, dalam ayat 13, Allah menceritakan kondisi penghuni surga, dan di situ, untuk menyebut kekalnya surga bagi penghuninya, Allah menggunakan kata “Khaalidiina fiihaa abadan.” Garis bawahi kata “khalidiina.” Kata tersebut berarti kekal. Yang patut direnungkan, kata tersebut berbentuk jamak. Padahal konteks dalam ayat tersebut  menceritakan penghuni surga dengan menggunakan bentuk kata tunggal, “penghuni surga”, bukan para “penghuni surga.”

Sementara itu, di ayat selanjutnya, pada saat menyebutkan kekalnya neraka bagi penghuninya, digunakan kata “Khaalidan abadan.” Garis bawahi kata “Khaalidan.” Sebaliknya dari ayat penghuni surga, kata “khaalidan” merupakan bentuk kata tunggal.

Sebagai info, dalam bahasa Arab, predikat (kata sifat dan kata kerja) bentuknya berbeda-beda untuk setiap jenis subjek. Tidak seperti bahasa Indonesia, misalnya, yang penggunaan kata kerja dan sifat sama saja bentuknya untuk semua subjek. Contoh, kalimat “Aku pergi,“kalau subjek berubah menjadi “kami” (jamak), maka predikatnya tetap sama, “Kami pergi.” Sementara itu, dalam bahasa Arab tidak begitu. Kata “pergi” arti dasarnya adalah “Dzahaba”.  ”Aku pergi” dalam bahasa Arab (yang bentuk present tense) artinya “Adzhabu/Ana adzhabu” sedangkan “Kami pergi” artinya  ”Nadzhabu/Nahnu nadzhabu.“

Kurang lebih analogi di atas serupa dengan perbedaan ”Khalidan” dan “Khalidiina.” Kata “khalidan” merupakan predikat untuk subjek tunggal (dia). Sementara kata “khalidiina” merupakan predikat untuk subjek jamak (mereka).

Pertanyaannya, apa yang ingin Allah sampaikan kepada kita lewat perbedaan tersebut? Adakah pelajaran yang bisa dipetik darinya?

Menurut gurunya suami saya, Bu Titin (beliau anggota tim penyusun tafsir Alquran Unisba), ini merupakan petunjuk Ilahi bahwasanya………………………..

………………………………………………………………………….

eh serius amat sik! XP

Agak serem gimana gitu nih nulisnya, fiuhhh.

Gini deh, inti atomnya adalah, kalau mau ke neraka (amit-amit sihhhh), ngga perlu ngundang-ngundang, ajak kanan-kiri, narik depan-belakang. Ngga perlu juga janjian buat ketemu di sana.

Karena…n g g a  n g a r u h, S o b :“(

Di sana, penghuninya ngga bisa ‘menikmati’ neraka bersama-sama pujaan hati dan idola. Di sana ngga ada acara reunian, ngga ada acara meet and greet, ngga ada acara jumpa kangen. Ngga bakal ada…..

Karena… Balasan yang bakal diberikan di neraka itu buat individu per individu. Di ayat tadi, predikat yang digunakan adalah ”Khaalidan,“ artinya kekal sendirian. Iya sob, sendirian. Setiap penghuni akan sibuk dengan balasannya masing-masing. Saking beratnya itu balasan, ngga bakal sempet ada pikiran buat nengokin temen. Ngga bakal..

Dan itu sebabnya bentuk siksaan di sana bukan sebatas siksaan fisik. Tapi juga meliputi siksaan psikologis. Di ujung ayat 14 tadi disebut kata ”Muhiin.“ Artinya bukan sebatas siksaan yang pedih, tapi siksaan yang meliputi siksaan fisik dan psikologis, sehingga berlipat-lipat ganda penderitaan yang disebabkannya. Contoh siksaan psikologis ya itu salah satunya: Kesendirian.

Menjomblo bertahun-tahun aja udah bisa bikin galau dan stres, gimana kalau ini.. Sendirian…di neraka :((((((((

Beda sama penghuni komplek sebelahnya, Surga yang kita rindukan (Karena Surga yang Tak Dirindukan udah jadi judul film). Di sana, balasan yang diberikan bisa dinikmati bersama-sama. Maka pilihan katanya ”Khaalidiina,“ yang maknanya: mereka yang menghuni surga bakal bisa berkumpul lagi dengan orang tua, anak, keluarga, saudara, tetangga, kecengan, idola, panutan. Menikmati balasan dari Allah bersama-sama. Reunian, meet and greet, temu kangen, ramah tamah, semuanya bisa dilakukan..kalau d i  s u r g a.

Ngga berlebihan kalau Ayah Ibu kita sering banget berdoa supaya bisa dikumpulkan lagi sebagai sepasang kekasih di surga. Juga berdoa supaya bisa reunian lagi sama anak-anaknya, menantu-menantunya, cucu-cucunya,  di dalam surga. Hiks…..

Dan ngga heran kalau para sahabat Nabi begitu bersuka cita menyambut kematiannya. Abu Bakar ra, misalnya. Menjelang maut menjemput, ia justru berbahagia. Sebab tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bertemu sahabat yang amat disayanginya dan amat dirindukannya, Rasulullah Muhammad saw. Sampai-sampai beliau bertanya-tanya menjelang nafas terakhirnya, “Pada hari apa Rasul wafat? Pada usia berapa Rasul wafat?” Dan mengetahui bahwa beliau pun akan tiba pada penghujung hayatnya pada hari Senin, pada usia 63, yakni hari dan usia yang sama dengan ketika sang baginda wafat, bersukalah dirinya menyambut Izra’il. Bersuka karena ia akan reuni dengan Nabi Muhammad, dengan Hamzah, dan dengan para mukminin di tempat terbaik.

Begitu pula Utsman bin ‘Affan yang saat dibunuh tengah dalam keadaan shaum. Sebelumnya, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad, Abu Bakar ra, dan Umar bin Khattab. Di mimpi tersebut, Nabi mengundang Utsman untuk hadir di tengah-tengah mereka, berbuka puasa bersama mereka. Maka kematian bukan menjadi sesuatu yang ditakuti oleh Utsman. Bagaimana mungkin ia takut, jika ia telah ditunggu untuk berkumpul kembali bersama sahabat-sahabatnya di tempat yang dijanjikan-Nya?

Lebih dari tentang surga dan reuni dengan orang terkasih, apa sihh yang bisa mengalahkan perasaan suka cita yang hadir karena mereka-mereka itu, para Nabi, sahabat, dan mukminin, dapet kesempatan untuk bertemu dengan Dia Yang Maha Segalanya, Yang Maha Esa, Maha Penyayang dan Pengasih, Allah Subhaanahu wa ta’ala? The ultimate goal of every step we take, every road we choose, every pray we ask for. Berjumpa dengan Tuhan seluruh alam. :”””” Allahumma….

Lalu…kita gimana? 

Bisa ngga ya kita mempersiapkan kematian dengan baik? Mampu ngga ya kita menyambut kematian dengan lapang dada, bahkan, penuh suka cita, semata-mata karena sudah siap dengan bekal yang dibawa? Nyampe ngga ya hati kita untuk meyakini bahwa kematian adalah jalan untuk bertemu dengan-Nya?

Setidak-tidaknya, mari kita beranikan diri untuk berharap pada Allah agar digolongkan dalam golongan penghuni surga. Memelihara harapan itu penting. Bagaimana kita menetapkan prasangka kita di antara rasa cemas dan harap. Jangan sampai kita menjadi orang yang putus asa dari rahmat-Nya, enggan berusaha menuju ke surga, dan dengan mudahnya berkata, “Sampai jumpa di neraka.”

***

Sangat menarik bagaimana pilihan-pilihan kata dalam Alquran menggambarkan keluasan ilmu Allah Swt. Baru belajar soal perbedaan penggunaan kata dan dampaknya aja saya mah udah takjub luar biasa dengan kitab-Nya yang satu ini (pake istilah ‘yang satu ini’ karena ada kitab-kitab lain kan, Zabur, Taurat, Injil, yang juga wajib diimani). Pantes banget sih kalau Alquran mampu mengambil hati para penyair di zaman Nabi Muhammad saw. Dilihat dari susunan kata, rima, pilihan kata, makna, kandungan, aseli ini bacaan yang ajaib! Mukjizat terbesar! Luar biasa!

Maka tak heran jika ia diberikan sebuah ruang VVIP di hati umat Muslim, yang dijaga dengan bodyguard yang sangat berhati-hati. Semoga Allah merahmati kita dengan Alquran….

.
.
.
taken from urfa-qurrota-ainy.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s