KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 7: Hudzaifah ibnul Yaman

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Kemarin kita telah mencoba mengulik lagi ingatan kita bersama tentang sahabat mulia bernama Bilal, sekarang kita akan melanjutkan perjalanan lebih dekat dengan sahabat Rasulullah yang lain. Sahabat yang akan kita intip peri hidupnya kali ini tak kalah istimewa dibandingkan sahabat-sahabat yang telah diperkenalkan sebelumnya. Sekarang kita akan memulai kisah sahabat ini dengan melompat beberapa ratus tahun silam, kita akan menuju kota Madain di zaman Amirul Mukminin, Umar.

Saat itu penduduk Madain berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru saja diangkat oleh Umar. Antusiasme mereka muncul tak lain karena sudah lama hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan sahabat Nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar tuturan orang-orang mengenainya.

Ketika mereka sedang sibuk menunggu rombongan yang hendak datang, muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah.

Itulah sahabat Rasulullah, Hudzaifah ibnul Yaman. Demi melihat hal ini sungguh bingunglah dan hampir-hampir tak percayalah penduduk kota Madain. Mereka belum pernah melihat corak kepemimpinan dengan gaya hidup sederhana seperti itu baik di masa kerajaan Persi atau sebelumnya. Lalu Hudzaifah meneruskan perjalanan sedang orang-orang berkerumun mengelilinginya. Ketika ia melihat mereka menatapnya seolah menunggu amanat, lalu berkatalah ia:

“Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!”

Mereka, penduduk kota Madain pun lanjut bertanya, “di manakah tempat-tempat fitnah itu duhai Abu Abdillah?”

Ia menjawab:

“Pintu-pintu para pembesar. Seseorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengatakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan.”

Begitulah Hudzaifah, tegas tidak mengenal basa-basi. Tidak ada kalimat samar-sama yang diucapkannya. Baginya kehidupan yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, sementara yang jelek ialah yang gelap dan samar-samar. Hal ini muncul dari kebiasaannya yang memang agak berbeda dengan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Berikut kita simak penuturannya.

“Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya. Pernah kubertanya: ‘Duhai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?’ ‘Ada,’ ujarnya. ‘Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?’ tanyaku pula. ‘Memang, tetapi kabur dan bahaya.’ ‘Apa bahaya itu?’ ‘Yaitu segolongan umat mengikuti sunnah bukan sunnahku dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah.’ ‘Kemudian setelah kebaikan tersebut masih adakah lagi kejahatan?’ tanyaku pula. ‘Masih,’ ujar Nabi, ‘yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka.’ Lalu kutanyakan kepada Rasulullah, ‘ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?’ Ujar Rasulullah, ‘senantiasa mengikuti jamaah kaum Muslimin dan pemimpin mereka.’ ‘Bagaimana kalau mereka tidak punya jamaah dan tidak pula pemimpin?’ ‘Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian.‘”

Begitulah sahabat Rasulullah yang satu ini. Di kala sahabat lain berkutat dengan sumber-sumber kebaikan, ia mempelajari sungguh-sungguh sumber-sumber kejahatan. Alasannya jelas, ia takut terlibat di dalamnya.

 

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s