KisahSahabat · reblog · Tak Berkategori

#Lebihdekatdengansahabat 6: Bilal bin Rabah

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan,:)

Jika kita kemarin sudah menyimak bagaimana Hamzah mengenal Islam dan bagaimana pilunya Rasulullah melihat mayat pamannya itu rusak selepas pertempuran di Uhud sekarang kita akan melanjutkan perkenalan ke seorang sahabat lainnya. Muslim di seluruh dunia jika ditanya siapa saja sahabat Rasulullah yang mereka kenal, paling tidak akan menyebutkan para khalifah selepas Nabi meninggal, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Namun, pasti ada satu lagi nama sahabat yang akan disebut. Sahabat yang oleh Umar dijuluki:

“Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita.”

Anda tepat duhai teman, orang itu adalah Bilal bin Rabah. Orang yang kita dilontarkan pujian oleh Umar sebagai pemimpin kita, pasti akan langsung menunduk dan membasahi pipinya dengan air mata, dan berkata,

“Saya ini hanyalah seorang Habsyi, dan kemarin saya seorang budak belian!”

Silahkan anda tanya anak-anak Muslim di penjuru Bumi, mereka akan fasih menceritakan siapa itu Bilal dan bagaimana perjuangannya untuk mempertahankan tauhid yang telah dipegangnya. Siapa yang lupa, kata “Ahad Ahad Ahad” yang ia terus ucapkan ketika tubuh hitam kerempengnya diletakkan di gurun pasir panas kemudian di atasnya ditimpa dengan batu yang besar, agar ia melepaskan kata-kata tadi dari mulutnya dan menggantinya dengan satu kata saja dari nama-nama tuhan orang Mekkah saat itu.

Siapa pula yang tak mengenal Bilal, seorang tamsil betapa Islam tidak pernah mengenal perbedaan warna kulit, betapa Islam tidak pernah mengenal strata sosial, bahwa budak belian kemarin sore, bahwa seorang Habsyi berkulit hitam kemarin petang, tetapi ketika ia sudah mengucapkan syahadat, ia apapun status sosialnya, adalah seorang Muslim. Derajatnya sekarang ditentukan oleh Allah sesuai kadar takwanya. Dan Bilal sebagaimana sering disampaikan Rasulullah adalah orang yang suara sandalnya sudah terdengar di surga.

Lebih dari sekadar itu, Bilal adalah orang pertama yang menyerukan adzan untuk memanggil umat dan melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah hingga Rasulullah meninggal dunia. Ketika itu ia datang menuju khalifah pertama yang begitu kita cintai, Abu Bakar untuk mencurahkan isi hatinya,

“Duhai Khalifah Rasulullah, saya mendengar beliau bersabda, amal orang Mukmin yang utama adalah berjihad fi sabilillah. Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia.”

Mendengar pernyataan Bilal ini, Abu Bakar bertanya padanya,

“Siapa lagi yang akan menjadi muaddzin bagi kami?”

Dengan air mata berlinang Bilal menjawab,

“Saya tak akan menjadi muaddzin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah.”

Abu Bakar menolak permintaan dan berusaha membujuk Bilal untuk tetap di Madinah.

Kemudian Bilal berujar,

“Seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan anda itu. Tetapi bila anda memerdekakan saya karena Allah, biarkanlah diri saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik anda itu.”

Abu Bakar pun tidak bisa lagi berbuat apa-apa, ia berkata, “tak lain saya memerdekakanmu waktu itu duhai Bilal, semata-mata karena Allah.”

Adakah kalian bingung, duhai teman-teman demi menyimak fragmen ini? Fragmen betapa kerasnya Bilal menolak untuk melantunkan adzan setelah masa-masa hidup dengan Rasulullah selesai. Jika kalian ingin tahu sebabnya, tak lain tak bukan adalah ketidakkuasaan Bilal untuk mengeluarkan suara ketika adzan yang ia kumandangkan dengan suaranya yang merdu itu, sampai pada kalimat,

“Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Kalimat itu membuat kenangan lamanya pada Rasulullah bangkit kembali, suaranya tertelan oleh kesedihan dan digantikan cucuran tangis dan air mata. Karena alasan ini pulalah ia memutuskan pindah dari Madinah menuju Syria.

Hingga pada suatu ketika, Umar sebagai Amirul Mukminin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan itu dan memohon ke khalifah untuk meminta Bilal menjadi muaddzin bagi satu salat saja. Amirul Mukminin pun memanggil Bilal, ketika waktu salat tiba. Bilal pun melantunkan adzan terakhirnya. Sahabat-sahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu Bilal menjadi muaddzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Sedang yang paling keras tangisnya di antara mereka adalah Umar.

 

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s