KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 5: Hamzah bin Abdul Mutthalib

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Kemarin kita telah mencoba mengenal lebih dekat sahabat nabi bernama Sa’ad. Seorang sahabat yang dijuluki Abdurrahman bin ‘Auf sebagai “singa yang menyembunyikan kukunya” ketika ia diminta oleh Umar memberi rekomendasi siapa yang pantas memimpin pasukan Muslim untuk menghadapi tentara Persia. Nah, sekarang kita akan melangkah ke seorang sahabat yang begitu luar biasa. Sahabat yang juga merupakan paman Nabi, Hamzah.

Siapa yang tak kenal Hamzah? Tentu kita sudah lazim mendengar nama besar ini. Dia adalah salah satu orang yang disegani di kota Mekkah. Ketika ia masuk Islam, kaum muslim yang sedikit merasa terlindungi dari intimidasi kaum kafir Quraisy di Mekkah saat itu. Siapa pula yang tak mengenal kedahsyatan sahabat yang dikenal sebagai Singa Allah ini di medan laga. Ia adalah salah seorang sahabat yang menghancurkan tentara Mekkah di perang Badar. Dan karena hal inilah, ia dan tentunya Rasul, adalah orang yang paling diburu di medan tempur berikutnya, Uhud.

Siapa pula yang tak kenal dia yang jasadnya terbujur kaku di perang Uhud. Yang nyawanya direnggut oleh budak yang tangkas melempar tombak bernama Wahsyi. Yang terbunuhnya ia adalah impian terbesar dari seorang perempuan bernama Hindun, yang akhirnya membayar Wahsyi untuk membunuh Hamzah dan mengambil hatinya untuk ia kunyah. Fakta yang membuat Nabi tak bisa menahan matanya untuk berkaca-kaca. Betapa belum pernah ia menjumpai perilaku orang Arab yang begitu jauh dari nilai adat mereka anut. Kebiadaban itu adalah merusak mayat dan mayat itu adalah Hamzah, paman beliau. Rasulullah sampai berkata:

“Tak pernah aku menderita musibah seperti yang kuderita dengan peristiwa seperti anda sekarang ini. Dan tidak satu suasana pun yang lebih menyakitkan hatiku seperti suasana sekarang ini.”

Saat-saat perpisahan seperti ini, tidak ada penghormatan yang lebih utama yang ditemui Rasulullah daripada mensalatkannya bersama-sama dengan seluruh syuhada, seorang demi seorang. Jasad Hamzah dibawa ke tempat salat di medan laga, kemudian disalatkan oleh Rasulullah bersama para sahabat. Kemudian dibawa lagi ke sana seorang syahid lain dan disalatkan oleh Rasul. Mayat itu diangkat tetapi Hamzah dibiarkan di tempatnya, lalu dibawa lagi syahid ketiga dan dibaringkan di dekat Hamzah dan disalatkan pula oleh Rasul. Begitulah syuhada-syuhada itu didatangkan, satu demi satu, disalatkan oleh Rasulullah orang demi orang, hingga bila dihitung Hamzah disalatkan sebanyak tujuh puluh kali oleh Rasulullah.

Ah, sungguh tak kuat rasanya membayangkan peristiwa getir itu. Mari kita berpindah sejenak ke masa di awal Islam mulai tersiar di Mekkah. Masa ketika Hamzah belum lagi memeluk Islam sebagai keyakinannya. Saat itu Hamzah sudah tahu apa yang dilakukan oleh keponakannya itu. Hanya saja, Hamzah bukanlah sekadar paman bagi Rasul, ia juga adalah saudara sepersusuan, teman sepermainan, serta sahabat dari awal masa kehidupan. Ia tahu benar kualitas Muhammad. Muhammad di matanya adalah pribadi yang tanpa noda dan sampai dewasa adalah orang yang paling bisa dipercaya di kota Mekkah. Hingga sampailah pada suatu ketika…

Hamzah keluar dari rumahnya dengan menjinjing busur. Tujuannya jelas pergi berburu. Berburu adalah kegemarannya. Kira-kira setengah hari ia lakukan kegiatannya ini, ia pergi ke Ka’bah untuk bertawaf. Setibanya di dekat Ka’bah, ia ditemui oleh seorang pelayan wanita Abdullah bin Jud’an. Pelayan itu berkata, “Wahai Abu Umarah, seandainya anda melihat apa yang dialami oleh keponakan anda Muhammad baru-baru ini! Abul Hakam bin Hisyam, ketika mendapatkan Muhammad sedang di duduk di sana, disakitinya dan dimakinya, hingga mengalami hal-hal yang tidak diinginkan!

Demi mendengar cerita itu, Hamzah tertegun sejenak. Bergegaslah ia menuju Ka’bah. Belum sampai ia di sana, kelihatanlah olehnya Abul Hakam bin Hisyam atau biasa dikenal Abu Jahal di pekarangannya yang sedang dikelilingi oleh beberapa orang pembesar Quraisy. Dalam ketenangan yang mencekam itu, Hamzah maju menuju Abu Jahal. Ia lepaskan busurnya dan dipukulkannya busur itu ke kepala Abu Jahal hingga luka dan mengeluarkan darah. Hamzah membentak Abu Jahal,

“Kenapa kamu cela dan kami maki Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan mengatakan apa yang dikatakannya. Nah, cobalah ulangi kembali makianmu itu kepadaku jika kamu berani!”

Suasana pun berubah, perkataan Hamzah tadi bagaikan petir di siang bolong di telinga para pembesar Quraisy. Keislaman Hamzah adalah bencana besar. Bencana yang sungguh-sungguh besar bagi orang-orang Quraisy pada saat itu.

Hamzah pun pulang. Di saat inilah pikirannya kembali bimbang. Ia tidak dapat menyangkal kualitas keponakan dan kebenaran apa yang ia bawa. Tetapi ia tidak ingin mengambil keyakinan tersebut dalam kondisi sedang marah. Ia kembali memikirkan apa yang telah ia lakukan. Tatkala alam pikirannya buntu tentang apa yang harus ia lakukan, ia pun menyerah. Pahlawan bangsa Arab ini akhirnya meminta pertolongan kepada yang ghaib. Di sisi Ka’bah, sambil wajahnya menengadah ke langit, ia memohon dan berdoa agar memperoleh petunjuk kepada yang haq dan jalan yang lurus. Beginilah penuturan sahabat Nabi yang mulia ini tentang masa-masa kebimbangannya itu,

“Kemudian timbullah sesal dalam hatiku karena meninggalkan agama nenek moyang dan kaumku… dan aku pun diliputi kebingungan hingga mata tak hendak tidur… Lalu pergilah aku ke Ka’bah dan memohon kepada Allah agar membukakan hatiku untuk menerima kebenaran dan melenyapkan segala keraguan. Allah pun mengabulkan permohonanku itu dan memenuhi hatiku dengan keyakinan. Aku pun segera menemui Rasulullah dan memaparkan keadaanku padanya, didoakannya kepada Allah agar ditetapkan-Nya hatiku dalam agama-Nya.”

Begitulah sahabat yang mulia ini memulai lembar baru hidupnya, sebagai pembela Islam.

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s