KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 4: Sa’ad bin Abi Waqqash

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Bagaimana kabarnya hari ini saudara? Sembari menunggu waktu berbuka, mari kita lanjutkan perjalanan kita menelusuri jejak para sahabat Rasulullah. Setelah kemarin kita telah bertemu dengan sahabat Nabi yang luar biasa, Abu Dzar dari kabilah Ghifar, sekarang kita akan bertemu sosok yang merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Jaminan itu dilontarkan Rasul di tengah deru perang Uhud, beliau berkata:

“Panahlah hai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu!”       

Selain itu Rasulullah pun pernah berdoa untuknya,

“Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya.”

Ya, itulah dia Sa’ad bin Abi Waqqash. Orang yang ketika memanah selalu tepat dan ketika berdoa selalu dikabulkan oleh Allah, karena doa Nabi tadi. Orang yang masuk Islam selagi berusia 17 tahun dan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam. Hal ini pernah diceritakannya sendiri, katanya:

“Pada suatu saat saya memperoleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam.”

Sa’ad termasuk sahabat yang memiliki tempat yang istimewa di sisi Rasul. Bila ia datang kepada Rasul yang sedang berada di antara sahabat-sahabat yang lain, Rasul senantiasa menyambutnya dengan ucapan selamat sambil bergurau,

“Ini dia pamanku, siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?”

Suatu kali ketika Rasulullah sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba beliau menatap dan menajamkan pandangannya ke arah ufuk bagai seseorang yang sedang menunggu bisikan atau kata-kata rahasia. Kemudian beliau menoleh kepada para sahabat, beliau berkata:

“Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang laki-laki penduduk surga.”

Para sahabat pun menengok ke kiri kanan dan ke setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang yang berbahagia dan beruntung memperoleh karunia seperti itu. Dan, ya, tak lama kemudian muncullah orang yang sedang coba kita kenali ini, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash.

Tentu saja apa yang didapat oleh Sa’ad bukanlah tanpa usaha. Kekuatan iman seorang Sa’ad berkali-kali mendapat ujian. Salah satu ujian yang ia temui dalam mempertahankan keimanannya akan saya ceritakan sebentar lagi. Ujian yang pasti akan menggetarkan siapapun, ujian yang bahkan seorang Umar, khalifah kedua setelah masa kenabian tidak bisa melupakannya. Inilah kisah Sa’ad yang begitu menggetarkan itu.

Keimanan begitu ditentang oleh ibunya. Ketika itu segala usaha dilakukannya untuk menghalangi putranya dari agama Allah selalu gagal, hingga akhirnya ia menempuh jalan yang tidak dapat tidak, pasti akan melemahkan semangat Sa’ad. Ketika semangat ini menurun, ibunya berharap bisa membawanya ke pangkuan agama berhala dan kembali kepada kaum kerabatnya.

Wanita itu, menyatakan diri mogok makan dan minum hingga Sa’ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan kaumnya. Namun, Sa’ad tidak berubah pendirian juga. Ketika keadaan ibunya sudah demikian gawat, beberapa orang keluarganya membawa Sa’ad kepadanya untuk menyaksikannya kali terakhir, dengan harapan hatinya akan melunak. Tentu saja sebagai seorang anak, demi menyaksikan keadaan ibunya, hancur luluh hatinya. Tak sampai hatinya tetapi keimanannya kepada Allah dan Rasulullah tak bisa ditawar lagi.

“Demi Allah, ketahuilah duhai Ibunda, seandainya bunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah daku akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka terserahlah kepada bunda, apakah bunda mau makan atau tidak…”

Akhirnya ibunya pun mundur teratur dan turunlah wahyu yang mendukung pendirian Sa’ad serta mengucapkan selamat kepadanya,

“Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Q.S. Luqman: 15)

Begitulah kisah Sa’ad. Betapa perjuangan mempertahankan iman terkadang hadirnya tidak dari jauh, tidak dari luar, ia bisa saja datang dari orang-orang terdekat, dari orang-orang yang kita cintai.

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s