KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 3: Abu Dzar Al Ghifari

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, 🙂

Kemarin kita telah menyimak kisah yang dituturkan oleh Salman Al-Farisi mengenai perjuangannya untuk menemukan Islam. Luar biasa bukan? Sekarang, kita akan berkenalan dengan sosok luar biasa lainnya. Beliau termasuk orang-orang yang memeluk Islam di waktu awal turunnya risalah kenabian pada Rasulullah. Sahabat ini bernama Abu Dzar Al-Ghifari. Ghifar adalah suatu kabilah yang tiada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka menjadi tamsil perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Oleh karena itulah, ketika Abu Dzar memperkenalkan diri kepada Rasulullah, terbukalah senyum lebar di kedua bibir beliau, sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub.

Pada saat Abu Dzar mengucapkan syahadat, dakwah yang disampaikan Rasulullah masihlah dalam metode sembunyi-sembunyi, demi melihat ini bertanyalah Abu Dzar:

“Wahai Rasulullah, apa yang harus saya kerjakan menurut anda?” “Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti,” ujar Rasulullah. “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku,” kata Abu Dzar pula, “saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!”

Beginilah tabiat sahabat Rasulullah yang satu ini, radikal dan revolusioner. Abu Dzar pergi menuju Masjidil Haram dan menyerukan sekeras-kerasnya

“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyahadu anna muhammadar rasullullah.”

Sudah bisa diduga, akibat perbuatannya ini, ia mendapat pukulan dari orang-orang kafir di Mekkah hingga akhirnya tubuhnya rubuh. Meskipun pada akhirnya peristiwa ini tidak berakhir pada kematian karena ia diselamatkan oleh paman Nabi, Abbas, ia kembali mengulangi perbuatannya esok harinya. Ia pun kembali rubuh. Demi melihat hal ini Rasulullah kembali mengulang perintahnya agar Abu Dzar kembali pulang kepada kaumnya.

Kemudian satu pertanyaan tersisa tentu di hati kita masing-masing, apakah sahabat Nabi ini hanya bisa berteriak-teriak. Menginginkan perubahan radikal tanpa melakukan apapun lagi setelah itu. Hanya bisa kesal dengan keadaan yang ada tetapi tidak berakhir pada tindakan nyata. Apakah itu akhir dari keislaman Abu Dzar? Untuk menjawabnya, mari kita intip peristiwa yang terjadi di Madinah, lama setelah pulangnya Abu Dzar ke kaumnya, masa ketika Nabi sudah hijrah ke Madinah.

Suatu hari, satu barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota, meninggalkan kepulan debu di belakang mereka. Kalau bukanlah bunyi takbir yang bergemuruh, tentulah yang melihat akan menyangka mereka itu suatu pasukan tentara musuh yang hendak menyerang kota.

Rombongan itu semakin dekat, lalu masuk ke dalam kota. Jelas, arah yang mereka tuju adalah masjid Rasulullah dan rumah kediamannya. Setelah diperhatikan lebih dekat, jelaslah sudah sekarang, rombongan itu tidak lain adalah kabilah-kabilah Ghifar dan Aslam yang dikerahkan semuanya oleh Abu Dzar dan tanpa kecuali telah masuk Islam, laki-laki, perempuan, orang tua, remaja, dan anak-anak.

Takjublah Rasulullah melihat hal ini. Beberapa waktu yang lampau ia takjub ada seorang laki-laki dari Ghifar yang menyatakan keislaman dan sekarang yang datang adalah seluruh warga Ghifar yang menyatakan keislamannya. Rasulullah melayangkan pandangannya kepada wajah-wajah yang berseri-seri, pandangan yang diliputi rasa haru dan cinta kasih. Sambil menoleh ke kabilah Ghifar, ia bersabda:

Kabilah Ghifar telah di-ghafar (diampuni) oleh Allah.

Kemudian sambil menghadap kepada kabilah Aslam, ia bersabda:

Kabilah Aslam telah di-salam (diterima dengan damai) oleh Allah.

Begitulah kisah Abu Dzar, sahabat yang oleh Rasulullah digambarkan dengan,

Takkan pernah ada lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar.

 

taken from muhammadakhyar.tumblr.com

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s