KisahSahabat · reblog

#Lebihdekatdengansahabat 1: Mush’ab bin Umair

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan 🙂

Sudah siap memulai perjalanan untuk lebih dekat dengan para sahabat Rasulullah?

Perkenalan kita akan dimulai dengan seseorang bernama Mush’ab bin Umair. Beliau adalah seorang pemuda Quraisy terkemuka, seseorang yang paling gagah dan tampah, penuh dengan semangat kepemudaan. Para ahli riwayat melukiskannya dengan “Seorang warga kota Mekkah yang mempunyai nama paling harum.” Tak hanya namanya yang harum, bahkan kabarnya banyak penduduk Mekkah yang meminta air cucian bajunya untuk dijadikan pengharum.

Ia dikenal sebagai duta Islam yang pertama. Ialah yang diutus oleh Rasulullah menuju Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) untuk berdakwah di sana. Menurut salah satu riwayat yang ada, keberhasilan dakwah beliau dibuktikan dengan tidak adanya satu pun rumah di Medinah yang tidak ada seorang muslimnya pada saat Rasul sampai di kota itu setelah hijrah dari Mekkah.

Karena ini perkenalan saja sifatnya, saya akan mempercepat kisah ini hingga pada fragmen yang begitu menggetarkan. Kepingan kisah perjuangan yang begitu mengharukan. Kisah itu adalah penggalan cerita Mush’ab di perang Uhud. Mari kita menyimak saksi mata yang akan menceritakan saat-saat terakhir pahlawan besar kita ini.

Berkata Ibn Sa’ad: “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-Abdari dari bapaknya, ia berkata:

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di perang Uhud. Tatkala barisam Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tanganya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’. Maka dipegangnya bendera di tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan: ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur dan bendera jatuh.”

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibn ‘Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang gugur di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andaikan ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebalinya bila ditutupkan ke kaki, terbukalah kepalanya. Rasulullah saw bersabda: ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir’.“

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya berkata:

“Ketika di Mekkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Ah, itulah kisah Mush’ab, kisah yang selalu membuat saya bergidik membayangkannya. Kisah tranformasi seorang pemuda dari keluarga kaya menjadi seorang pewarta agama yang begitu memikat. Ia mampu memaksimalkan apa yang ia miliki, penampilan yang menarik, retorika yang mumpuni, untuk mengajak orang-orang di Medinah mengenal dan mencintai agama baru, Islam.
.
.
.
taken from muhammadakhyar.tumblr.com

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s