review

Habiskan Saja Gajimu

11048649_10205377836794003_6011686737942276495_n

Buku ini judulnya “Habiskan Saja Gajimu” karya Ahmad Gozali seorang financial planner dg “spesialisasi” investasi emas batangan. Intinya penghasilan yang diperoleh harus dibagi ke dalam beberapa pos sampai habis.

Ada 4 pos dalam pengeluaran yaitu:
1. Sosial (zakat, infak, sedekah, derma, dll)
2. Cicilan Utang (kredit rumah, kredit kendaraan, dll).
3. Saving (tabungan dana cadangan, setoran investasi, premi asuransi, dll).
4. Biaya Hidup (belanja konsumsi, transportasi, pulsa hp, listrik telepon air, internet, uang sekolah dan les anak, uang saku ayah-ibu-anak, beli baju-sepatu-kosmetik, nonton bioskop, sosialisasi di cafe, dll).

Di dalam buku ini, Gozali menekankan untuk mengeluarkan penghasilan yang bersifat fix terlebih dahulu. Tidak bisa ditawar, tidak bisa dikurangi. Oleh karenanya, pengeluaran sosial disebut sebagai pengeluaran fix.
Setelah kita memperoleh uang, maka yang harus dilakukan adalah bayar zakat 2.5%. Memang sih risiko tidak mengeluarkan zakat tidak langsung terlihat, tapi masalahnya pengeluaran ini sudah diwajibkan sebesar 2.5% oleh Sang Maha Pemberi Rejeki. Bayar zakat, sedekah, atau berderma itu akan selalu membawa kebaikan untuk kita sendiri. Ketika kita mengingat dan menolong orang lain, maka nanti orang lain akan menolong kita juga. Lagian kalau kita tidak mengeluarkan kewajiban yang diminta Allah, kalau Dia berhenti kasih kita rejeki gimana? Hayooo…

Pengeluaran fix kedua adalah membayar cicilan hutang. Ketika mengajukan KPR misalnya, maka cicilan yang harus dibayar per bulan sudah fix dan tidak bisa ditawar lagi. Berbeda dengan pengeluaran sosial, cicilan memberikan risiko tersendiri.

Saving alias menabung menjadi pengeluaran fix terakhir. Menabung penting untuk masa depan. Tabungan ini akan membantu ketika kita mengalami kesulitan di masa mendatang. Tapi sayangnya banyak dari kita yang menabung berdasarkan sisa penghasilan bulanan which is nearly impossible. Yaa, menurut ngana dengan banyaknya tawaran diskon dan bombardir iklan, itu bisa?

Pengeluaran yang paling fleksibel adalah biaya hidup. Setelah mengeluarkan zakat, bayar cicilan, dan menabung…sisa dari pengeluaran kita silahkan dihabiskan untuk biaya hidup! Yeay, ayo belanja!
Ya, bisa aja sih semuanya dihabiskan untuk belanja…tapi harus diingat, ketika penghasilan kita tetap sedangkan pengeluaran fix tidak bisa diganggu gugat dan harga kebutuhan hidup terus naik… pengeluaran ini akhirnya harus bisa dikorbankan.

Misalnya, harga BBM naik dan memang skrg turun lagi, tapi kan harga makanan gak ada yang turun. Akhirnya, kita yang harus “turun kelas” yang sebelumnya makan di rumah makan padang, jadi makan di warteg. Atau yang sebelumnya minum kopi di starbucks setiap hari, yaa terpaksa turun jadi minum kopi abc susu bikinan OB. Kan sama-sama kopi toh?

Okelah kalau masih single, gampang diatur soal biaya hidup. Nah, kalau sudah berumah tangga gimana? Harus bayar listrik, air, telepon bayar sekolah dan les anak, dll. Kata penulisnya, pengeluaran itu masih tetap fleksibel. Tagihan listrik, air, telepon masih bisa dihemat dengan cara pakai listrik, air, dan telepon secukupnya (ya mau gak mau hidup tanpa AC, ya emang duitnya cekak…gimana dong? Pakai kipas angin juga adem).
Biaya sekolah anak? Ya, dengan terpaksa sekolahkan anak di SD negeri yang katanya gratis. Sekolah negeri gak berkualitas? Tugas utama mendidik anak kan ada pada orang tua, bukan 100% tanggung jawab institusi sekolah.

Kata buku ini, jangan pernah membuat perut kita kenyang. Jika setelah gajian, kita mengeluarkan uang untuk biaya hidup dahulu seperti belanja konsumsi maka itu akan membuat kita kenyang. Orang yang kenyang akan bersikap tenang dan akhirnya terjebak di comfort zone. Sedangkan semua orang lapar pasti ganas dan akhirnya jadi kreatif.

Simulasi pengeluaran yang diajarkan di buku sbb:
Penghasilan 100%
Sosial. 2.5%
Cicilan utang. 30%
Saving. 10%
Sisa: 57.5%

Nah 57.5 itu yang jumpalitan dipikirkan bagaimana cara agar semua biaya hidup dapat terpenuhi dengan sejumlah itu. Kalau gak cukup? Cari kerjaan dengan gaji lebih baik, cari kerjaan tambahan. Keadaan terhimpit justru akan membuat kita bergerak, itu pasti.

Important words:
Pay your God first.
Saving dulu, baru Shopping 🙂

source: mefanny.tumblr.com

—–

I’ve tried and it worked for me 🙂
dengan sedikit penyesuaian di beberapa pos persentase 🙂
seperti di pos cicilan hutang, 30% itu terlalu banyak :p
karena alhamdulillah ga punya tanggungan cicilan 😀
jadinya dipindahkan beberapa persen ke pos lain dan atau buat pos baru 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s