Harta Karun · reblog

Merebut Peran Allah

whatsapp-image-2017-01-14-at-15-21-34

Suatu hari, saya pernah merasa sedang berada di titik paling rendah hidup. Banyak sekali ini dan itu yang berkelindan rumit di dalam pikiran. Saya merasakan kesempitan dan bertanya-tanya tentang sesuatu yang tidak pernah saya temukan jawabannya. Bahkan, saya tergelitik untuk mengeluh dan mulai mempertanyakan dimanakah janji Allah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Apa yang saya dapat? Tidak ada, kecuali lelah yang bertambah-tambah. Dalam keadaan seperti itu, saya bercerita kepada seorang sahabat. Lalu, sahabat saya menanggapi saya dengan memberikan sebuah analogi tentang karyawan dan bos di perusahaan.

“Nov, kalau di kantor, yang tugasnya ngurus tentang gimana caranya project setiap bulan selalu ada supaya karyawan tetap gajian, itu siapa ya?”

“CEO lah, masa iya karyawannya.”

“Terus, kalau yang ngurusin tujuan strategis perusahaan, perputaran kas, dan pengambilan keputusan kebijakan, siapa?”

“CEO dan jajarannya, tapi decision maker tetap CEO.”

“Kalau semua itu kamu yang handle, kira-kira gimana?”

“Walaaah, pasti aku ribet dan pusing banget ngurusinnya. Itu kan bukan ranah kewenangan aku.”

“Yup, you got the point! Mengurusi sesuatu yang bukan ranah kewenanganmu pasti bikin kamu jadi ribet dan pusing. Terus kenapa kamu mau repot-repot mikirin apa yang jadi urusan dan kewenangan Allah atas hidup kamu? Kamu kan tau kalau kewenangan atas hal itu memang bukan urusanmu, eh lah masih aja diurusin.”

Jleb! Mendengarnya, saya hanya bisa menunduk sambil diam-diam mengulang pertanyaannya dalam hati,

Terus kenapa kamu mau repot-repot mikirin apa yang jadi urusan dan kewenangan Allah atas hidup kamu?

Hmm, dalam menjalani hidup, sadarkah kalau kita sering sekali merebut peran Allah? Allah berperan untuk mengatur apa yang terbaik untuk kita, tapi kita mengatur-atur sendiri seolah pilihan dan rencana kitalah yang paling baik. Allah berperan untuk mengurusi soal rezeki, maut, dan jodoh kita, tapi kita sibuk bertanya-tanya dan menggalaukan semuanya seolah tidak ada Allah yang menjadi satu-satunya pengatur untuk itu semua. Ah, kita merebut peran Allah! Wajar bukan jika yang tersisa dalam diri adalah galau, masalah dan kelelahan yang bertambah-tambah?

Astagfirullah!

Tidak mudah untuk menarik diri dari perilaku merebut peran Allah. Tapi, bukankah jika kita tetap mengupayakannya maka disitulah letak ibadah dan perjuangannya yang kelak pasti bisa kita nikmati buahnya? Yuk tarik napas dulu! Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi sebaik-baik manusia yang tidak sampai hati untuk merebut peranan-Nya.

.

.

.

repost from http://novieocktavia.tumblr.com/post/155418977500/merebut-peran-allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s