Harta Karun · reblog

Pertemuan Langsung

Kamu tahu seistimewa apa sebuah pertemuan langsung?

Katanya obat rindu paling manjur di dunia ini adalah sebuah pertemuan. Sebab, secanggih dan sehebat apapun teknologi zaman sekarang nggak akan bisa mewakili sepenuhnya tentang apa arti sebuah pertemuan langsung. Entah kirim-kiriman foto via whatsapp. Entah video call lewat line, apapun itu. Tetap saja tidak bisa mewakili seorang perindu yang sedang merindukan seseorang. Syifa’ul qulub, liqo’ul mahbub. Obat hati itu bertemu kekasih. Eaaak pfft. Itu istimewanya sebuah pertemuan langsung.

Tau nggak? Ada satu hal istimewa yang ndak bisa kita miliki sebagai umat Kanjeng Nabi. Bahwa para sahabat dikasih kesempatan bertatap muka langsung dengan Rosulnya. Tapi kita tidak pernah diberi kesempatan untuk itu. Makanya Nabi pernah berkata kalo sebaik-baik zaman adalah zamanku, lalu kemudian bawahnya, kemudian bawahnya. Istimewa, bukan?

Yang bertemu secara langsung dengan Allah juga ndak sembarangan. Kenapa waktu Nabi diajakin mi’raj, atau hangout bareng Malaikat Jibril tapi pas sampe sidratul muntaha Malaikat Jibril ndak ikut? Nabi rela naik. Kemudian turun lagi. Transaksi lagi dengan Allah. Turun lagi. Cuma buat nurutin berapa rokaat kita akan diwajibkan untuk sholat dalam sehari semalamnya. Tapi tetap saja Jibril cuma bisa nemenin sampe langit bawahnya? Istimewa bukan?

Tau kan kenikmatan terindah disurga itu bukan duduk dibantal empuk dan ditemani bidadari atau makan sesukanya? Tapi apa? Ketemu langsung sama Allah sendiri. Istimewa kan?

Kenapa para grup band atau penyanyi-penyanyi suka menggelar secara langsung konser konser mereka? Ya karena emang ketemu langsung itu lebih ada kepuasan tersendiri ketimbang melihat videonya saja.

Istimewa bukan, sebuah pertemuan?

Saya masih percaya Ta’lim Muta’alim bahwa belajar ilmu, terutama ilmu agama, dianjurkan buat punya guru dan bertatap muka secara langsung sama gurunya tersebut. Makanya saya agak sedikit kurang setuju kuliah jarak jauh. Yang tatap mukanya sekedar lewat layar. Kalo emang sama-sama efektif tetep saja nanti hasilnya akan beda. Ndak salah lah kalo ada yang bilang semakin teknologi maju, semakin malas manusia. Malas mencari ilmu terutama. Padahal esensi mencari ilmu itu berlelah lelah. Bukan bermudah mudah. Yakan?

Jadi setahu saya, belajar ilmu itu dibagi menjadi dua. Yang pertama ‘ilmun fil awroq‘. Jadi kita bisa baca-baca sendiri ilmu melalui buku atau kitab-kitab. Atau juga baca artikel dan sercing-sercing di gugel. Ini sah-sah saja sih. Sekedar baca buat pengetahuan.

Yang kedua itu ‘ilmun fil adzwaq’. Belajar yang melibatkan intuisi. Jadi belajar ilmu macam ini ndak akan bisa dipelajari kalo ndak sama guru. Se’alim apapun gugel, saya jamin ndak akan bisa sodara sodara. Misalnya ‘ilmu akhlak atau adab. Ilmu ini ndak akan bisa dicapai dan dirasakan sepenuhnya kalo ndak ada guru. Ya contohnya kalo pengen punya akhlak yang baik, paling enggak kumpul bersama orang baik minimal 40 hari sekali.

Ya that’s why, kalo ada seseorang yang kalo jangka waktu 40 hari ndak kumpul dengan para ulama’ maka hatinya kemungkinan akan menjadi keras dan mudah sekali melakukan maksiat.

Kenapa sih harus ketemu langsung? Belajar sendiri juga bisa yakan?

Karena ya itu. Tatap muka secara langsung akan memancarkan cahaya yang energinya tak akan bisa diwakilkan oleh siapapun atau apapun.

Jadi semacam gizi gitu. Semakin sering kita kumpul sama orang-orang baik, maka semakin banyak gizi yang kita dapetin 🙂

.

.

.

source: nailymakarima.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s