Harta Karun

#10Mengenalmu: Duduk di Sisimu

tumblr_oifxosyt761qcl4yko1_1280

Aku terbangun dari tidurku saat mendengar suara gemerincing air kran di sudut tempat wudhu. Sambil tetap berbaring kulihat jam tanganku. Masih pukul satu dini hari. Aku pun menata kembali sarung dan kantong tidur yang menyelimutiku. Udara dingin sekali di dataran tinggi seperti ini. Apalagi dengan bentuk mushola yang tak berdinding penuh ini. Aku pejamkan mata kembali, mencoba untuk melanjutkan tidurku tadi.
.
Aku terbangun lagi. Kali ini karena beberapa kali mendengar suara terisak. Kulihat jam tanganku lagi. Kali ini sudah pukul dua dini hari. Kuangkat sedikit kepalaku untuk mencari tahu sumber suara yang membangunkanku. Maka kutemukan dirimu sedang duduk di depan mihrab imam. Kepalamu sedikit tertunduk. Dan yang paling mencolok adalah caramu duduk yang sangat khas itu. Bertumpu pada pangkal pinggang, Kaki terangkat menekuk keatas, dan kedua lenganmu melingkari lutut yang berada di sekitar dadamu.
.
Duduk Qurfasha. Begitu yang kuingat dari penjelasanmu dulu saat menjelaskan tentang cara duduk Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sejenak memandangimu di depan mihrab, lalu kuangkat tubuhku bersandar ke dinding. Aku berusaha menaklukkan hawa yang begitu dingin terlebih dahulu. Kau masih tenang duduk di depan mihrab. Sepertinya belum menyadari kalau aku terbangun dan duduk di dinding shaf belakang.
.
Aku masih duduk menahan dingin yang sesekali membuat tubuhku merinding sambil sesekali memandangimu yang masih asyik duduk di depan mihrab. Empat tahun ini, kau salah satu orang yang paling berperan banyak dalam membentuk diriku sampai saat ini. Dimulai dengan perkenalan kita di tempat wudhu masjid sekolah saat jam istirahat. Kau yang saat itu hendak melaksanakan shalat dhuha, dengan senyum yang ramah memperkenalkan diri kepadaku. Sejak saat itu kita sering bertemu di masjid saat jam istirahat sekolah. Lucunya, pada awalnya aku sering menuju masjid saat jam istirahat hanya untuk bersantai dan menyantap bekal makanan di balkon masjid. Maklum uang sakuku tak seberapa banyak dan menu bekal makananku yang biasa saja membuatku sedikit kurang nyaman untuk makan di kelas bersama teman-teman yang rata-rata dari keluarga berpunya. Tapi karena seringnya kita bertemu di masjid dan kulihat kau selalu melaksanakan shalat dhuha, akupun mulai sesekali mengawali dengan shalat dhuha sebelum duduk di balkon dan menyantap bekal makananku. Sedangkan kau kulihat selalu duduk di tempat shalat sampai jam istirahat habis.
.
Hingga pada suatu hari saat jam istirahat selesai, kita berpapasan saat hendak turun dari lantai atas masjid. Kau mengajakku mengikuti kajian kelompok pekanan yang diadakan Rohis sekolah untuk siswa tahun pertama. Sejak saat itu kita semakin sering berjumpa, apalagi dengan berada dalam kelompok kajian pekanan yang sama. Seiring waktu kutemukan dirimu berbeda dengan dengan teman-teman lain seusia kita. Seperti ada magnet yang membuatku kagum dan tertarik pada perangaimu. Kaupun menjadi kawanku yang paling akrab. Darimu kupelajari hal-hal baru, wawasan-wawasan baru, terutama yang berkaitan dengan keislaman. Kita pun beraktivitas bersama dalam berbagai kegiatan dan kepengurusan Rohis sekolah. Hingga selulus SMA dan melanjutkan kuliah di jurusan masing-masing, kita masih berada dalam satu kelompok kajian pekanan yang sama. Sebagaimana hari ini kita sedang rihlah berlibur bersama satu kelompok pekanan yang rutin kita lakukan setidaknya setiap separuh tahun sejak masa sekolah dulu.
.
Hawa dingin yang mulai bisa kukompromikan dengan tubuhku akhirnya mengakhiri lamunanku. Aku putuskan untuk beranjak mengambil wudhu dan menunaikan beberapa rakaat tahajjud. Selepas kutunaikan witir, kulihat kau masih tenang duduk ‘Qurfasha’ di tempatmu sejak tadi. Sejenak berwirid lalu aku beranjak mendekatimu. Aku duduk di samping kananmu dengan duduk ‘Qurfasha’ pula sebagaimana dirimu. Melihatnya, kau pun tersenyum. Kau tahu aku lebih suka duduk bersila daripada duduk seperti yang kau lakukan.
.
“Kau tahu, Rasulullah sering terlihat duduk seperti ini di dalam masjid Nabawi.” Ujarmu.
.
Aku menyungging senyum mengafirmasi kalimatmu itu.
.
“Suatu hari seorang shahabiyah dari belakang melihat Rasulullah duduk seperti ini di masjid. Lalu shahabiyah tersebut mulai merinding dan tak tenang hatinya. Kau tahu kenapa?” Ujarmu menanyaiku.
.
“Kenapa?” Ujarku balik bertanya menyampaikan ketidaktahuanku.
.
“Beliau merasakan bahwa Rasulullah sedang dalam perenungan yang mendalam dan tampak khawatir saat duduk seperti ini. Rasulullah tak pernah khawatir terhadap hal-hal yang sepele. Maka ketika beliau tampak khawatir, pasti beliau sedang memikirkan umatnya. Mungkin Rasulullah sedang mengkhawatirkan ujian atau bencana yang akan menimpa umatnya. Karenanya Qaylah, nama shahabiyah ini, merinding dan tak tenang pula melihat kekhawatiran yang ia lihat pada Rasulullah. Mengetahui Qaylah sedang merinding tak tenang dibelakangnya saat diberitahu salah satu sahabat di dekatnya, Rasulullah pun berujar kepada Qaylah, ‘duhai wanita yang malang, tenanglah’. Mendengarnya, Qaylah pun perlahan mulai tenang.” Ujarmu menjelaskan.
.
“Aku tak menyangka, pada sikap duduk Rasulullah seperti ini, ada kisah yang begitu mendalam.” Sahutku terkesima.
.
“Ya, benar. Duduk dengan melingkarkan lengan memeluk lutut seperti ini membuat kita seperti sedang bersandar meskipun tanpa sandaran dinding. Sehingga seseorang bisa bertahan lebih lama dengan duduk seperti ini. Mungkin itu alasan Rasulullah duduk seperti ini, terlebih saat pikiran-pikiran berat sedang membebaninya. Duduk seperti ini juga menggambarkan ketawadhuan Rasulullah di sekitar umatnya. Sikap duduk yang mudah diakrabi, ramah, dan tidak menurunkan wibawa.” Ujarmu kemudian.
.
Aku mengangguk mendengarkan penjelasanmu itu. Dingin udara dini hari itu seperti mulai tak terasa ketika mendengarkanmu bercerita tentang Rasulullah.
.
Lalu suasana sejenak hening. Sepertinya kau sebagaimana aku, sedang asyik memikirkan Rasulullah di kepala kita masing-masing.
.
“Ceritakanlah lagi.” Ujarku memecah sejenak keheningan itu. Kau masih diam sesaat, tidak langsung melanjutkan ceritamu.
.
“Pernahkah kau membayangkan bagaimana rasanya duduk di sekitar Rasulullah? Atau duduk mendengarkan khutbah dan nasehat-nasehatnya?” Ujarmu malah bertanya.
.
“Aku sering berusaha membayangkannya, tapi aku sadar aku tak akan pernah bisa tahu bagaimana rasanya yang sebenarnya. Kau sendiri, bagaimana rasanya menurutmu?” Sahutku.
.
“Aku pun tak tahu pasti. Yang jelas itu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidup kita seandainya kita merasakannya. Kebahagiaan yang kita belum pernah rasakan, tapi kita mengenali kenikmatannya.” Jawabmu.
.
Suasana pun sejenak hening kembali. Mungkin kau sedang membayangkan duduk bersama Rasulullah. Mendengarkan khutbah dan nasehat-nasehat di majelisnya yang penuh berkah. Aku bisa membacanya dari air mukamu yang tenang dengan sorot mata yang berbinar itu.
.
“Saat itu Rasulullah mulai menurun kesehatannya. Di hari-hari menjelang akhir hayatnya.” Ujarmu tiba-tiba mulai bercerita. Akupun dengan seksama mendengarkanmu.
.
“Rasulullah meminta sahabat Fadhl bin Abbas mengencangkan ikatan di kepalanya. Kemudian beliau memapah Rasulullah yang bersandar di pundaknya untuk berjalan menuju masjid. Sesampainya, Rasulullah duduk di mimbar dan meminta sahabat Fadhl memanggil orang-orang untuk berkumpul. Kemudian Rasulullah berbicara dihadapan jamaah yang telah berkumpul di hadapannya. Rasulullah mengatakan bahwa waktu sudah semakin dekat baginya untuk meninggalkan umatnya. Siapa saja yang pernah Rasulullah pukul, boleh membalasnya. Siapa saja yang pernah Rasulullah hina atau permalukan, boleh membalas dengan hal serupa. Beliau mengatakan untuk tidak takut apabila mereka membalas Rasulullah akan membencinya, karena Rasulullah tidak memiliki sifat seperti itu dan tidak pantas baginya bersikap seperti itu. Rasulullah menginginkan mereka untuk membalasnya atau memaafkannya, agar ketika berjumpa dengan Penciptanya, adalah perjumpaan dengan kebahagiaan dan tanpa rasa takut. Setelah itu Shalat zuhur dilaksanakan, dan Rasulullah mengulangi lagi ucapannya setelah shalat zuhur selesai. Juga apabila ada yang Rasulullah berhutang kepadanya, Rasulullah meminta untuk diberitahu sehingga beliau bisa melunasinya. Karena kehinaan di dunia tidaklah ada artinya daripada kehinaan di akhirat kelak.” Ujarmu bercerita.
.
“Kemudian bangkit seseorang dan berkata bahwa Rasulullah berhutang kepadanya sebanyak 3 dirham. Lalu Rasulullah memintanya untuk mengingatkannya waktu dan kejadiannya. Lelaki itu pun menceritakan bahwa suatu hari ada seorang pengemis datang kehadapan Rasulullah dan beliau sedang tidak memiliki uang. Lalu Rasulullah memintanya memberikan 3 dirham kepada pengemis tersebut. Rasulullah kemudian meminta Fadhl untuk melunasi hutangnya kepada lelaki tersebut. Kemudian bangkit seorang lainnya. Dia mengaku kepada Rasulullah telah mengambil 3 dirham dari baitul mal secara curang. Ketika Rasulullah bertanya mengapa ia melakukannya, ia menjelaskan bahwa saat itu ia sedang benar-benar membutuhkan dan sangat putus asa. Rasulullah lalu memerintahkan Fadhl mengambil 3 dirham dari lelaki tersebut.” Ujarmu masih bercerita.
.
“Kemudian Rasulullah mengatakan, apabila ada diantara mereka yang takut dengan kebiasaan buruk yang mereka miliki, agar menyampaikannya kepada Rasulullah sehingga beliau dapat medoakan kebaikan baginya. Seseorang kemudian bangkit dan berkata bahwa dirinya mudah berbohong, munafik dan banyak tidur. Lalu Rasulullah mendoakan dirinya semoga Allah memberikannya sifat jujur, keimanan yang kuat dan kesembuhan dari penyakit banyak tidur. KEmudian seorang lainnya bangkit, dan berkata, ‘Ya Rasulullah, saya adalah seorang pembohong, munafiq, dan tak ada dosa yang belum pernah kukerjakan.’ Mendengarnya, Umar bin Khattab pun menghardik lelaki tersebut, memperingatkannya bahwa ia sedang membuka aibnya sendiri. Rasulullah lalu menenangkan sahabat Umar, ‘Tenanglah wahai Umar, aib di dunia masih lebih ringan dan lebih baik daripada aib di akhirat kelak.’ Kemudian Rasulullah mendoakan lelaki tersebut agar diberikan Allah sifat jujur, kekuatan iman dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian sahabat Umar bangkit dan menyampaikan pesan kepada para hadirin. Kemudian Rasulullah berkata, ‘Umar bersamaku, dan aku bersama Umar. Sepeninggalku, Umar akan tetap berada diatas kebenaran kemanapun ia pergi.’” Ujarmu.
.
“Ada lagi seseorang bangkit dan berkata kepada Rasulullah bahwa dirinya adalah seorang penakut dan banyak tidur. Rasulullah kemudian berdoa untuk lelaki tersebut. Kelak kemudian, sahabat Fadhl mengatakan, bahwa tak ada yang lebih pemberani dari lelaki ini, yang meminta Rasulullah mendoakannya dari sifat penakut. Kemudian Rasulullah beranjak mendekati bilik Siti Aisyah dan menyampaikan hal yang sama kepada para wanita yang berkumpul disana. seorang sahabiyah bangkit dan mengatakan pada Rasulullah bahwa dirinya tidak bisa menahan mulutnya dari perbuatan yang menyebabkan dosa. Maka Rasulullah pun mendoakan sahabiyah tersebut.” Ujarmu mengakhiri ceritamu dengan suara yang gemetar dan mulai terisak.
.
“Ada apakah?” Tanyaku kepadamu dengan penuh keheranan karena isakanmu.
.
“Mereka ini para sahabat Rasulullah. Generasi terbaik umat ini. Tapi mereka masih saja begitu takut dan khawatir dengan kemunafikan dan perangai buruk dalam diri mereka. Suatu masa diantara mereka merasa dirinya telah menjadi munafik lalu begitu takut dan sedih dengan hal itu. Sedangkan diriku, mungkin sering berdoa untuk ditetapkan dalam keimanan dan dijauhkan dari kemunafikan. Bahkan mungkin diriku rutin berdoa seperti itu selepas shalat. Tapi aku belum pernah benar-benar merasa khawatir bahwa diriku telah melakukan kemunafikan. Aku takut menjadi seperti apa yang pernah Imam Hasan al Basri katakan. Siapa yang tidak pernah merasa takut dengan kemunafikan, sebenarnya dia telah menjadi orang munafik. Aku takut. Aku takut. Aku takut telah menjadi munafik selama ini tanpa aku sadari. Sedangkan aku tak bisa seperti para sahabat yang langsung meminta didoakan Rasulullah yang pasti dikabulkan Allah doanya. Aku takut sekiranya kemunafikan dalam hatiku yang tak kusadari telah menghijab doa-doaku dari pengijabahan Allah. Ya Allah. Ya Rabb.” Ujarmu semakin terisak sambil terus memanggil nama Allah.
.
Aku tertegun. Tubuhku mematung disampingmu. Dingin tiba-tiba merasuki badanku. Aku bahkan tak mampu menggerakkan bibirku. Kau yang selama ini kujadikan cermin untuk mengakrabi kebaikan dan kebenaran, masih juga dipenuhi rasa takut seperti ini. Lalu bagaimana dengan diriku? Mungkin diantara kita, aku yang akan lebih mudah terjerumus dalam kemunafikan dan aku tak sadar akan hal itu.
.
Tubuhku gemetar. Tulangku seakan lepas. Jika Abu Bakar dan Hanzhalah saja berkata, ‘ya Rasulullah, kami telah munafik!’, lantas bagaimana dengan diriku?

.

.

.

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s