Tak Berkategori

Bundelan Azharologia

bundel

(Tuhan Maha Romantis, Konspirasi Semesta dan Seribu Wajah Ayah)

 

Bismillah..

Azhar Nurun Ala, sebuah nama yang tak begitu asing bagi saya. Tapi juga bukan berarti saya sangat mengenalnya. Namanya beberapa kali terbaca di beberapa quote yang bertebaran di dashboard tumblr saya.

Dia adalah penulis, saya tahu. Judul bukunya apa, belum sampai tahu, tapi jika disebutkan satu persatu judulnya, insyaaLlah dengan pede saya jawab “oh yang itu” :P, karena memang judulnya tak asing di telinga, banyak yang membicarakannya, lagi-lagi ini karena yang mereka bicarakan beberapa muncul di halaman dashboard tumblr saya :D.

Dan karena muncul di dashboard tumblr juga-lah :P, bundelan buku ini bisa sampai ditangan saya empat hari setelah saya memutuskan untuk membelinya. Dengan izin dan kehendak Nya tentunya. Dan guess what?, dalam kurun waktu 24 jam sejak kedatangannya, dua buku dari satu bundel yang berisi 5 buku ini sudah habis dibaca :”).

Tuhan Maha Romantis dan Konspirasi Semesta adalah dua judul yang pertama-tama saya baca. Setelah membaca buku yang pertama, saya sungguh-sungguh percaya bahwa Allah benar-benar Maha Romantis, bagaimana tidak? Rangkaian kata yang tertulis dalam kisah novel ini benar-benar memiliki kadar romantis yang cukup bikin baper, haha. Sedang yang menulisnya hanyalah seorang hamba, sebagian kecil dari ciptaan-Nya yang ada di planet biru ini. Maka sudah pasti tentu yang menciptakannya memiliki kadar romantis yang lebih melebihi dari semua ciptaannya. Yang paling Maha Romantis, tentunya.

Seribu Wajah Ayah, adalah buku ketiga yang saya baca habis di hari kedua bundelan ini tiba di rumah saya. Alhamdulillah, Maha Berkehendak Allah yang membuat saya membaca ini diurutan yang ketiga (?) :”), buku ini benar-benar menyelamatkan saya dari jebakan terbayang-bayang kisahnya seseorang dengan buah kiwi :P.

Berbeda dengan dua judul buku sebelumnya yang saya baca, buku ini lebih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk saya membacanya. Bukan, bukan karena jumlah halaman yang lebih banyak. Tidak, halamannya tidak lebih banyak dari dua judul sebelumnya sepertinya. Namun muatan yang berada dalam rangkaian kata di tiap lembarnya, benar-benar meransang otak saya untuk turut berpikir dan merenunginya, ditambah sesekali mengambil jeda untuk berhenti membaca, mengambil jeda untuk mengulang kembali membaca kalimat-kalimat yang baru beberapa detik yang lalu dibaca, mengambil jeda untuk menyadari ada sesuatu yang sesak di dada ini, ada sesuatu yang mulai panas di tepi kedua mata ini yang memaksa untuk keluar, ada sesuatu yang tanpa sadar tiba-tiba menarik otot-otot dan syaraf di sekitar bibir ini untuk mencipta sebuah senyuman haru, yang tanpa sadar ada aliran hangat yang mulai membasahi kedua pipi ini.

Speechless,
buku yang sangat bagus!:)
saya turut bersyukur atas Kuasa-Nya, Dia menggerakkan hati penulis untuk menjadikan kumpulan buah kontemplasinya ini –katanya penulis- tidak hanya untuk disimpan sendiri :”)

Sebuah kisah yang benar-benar penuh dengan pemaknaan. Pemaknaan tentang banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan yang sementara ini. Pemaknaan-pemaknaan yang sukses membuat pembacanya –saya misalnya- untuk turut merenungi dan melihat kembali kedalam diri sendiri.

Honestly, saya cukup ragu ketika akan memutuskan untuk membeli atau tidak bundelan buku ini. Pertama karena bundelan ini berisi novel (Tuhan Maha Romantis, Seribu Wajah Ayah dan Konspirasi Semesta) dan antalogi puisi, prosa dan cerpen (Ja(t)uh dan Cinta Adalah Perlawanan), untuk buku dengan bentuk novel saya memang membutuhkan berbagai pertimbangan yang lebih lama dan lebih mikir (?) untuk memutuskan jadi atau tidaknya membelinya bila dibandingkan keinginan untuk membeli buku yang lain, yang bukan novel. Seringnya tidak jadi, dan mencari alternative lain dengan mencari referensi siapa yang sekiranya punya dan bisa dipinjami :P.

Puisi dan prosa, ini yang menjadi alasan saya beberapa kali mengurungkan keinginan saya untuk mengirimkan sebuah pesan dengan format pemesanan bundel ke  nomor pemesanan yang sudah saya simpan dari beberapa hari sebelumnya, dari waktu pertama kali saya membaca postingan tentang bundelan buku ini di dashboard tumblr saya.

Saya bukanlah penggemar puisi dan prosa, walau salah seorang sahabat saya kerap kali mengirimkan saya beberapa rangkaian puisi hasil karya nya. Iya, ukhti yang satu ini sangat menyukai puisi :”). Dia juga ahli merangkai kata dan menyusunnya dengan indah dalam judul-judul puisi karyanya. Kok tahu indah? Iya –bagi saya- indah aja dibacanya, walaupun kadang –seringkali- tidak mengerti maksud dari rangkaian katanya. Paraaahh :P, yang seringkali juga berujung dengan pertanyaan, “ini puisi maksudnya apa?, buat siapa?” hahaha. Malu bertanya sesat dijalan :D.

Eh tapi,
salah satu dari 3 novel di bundelan ini yang sudah saya baca,
ada salah satu halaman yang menyampaikan,
bahwa Puisi memiliki dua dunia,
dunia penulis dan dunia pembaca,
yang masing-masing dari keduanya memiliki kebebasan untuk meng-interpretasi-kan suatu puisi dari sudut pandang dunianya,
dua dunia ini bisa jadi beririsan bisa juga tidak berisrisan dalam memaknai sebuah puisi yang sama. Semua bebas meng-interpretasi-kan menurut kacamatanya, menurut fikirannya dan menurut perasaan hati saat membacanya.

meskipun sahabat saya juga mengamini hal diatas, tentang dua dunia dalam puisi, tetap bagi saya butuh dan penting untuk bertanya tentang maksud dari rangkaian kata dalam puisinya. Biar dunia saya dan nya tidak terlalu jauh beririsannya :D.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal :”).
missal ditanya, menyesalkah akhirnya setelah memilih untuk memiliki bundel ini?
saya jawab enggaaaakk! :”),
walau sampai detik ini, saya masih belum berencana mengumpulkan niat untuk mengkhatamkan dua judul sisanya :P, sekali saya membuka beberapa halaman, membacanya dan mencoba untuk memahaminya, tapi tetap menghasilkan lebih banyak kerutan di kening –tanda ga mudeng dan ga ngerti maksud dari tulisan puisi dan prosanya- :P. Padahal pakai bahasa Indonesia ya nulisnya, tetap ga mudeng. Apalagi kalo pakai bahasa Rusia? 😛

 

.

.

.

 

Eh ada yang pernah bilang ke saya,
“biasanya yang mudeng sama puisi-puisi dan prosa-prosa tentang cinta kayak gituh tuh orang-orang yang lagi jatuh cinta, ta!”

 

:”)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s