Harta Karun

#9 Mengenalmu: Berjalan Bersamamu

tumblr_ohrcpasros1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

Aku tak mampu. Tiga hari kupaksa dan tetap saja aku tak mampu. Kalimat-kalimat yang biasanya mudah saja kurangkai tiba-tiba jadi beku. Jemariku kaku saat kucoba menari diatas tombol-tombol keyboard.
.
Mungkin Malu. Malu saat tahu ada sekelompok manusia begitu baja tekadnya. Menempuh perjalanan berratus kilometer, berjalan kaki. Apa yang mereka cari? Apa yang membuat mereka begitu ‘nekat’? Kekuatan apa yang merasuki kaki-kaki mereka? Beragam pertanyaan silih berganti memenuhi kepalaku tanpa ada yang terjawab. Mungkin karena aku tak tahu rasanya.
.
Kuputar lagi rekaman-rekaman itu sesempat waktu. Beberapa malamku bahkan sempat tak menyenangkan. Bagaimana tidak, sambil berbaring dan lampu kamar telah padam, mataku masih tak habis-habis meneteskan air mata melihat rekaman-rekaman perjalanan mereka. Kenekatan mereka ternyata tak banyak dicemooh tapi malah mengundang simpati dan dukungan. Tanpa ada instruksi orang-orang berbondong-bondong datang ke sisi-sisi jalan yang mereka lewati. Mereka disambut layaknya pejuang yang terhormat. Bermacam hidangan dan bantuan perlengkapan rapi berjejer di jalan-jalan disuguhkan untuk mereka. Kulihat kaum ibu berkaca-kaca matanya sambil menyerukan doa dan keselamatan untuk mereka. Para bapak menyambut dengan pelukan dan ciuman di kening-kening mereka. Anak-anak meneriakkan yel-yel penyemangat yang disambut takbir berkali-kali. Pemandangan macam apakah ini? Aneh, susah dimengerti dan sulit dijelaskan akal, tetapi tetap saja mampu membuat hatiku luluh.
.
Lalu hari pamungkas itu tiba. 2 Desember 2016. Dan aku mungkin termasuk yang datang terakhir di antara mereka.
.
“Apa yang membuat manusia berbondong-bondong datang kemari?” Tanyaku padamu di sisi salah satu jalan, menumpahkan pertanyaan-pertanyaan yang menyesaki benakku sejak kemarin.
.
“Banyak hal, tapi sebenarnya muaranya satu.” Jawabmu ringan meninggalkan keheranan lain bagiku.
.
“Maksudmu?” Tanyaku mengejar.
.
“Ada yang datang kemari karena kecintaannya pada Al Qur’an. Ada yang karena kepatuhannya pada kyai. Ada yang karena keberpihakannya kepada umat. Mungkin juga ada yang sekedar menemani orang tua, saudara, atau kawan-kawannya. Tapi kau tahu apa yang sama diantara semua alasan-alasan itu?” Ujarmu menjelaskan diikuti pertanyaan kepadaku.
.
“Mmm, apakah itu?” Tanyaku menyerah, tak bisa lagi berpikir setelah semua pertanyaan-pertanyaan menyesaki benakku itu.
.
“Iman.” Jawabmu singkat.
.
“Iman?” Tanyaku dengan mengulang ucapanmu karena heran.
.
“Ya, Iman. Apapun alasan orang datang kemari, aku yakin itu semua adalah akibat dari Iman. Iman memiliki akibat, kawan. Bahkan pada porsi paling kecil sekalipun. Akibat Iman hanya antara dua, meridhai kebaikan atau menyelisihi keburukan. Sedangkan bagaimana bentuknya, itu tergantung pada besar porsinya masing-masing.” Jawabmu menjelaskan keherananku.
.
“Iman itu mungkin semacam cermin. Memantulkan cahaya sebanyak cahaya yang sampai padanya. Kau tentu tahu tentang hadits saat melihat kemungkaran. Diantara menghalau dengan tangan, mencegah dengan lisan, dan mengingkari dengan hati, yang terakhir itu adalah selemah-lemah Iman. Begitulah Iman menggerakkan orang-orang ini datang kemari dengan berbagai niat dan alasan yang mereka bawa. Bahkan pada alasan paling sepele yang membuat mereka datang kemari sekalipun, itu adalah akibat dari Iman yang ada di dada mereka.” Ujarmu melanjutkan.
.
Aku hanya bisa diam mendengar penjelasanmu. Mencoba memahaminya dengan baik.
.
“Kau tahu sekelompok orang yang berjalan dari Ciamis itu?” Tanyamu kemudian, sesaat setelah melintas serombongan remaja sambil melantunkan syair-syair salawat.
.
“Ya aku tahu.” Jawabku menganggukkan kepala.
.
“Tak herankah kau dengan apa yang menguatkan kaki dan tekad mereka berjalan sejauh itu? Di masa yang sudah dimudahkan dengan berbagai moda transportasi seperti ini, hal itu sangat sulit dilakukan orang dengan tekad biasa.” Ujarmu mengingatkanku lagi pada sumber ketidaktenanganku setiap malam itu.
.
“Tentu saja aku heran. Malah merekalah yang menjadi penyesak utama dalam benakku hari-hari ini.” Sahutku seketika.
.
“Aku jadi iri dan malu kepada mereka. Menyaksikan rekaman-rekaman itu seakan aku melihat mereka sedang berjalan bersama Rasulullah.” Ujarmu yang membuatku mengernyit heran.
.
“Berjalan bersama Rasulullah?” Tanyaku mengungkapkan keheranan.
.
“Kita mungkin sekedar tahu dari bacaan-bacaan kita tentang bagaimana Rasulullah berjalan. Beliau Berjalan dengan tegak yang tak membuatnya terlihat sombong, juga dengan tawadhu yang tak membuatnya terlihat lemah. Sebatas itu yang kita tahu. Tapi mereka mungkin lebih paham bagaimana rasanya Rasulullah berjalan. Jarak yang jauh mereka tempuh dengan tekad yang tegak. Disambut di sepanjang jalan tak membuat mereka berbangga diri tapi malah menjadi pemantik semangat mereka untuk terus berjalan. Kau tak akan berani menyebut mereka lemah meskipun ada diantara mereka yang akhirnya harus ditandu dan berhenti berjalan karena keterbatasan kondisi.” Ujarmu menjelaskan.
.
“Melihat mereka dari rekaman-rekaman itu seakan mereka sedang berkata padaku, beginilah Rasulullah mengajarkan kami berjalan. Tegak tanpa kesombongan, merendah tanpa kehinaan. Mereka seakan berjalan bersama Rasulullah. Bagi mereka berjalan dengan Rasulullah tak perlu menunggu kehadiran fisik beliau secara nyata. Mungkin juga seperti yang dirasakan kafilah hijrah pertama ke Habasyah. Apa menurutmu yang membuat mereka rela jauh dari Rasulullah, menuju negeri antah-berantah, terpisah dari keluarga dan saudara, pun keselamatan yang belum pula terjamin? Aku rasa mungkin karena mereka juga paham bahwa meski fisik Rasulullah tak membersamai mereka, tapi mereka tetap berjalan bersama Rasulullah. Berjalan bersama kecintaan kepada Rasul mereka. Berjalan bersama kepatuhan atas titah Rabb mereka.” Ujarmu panjang lebar membuatku hanya bisa terdiam memperhatikan setiap kata yang kau ucapkan.
.
“Kita mungkin sekedar tahu dari bacaan-bacaan kita tentang Rasulullah yang terkadang berjalan bertelanjang kaki. Tapi kita mungkin tak akan lebih paham dari Ali bin Abi Thalib sepupu Rasulullah saat itu yang tertinggal terakhir berhijrah ke Madinah. Setelah sebelumnya berkorban diri telah siap mati menggantikan Rasulullah tidur di ranjangnya, menunggu tebasan pedang para pemuda Quraisy yang telah mengepung rumah Rasulullah itu. Ali berjalan terakhir saat berhijrah menuju Madinah, tertinggal tiga hari dari Rasulullah dan Abu Bakar. Sesampainya, Rasulullah meminta Ali untuk menemuinya, tapi ia tak mampu lagi berjalan. Saat Rasulullah datang, beliau menemukan sepupunya itu membengkak dan berdarah kedua kakinya. Rasulullah sampai menangis dan memeluk Ali. Beliau meludah ke kedua tangannya dan mengusap ke kedua kaki Ali seraya mendoakan kesehatan untuknya. Sejak saat itu tidak pernah lagi Ali merasakan sakit hingga kematiannya.” Ujarmu lagi
.
“Aku takut. Aku takut jika saja selama ini belum benar-benar mengenal Rasulullah. Aku mungkin hafal betul berbagai seluk beluk fisik dan perilakunya. Tapi aku sering tertinggal dari yang lainnya dalam beramal. Seakan Rasulullah hidup di setiap amal mereka, sedangkan padaku, Rasulullah mungkin hanya hidup dalam hafalan dan ingatan. Aku belum benar-benar bisa seperti mereka yang mampu berjalan bersama Rasulullah bahkan tanpa kehadirannya sekalipun. Lalu selama ini bersama siapa aku berjalan?” Ujarmu semakin menyesakkan dadaku.
.
Bibirku tak bergeming. Lidahku kaku. Pertanyaan di akhir ceritamu itu pun berkelebat terus di pikiranku. Selama ini bersama siapa aku berjalan? Diatas jalan siapa aku berjalan? Lama kita terdiam setelah ceritamu itu. Hingga tak terasa rintik-rintik hujan mulai berjatuhan diiringi Adzan yang menggema memenuhi ruang-ruang jalanan. Semakin deras hujan turun saat itu, meski tak membuat orang-orang beranjak dari tempatnya. Kulihat beberapa orang berwudhu dengannya. Sebagian lain mulai menata shaf mereka. Kau pun bangkit mengajakku bergabung dalam barisan shaf shalat jumat paling besar sepanjang hidup kita itu. Jutaan manusia pun khusyuk bersama melaksanakan shalat jumat diantara rintik hujan yang membasahi tubuh mereka.
.
Selesai shalat jumat dan ditutupnya rangkaian acara itu, aku berjalan pelan menyusuri pinggir jalan sepanjang Thamrin. Dari belakang kudengar suara gemuruh manusia yang hendak bergerak berkonvoi menyusuri Thamrin hingga Sudirman. Lamat-lamat kupandangi mereka, hingga terngiang di telingaku sebuah ayat yang pernah disyarah Murabbi kami dulu di suatu sesi pertemuan pekanan.
.
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS At-Taubah: 41)
.
Rombongan konvoi itu semakin mendekat ke tempatku berdiri. Jantungku serasa dipompa semangat yang entah datang dari mana. “Ya Rasulullah, ijinkan aku berjalan bersamamu.” Ujarku lirih seraya melangkahkan kakiku mengikuti rombongan manusia menyusuri jalan Thamrin – Sudirman siang itu.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s