Harta Karun

#7 Mengenalmu: Cincin di Jemarimu

tumblr_ohesqr3gs31qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

Aku sedang duduk di pelataran rumah kita membaca sebuah kitab berjudul Al Wafa, saat kau menghampiri dari dalam dengan membawa segelas susu hangat diatas nampan. Kau letakkan segelas susu itu diatas meja di hadapanku. Lantas kau duduk di sampingku. Kau silangkan tangan kirimu ke tangan kananku. Sambil menyandarkan kepalamu di pundakku, sesekali kau mengelus cincin perak di jari manisku.
.
Tak terasa sudah tiga bulan berlalu saat aku mengucap akad dengan ayahmu untuk menikahimu. Maharku tak banyak, tapi engkau ridha. Lalu cincin perak yang sama-sama kita pakai ini adalah hadiah untukmu atas pernikahan kita.
.
“Sejak kau membisikiku saat memasangkan cincin ini di jemariku, bahwa cincin Rasulullah juga terbuat dari perak, aku jadi sering mengingat Rasulullah saat memakai atau melihat cincin kita.” Ujarmu sambil mengelus cincin di jemariku.
.
Mendengar ucapanmu itu, aku hanya tersenyum dan menempelkan kepalaku ke kepalamu yang sedang bersandar di pundakku.
.
“Ceritakanlah lagi padaku tentang cincin Rasulullah. Aku suka mendengarmu bercerita tentang beliau.” Pintamu sambil sedikit mendongak kearah wajahku.
.
“Baiklah.” Jawabku mengiyakan sambil menutup kitab yang sedang kubaca. “Seperti cincin kita, cincin Rasulullah juga terbuat dari perak. Sedangkan permata pada mata cincinnya disebutkan berasal dari Abessinia.” Ujarku mulai bercerita.
.
“Beliau disebutkan memiliki dua cincin. Salah satu cincinnya berfungsi sebagai stempel resmi untuk mengirim surat ke raja-raja dan penguasa di luar Madinah. Saat itu Rasulullah hendak mengirim surat dakwah kepada penguasa-penguasa bangsa Ajam. Tetapi formalitas menghendaki surat yang diterima raja atau penguasa harus memiliki stempel, maka dibuatlah cincin yang difungsikan sebagai stempel untuk Rasulullah.” Ujarku panjang lebar menceritakan.
.
“Pada cincin itu terukir tulisan ‘Muhammad Rasulullah’ dalam tiga urutan baris. Beliau melarang sahabat untuk membuat cincin yang meniru miliknya agar dapat diketahui keaslian cincin tersebut. Kau tahu? cincin perak Rasulullah berwarna putih sekali. Seorang sahabat yang menceritakan tentangnya sampai begitu ingat betapa putihnya cincin itu di tangan Rasulullah.” Ujarku masih bercerita.
.
“Bagaiman cara Rasulullah memakai cincin?” Tanyamu kemudian.
.
“Ada riwayat yang menyebutkan beliau memakai di tangan kanan, dan ada pula yang menyebutkan di tangan kiri. Jika mengikuti kesesuaian adab sebagaimana dikaji Imam Ibnu Hajar, beliau menyimpulkan bahwa digunakan di tangan kanan untuk menampakkan keindahan, dan digunakan di tangan kiri jika berfungsi sebagai stempel. Begitu juga apakah mata cincin menghadap ke luar atau ke dalam. Apabila untuk menampakkan keindahan maka dihadapkan ke luar, sedangkan untuk melindungi dari kesombongan maka dihadapkan ke dalam. Beliau lebih suka memakai cincinnya di jemari paling kecil, kelingking atau jari manis.” Jawabku menjelaskan.
.
“Beliau juga melepaskan cincinnya ketika hendak memasuki kamar kecil. Ini sebagian adab yang diajarkan Rasulullah untuk tidak menyertakan lafadz ayat-ayat Al Qur’an dan lafadz nama Allah saat memasuki kamar kecil.” Ujarku melanjutkan.
.
“Saat ini, apakah cincin Rasulullah masih tersimpan?” Tanyamu.
.
“Sahabat Muaiqib adalah yang menjadi penyimpan cincin stempel Rasulullah sejak beliau masih hidup. Sepeninggal beliau, cincin itu masih digunakan oleh Amirul Mukminin Abu Bakar, Umar, hingga Utsman, radhiyallahu anhum. Di masa Utsman, saat beliau bertemu di dekat sumur Aris untuk mengembalikan cincin itu kepada sahabat Muaiqib, cincin itu jatuh ke dalam sumur Aris dan tidak bisa ditemukan. Sebagian ulama menyebutkan sejak saat itu mulai muncul kegaduhan dan fitnah di masyarakat.” Jawabku panjang lebar.
.
“Jadi cincin itu semacam menjadi isyarat tentang masa-masa yang terjadi sepeninggal Rasulullah.” Ujarmu menduga.
.
“Bisa jadi.” Sahutku. “Ah, terkait itu, aku jadi ingin menambahkan cerita kepadamu tentang cincin Rasulullah. Maukah kau mendengarkannya?” Tanyaku kemudian.
.
“Tentu saja. Ceritakanlah.” Sahutmu seketika.
.
“Bagiku, cincin Rasulullah seakan menyimpan rentang masa yang jauh melampaui usia beliau. Rentang masa yang telah ditakdirkan oleh Allah bermula dari cincin ini. Kau tahu cincin Rasulullah dibuat sebagai stempel untuk mengirim surat dakwah ke penguasa-penguasa di luar Madinah. Kisra penguasa Persia, Kaisar penguasa Romawi, dan Najasyi penguasa Abessinia adalah diantara penguasa yang Rasulullah kirimi surat dakwah.” Ujarku mulai bercerita.
.
“Kisra penguasa Persia itu menerima surat Rasulullah. Lalu keangkuhannya membuatnya menolak ajakan Rasulullah dan merobek surat tersebut. Mendengarnya Rasulullah pun berdoa semoga Allah merobek-robek kerajaannya. Maka terjadilah hal itu. Tak lama Kisra penguasa Persia dibunuh dengan keji oleh anaknya, dan selama bertahun-tahun kemudian kerajaan Persia dalam keadaan tidak stabil, penuh pemberontakan dan berganti-ganti penguasa.” Lanjutku menceritakan.
.
“Lalu Kaisar Heraklius penguasa Romawi. Ia menerima surat dakwah Rasulullah dan membacanya. Ia mentakzimi surat tersebut. Bahkan ia menghardik pamannya yang mencela surat tersebut karena tidak mendahulukan nama Heraklius sebelum nama Rasulullah. Heraklius pun menjawab pamannya, “Kau ingin aku membuang surat yang ditulis oleh orang yang didatangi Malaikat Jibril? Jika dia seorang utusan Allah, maka begitulah memang utusan Allah menulis surat!” Kemudian Ia mengumpulkan para menterinya dan dikabarkannya tentang seorang utusan Allah yang berasal dari Arab. Maka gusar dan marahlah para menterinya, yang menyebabkan kaisar mengurungkan niatnya untuk mengajak mereka memeluk Islam, karena takut akan dibunuh dan kekuasaannya dirampas. Ia lalu mencium surat dari Rasulullah itu dan menempelkannya di keningnya. Ia simpan surat itu dalam kotak emas dan balutan sutera. Ia dan generasi-generasi selanjutnya tetap menyimpan kotak emas berisi surat Rasulullah itu. Ia pernah berujar di hadapan kafilah Arab yang sedang berdagang di Syam, bahwa andaikan Rasulullah dihadapannya, ia akan membasuh kaki Rasulullah. Ia bahkan yakin suatu saat Islam yang dibawa Rasulullah akan mencapai wilayah kerajaannya. Kepadanya, Rasulullah berujar bahwa Kisra memilih merobek-robek kerajaannya, sedangkan Kaisar memilih untuk melindungi kerajaannya.“ Ujarku panjang lebar masih bercerita.
.
“Kemudian kepada Najasyi penguasa Abessinia. Surat itu diberikan kepadanya melalui sahabat Amr bin Umayyah Ad-Damri. Menerima surat itu dan membacanya, Najasyi menemukan kebenaran dalam surat Rasulullah. Dan persaksian Rasulullah bahwa Isa adalah utusan Allah semakin memantapkan keyakinannya. Maka ia pun masuk Islam dan mengumumkannya kepada khalayak. Kemudian Najasyi mengutus anaknya untuk membalas surat Rasulullah. Berangkatlah anaknya disertai rombongan 70 orang untuk bertemu Rasulullah. Namun kapal yang dinaiki mereka tenggelam di tengah lautan dan tak ada satupun dari mereka yang selamat. Raja Najasyi ini meninggal ketika Rasulullah masih hidup. Kepadanya, Rasulullah melakukan shalat jenazah setelah mendapat kabar kematiannya. Itulah diantara kisah di balik cincin Rasulullah.” Ujarku menyelesaikan cerita.
.
“Benar sekali apa yang kau katakan, Mas. Cincin Beliau menyimpan rentang masa yang begitu jauh dan panjang akan perjalanan dakwah Islam yang dibawanya.” Ujarmu setelah dengan seksama mendengarkan ceritaku.
.
“Begitulah. Cincin beliau menyimpan cerita kehancuran orang-orang yang angkuh seperti Kisra, tidak berdayanya isyarat hati yang diselimuti rasa malu dan ketakutan seperti Kaisar, serta bersemangatnya jiwa menyambut kebenaran dan kerelaan berkorban seperti Najasyi beserta anaknya.” Ujarku lagi.
.
“Benar sekali, Mas.” Sahutmu mengiyakan.
.
“Begitu juga cincin yang kita pakai ini.” Lanjutku lagi, diiringi kernyit heran di pelipismu mendengarnya.
.
“Memangnya, ada apa dengan cincin yang kita pakai?” Tanyamu heran.
.
“Aku berharap selain ia menjadi pengikat biduk rumah tangga kita, ia juga merentangkan masa melebihi umur kita kelak. Rentangan-rentangan berupa generasi yang melanjutkan perjalanan dakwah Nabi kita yang bermula dari cincinnya. Generasi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintai mereka. Begitulah aku memulai niatku saat meminangmu.” Ujarku sambil kembali menempelkan kepalaku ke kepalamu.
.
Mendengarnya kau tersenyum simpul dan merajuk lembut di pundakku. “Begitu pula niatku saat menerima pinanganmu.” Ujarmu sambil menggenggam jemariku.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s