Harta Karun

#6 Mengenalmu: Diantara Tapak Kakimu

tumblr_ohcwcfqkpl1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

 

Aku ingat tentang suatu hadits yang pernah sama-sama kita dengar di majelis pengajian Tuan Guru. Saat itu kau dan aku masih mengkhidmat ilmu di sebuah madrasah di pelosok Tanah Sasak. “hadits yang mewariskan cinta,” ujarmu menjuluki hadits itu.
.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik secara marfu’, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu dapat mewariskan kecintaan dan menghilangkan kedengkian.”
.
Maka tersebab hadits ini para santri selalu merutinkan tradisi bertukar hadiah di madrasah setiap bermulanya bulan Ramadhan. Tak hanya itu, kita pun masih selalu menjaga kebiasaan ini setiap kali kita melakukan pertemuan. Karena serampung mengkhidmat ilmu di madrasah, kita berpisah tempat cukup jauh, maka pertemuan kita yang sesekali itu selalu kita langgengkan dengan hadiah.
.
Di Jogja, setelah menyelesaikan urusan-urusan di hari itu, aku menyempatkan diri mengunjungi gerai dagangan seorang shalih. Ia dan grup musiknya, dulunya idola anak-anak muda dan dewasa. Menghabiskan usia mudanya dalam dunia penuh gemerlap, ternyata Allah menakdirkan jalan cahaya kepadanya. Jadilah ia berhijrah menuju kebaikan yang diridhai Allah. Ia tanggalkan kegemerlapan masa lalu dan menyusuri jalan hijrahnya dalam kesederhanaan.
.
Di gerainya saat aku melihat replika sandal Rasulullah dan pin berbentuk alas sandal Rasulullah, tetiba saja aku teringat dirimu. Bagaimana tidak, belum lagi aku temui kawan yang sebesar engkau dalam mencintai Rasulullah. Kau habiskan malam-malammu di madrahsah dulu sebelum tidur dengan membaca kitab-kitab yang membahas sirah Rasulullah. “Aku ingin mengenali Rasulullah sekenal-kenalnya. Agar di padang Mahsyar nanti, aku bisa mengenalinya seketika tanpa harus menunggunya menyeru kepadaku untuk meneguk air dari telaga kautsar.” Ujarmu saat aku menanyai perihal kebiasaanmu kala itu.
.
Maka demi mengingati ‘hadits yang mewariskan cinta’ itu, tanpa berpikir dua kali aku beli sepasang replika sandal dan tiga buah pin alas sandal Rasulullah itu sebagai hadiah untukmu dan aku kirim ke alamat rumahmu. Aku ingin kita selalu mewarisi cinta meskipun tak berada di tempat yang sama. Lebih dari itu sebenarnya aku ingin mewarisi kecintaanmu yang begitu besar kepada baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
.
Saat itu selepas shalat Ashar dan aku masih duduk-duduk di pelataran masjid, ponselku berdering. Kulihat layar ponsel dan ternyata kau yang menghubungikan. Maka segera kuangkat ponsel untuk bersambung dengan suaramu.
.
“Terima kasih hadiah yang kau kirim telah sampai kepadaku dengan selamat.” Ucapmu selepas kita saling salam dan bertanya kabar.
.
“Apa kau suka?” Tanyaku penasaran.
.
“Tentu saja. Kau tahu, aku bahkan sempat melinangkan air mata saat membuka hadiah darimu. Kau membuatku teringat dengan obrolan-obrolan malam kita membahas Rasulullah saat di madrasah dulu.” Jawabmu yang membuatku lega.
.
“Ya, aku juga masih ingat saat-saat itu. Sandal itu bahkan secara spesifik mengingatkanku pada suatu malam kita berbincang membahas sandal Rasulullah. Kau sampai harus menggambar di papan tulis untuk membantuku mendapat gambaran yang jelas tentang sandal Rasulullah.” Ujarku mengenang masa-masa di madrasah dulu.
.
“Ya aku ingat sekali malam itu. Kau begitu antusias dan seksama mendengarkan penjelasanku akan bentuk sandal Rasulullah. Padahal malam itu sudah cukup larut dan telah lewat waktu bagi kita untuk tidur. Tapi karenamu melihatmu akupun berusaha menahan kantukku saat itu.” Sahutmu menyambung kenang-kenangan masa itu.
.
“Aku ingat begitu banyak hal kau ceritakan padaku hanya dari membahas sandal Rasulullah. Dari sandal Rasulullah saja aku mendapat berbagai pelajaran berharga tentang adab, akhlak, menjaga keselamatan, hingga qana’ah dan kezuhudan.” Ujarku melanjutkan.
.
“Ya, kau tahu, sandalnya memiliki dua tali pengikat, satu di antara ibu jari dan jari telunjuk, satu lagi di antara jari tengah dan jari manis kaki. Dan terbilang istimewa, karena saat masyarakat Arab suka memakai sandal yang berbulu, sandal Rasulullah tidak memiliki bulu. Persis seperti replika yang kau hadiahkan padaku.” Ujarmu.
.
“Benar. Sandalnya terbuat dari kulit hewan yang bagus, dibuat dengan baik. Bagian depannya melindungi jari-jari dari batu, jarum dan semisalnya. Bagian belakangnya juga dibuat sehingga bisa melindungi tumit beliau yang lunak. Beliau sangat memperhatikan keterjagaan diri sebagai bentuk mensyukuri nikmat Allah.” Lanjutku.
.
“Benar sekali. Suatu kali pernah saat saat Rasulullah hendak memasukkan kakinya ke sandal, seekor burung tiba-tiba datang dan menyergap sandal Rasulullah. Burung itu membawa terbang sandal Rasulullah kemudian dijatuhkannya, Ternyata ada seekor ular di dalam sandal itu yang kemudian keluar ketika sandal jatuh. Setelah itu Rasulullah selalu membiasakan dan mengingatkan para sahabat untuk mengibas sandal atau sepatu sebelum dipakai.” Sahutmu melanjutkanku.
.
“Beliau juga mengajarkan untuk berperilaku seimbang. Beliau tidak suka memakai sandal hanya sebelah saat berjalan. Satu kaki memakai sandal, satunya tidak beralas. Ini menunjukkan ketidakseimbangan yang bisa menyebabkan kerugian bagi diri sendiri. Selain hal itu menampakkan akhlak yang kurang baik. Apabila memakai sandal, maka pakai keduanya, atau tidak sama sekali. Begitulah yang beliau ajarkan, sebagaimana yang kau jelaskan padaku di malam itu.” Lanjutku.
.
“Iya, begitu juga saat memakai dan melepas sandal. Beliau memakai dengan memulai dari kaki kanan, dan ketika melepas memulai dari kaki kiri. Adab seperti ini juga berlaku terhadap setiap apa yang kita kenakan selain sandal.” Ujarmu menambahkan.
.
“Benar sekali. Beliau juga mencontohkan bagaimana adab saat membawa sandal. Beliau membawanya dengan tangan kiri, yaitu dengan jari kelingking yang mengait membawa sandal tersebut. Beruntunglah sahabat Abdullah ibnu Mas’ud yang mendapat kemuliaan sebagai pembawa sandal Rasulullah.” Ujarku kemudian.
.
“Aku jadi teringat, beberapa hari setelah malam itu kita berbincang tentang sandal Rasulullah, aku bermimpi. Dalam mimpiku, sekilas aku melihat tanganmu membawa salah satu sandal dan tanganku membawa satunya lagi, kita bersama-sama berjalan menuju arah yang sama. Jauh kuamati saat bermimpi itu, aku dapat memastikan sandal itu mirip dengan ciri-ciri sandal Rasulullah. Tapi mimpiku hanya sebatas itu, kemudian aku terbangun.” Ujarmu yang membuatku sedikit terperangah.
.
“Benarkah? Jangan-jangan…” Tanyaku mencoba meyakinkan.
.
“Ya, aku juga berharap seperti itu. Selepas bangun dari mimpi itu, aku sempat berdoa semoga Allah menjadikan aku dan dirimu sebagai pembawa sandal Rasulullah di akhirat kelak. Sebagaimana Abdullah ibnu Mas’ud yang mendapatkan kemuliaan itu di dunia.” Ujarmu dari balik ponsel yang seakan menghembuskan angin sejuk ke telingaku.
.
“Amiin ya Rabb.” Jawabku mengamini doamu.
.
Senyumku simpul setelah bertelepon denganmu sore itu. Lantas kupandangi langit sekitar yang cukup teduh. Pandanganku jauh ke depan. Mataku nanar. “Layakkah aku ya Rabb?” ujarku lirih.
.

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s