Harta Karun

#5 Mengenalmu: Kain-Kain Pakaianmu

tumblr_oh7ce4kxiu1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

 

Ahad itu pagi-pagi sekali kau mengajakku pergi ke pasar baju bekas. “Bantu aku mencari baju. Barangkali masih ada yang cukup layak kubeli. Biasanya awal bulan masih banyak yang bisa dipilih.” Ucapmu kala itu, sambil menaiki sepeda kita masing-masing.
.
Kau suka sekali pergi ke tiga tempat ‘bekas’. Pasar baju bekas, buku bekas, dan barang bekas. Dan sialnya kau selalu bisa mengajakku untuk menemanimu berpetualang di dunia bekas itu, atau mungkin lebih karena aku tak punya banyak alasan untuk menolak ajakanmu. Hingga aku sampai hafal, sebagian besar pakaian yang kau pakai berasal dari pasar baju bekas.
.
“Uwakku baru pulang dari melayar. Dia beri aku uang saku lumayan banyak. Kalau kau mau, aku ingin membelikanmu kaos baru. Di Ramayana mungkin? Sebagai terima-kasihku karena kau telah membantuku belajar di tingkat kelas kemarin. Akhirnya aku bisa dapat peringkat sepuluh besar untuk pertama kalinya.” Ujarku menyampaikan maksud.
.
“Ah tak perlu. Mmm, atau begini saja, kalau kau mau, bayarkan saja salah satu baju bekas yang aku beli sekiranya ada baju yang cocok nanti?” Jawabmu menawar sambil cekikikan.
.
“Tentu saja, ayo.” Sahutku sambil mempercepat kayuhan sepeda kita.
.
Sepanjang jalan aku mengingat-ingat kembali perbincangan kita di waktu silam. Saat aku menanyakan kenapa kau lebih suka membeli baju bekas padahal secara kemampuan orang tuamu kau bisa membeli yang lebih baik.
.
“Entahlah. Mungkin ini bermula saat aku kecil dulu.” Ujarmu menjawabku.
.
“Ceritakanlah.” Sahutku meminta.
.
“Saat kecil dulu, rezeki finansial ayahku tidak seperti saat ini, alhamdulillah.” Ujarmu memulai cerita.

Saat itu menjelang hari raya. Seperti biasa, setiap orang tua membelikan baju baru untuk anak mereka pakai di hari raya. Kau menunggu ayahmu pulang, berharap sore itu ia akan mengajakmu membeli baju baru.
.
Ayahmu pun pulang, dan setelah berada di kamarnya beberapa saat dengan ibumu, beliau keluar kamar dan mengajakmu membeli baju baru. Kau tampak sangat senang saat itu.
.
Ia memboncengmu dan ibumu dengan sepeda motornya. Kau di depan, ibumu di belakang. Kalian menuju toko baju di pusat kota. Ini pertama kalinya kau diajak langsung untuk membeli baju baru. Tahun-tahun yang lalu, Ayahmu selalu menghadiahkannya di rumah.
.
Setelah membeli baju barumu, kalian naik kembali ke kendaraan. Kau mengira kalian akan pulang. Ternyata ayahmu berbelok melawan arah jalan pulang. Kau pun mengira beliau menuju toko lain untuk membeli baju baru untuk ibumu dan dirinya. Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, kau melihat mereka juga memakai baju baru di hari raya.
.
Ternyata dugaanmu salah lagi. Ayahmu membawa kendaraan menuju ke pasar yang tak jauh dari ruko-ruko di pusat kota. Pasar baju bekas. Kaupun jadi sedikit heran awalnya. Sesampainya disana kau bertanya kepada ayahmu perihal keherananmu.
.
“Ayah, apakah ayah sudah beli baju baru untuk ayah dan ibu?” Tanyamu.
.
“Iya nak, ini kita mau mencari baju baru untuk ayah dan ibu.” Jawabmu tenang. Kau pun semakin heran.
.
“Kok mencari disini? Bukankah ini pasar baju bekas?” Tanyamu masih keheranan.
.
“Iya benar, Nak. Kita cari, semoga ada baju yang cocok untuk ibu dan ayah.” Jawab ayahmu.
.
“Sebelum-sebelumnya, ayah dan ibu juga beli baju untuk hari raya di sini?” Tanyamu lagi. Ayah dan ibumu hanya tersenyum mendengar pertanyaanmu.
.
Ayahmu melihat wajahmu masih penuh dengan keheranan. Ia pun mengajakmu duduk di sebuah bangku. Sementara ibumu memilah-milah dan melihat-lihat pakaian demi pakaian yang terpajang dimana-mana.
.
“Kakekmu sering bercerita kepada ayah dan teman-teman ayah waktu kecil dulu di Surau setelah mengaji.” Ujar ayahmu memulai cerita setelah kita duduk di bangku.
.
“Cerita apa, Yah?” Tanyamu.
.
“Cerita tentang Rasulullah.” Jawab ayahmu. “Kakek menceritakan bahwa Rasulullah itu paling baik budinya. Paling rendah hati diantara kaumnya. Padahal beliau terkenal sebagai al-amin dan berasal dari keluarga yang terpandang diantara suku Quraisy. Apalagi setelah itu beliau diutus menjadi Rasulullah. Lengkap sudah kemuliaannya.” Lanjut ayahmu bercerita.
.
“Tapi Rasulullah dengan segala kemuliaannya tetap halus budinya. Tetap rendah hati dan tak pernah menonjolkan kesombongan atau kebanggaan. Sebagai seorang panutan dan tuntunan di kota Madinah, beliau menyukai memakai pakaian yang terbuat dari katun yang kasar. Baik dari gamisnya, pakaian atasan, sarung, atau kain selimut, kebanyakan terbuat dari bahan yang kasar dari Yaman atau Qatar.” Ujar ayahmu masih bercerita.
.
“Apakah Rasulullah tidak pernah berpakaian yang halus dan bagus?” Tanyamu kemudian.
.
“Pernah. Tapi hanya untuk keperluan-keperluan tertentu saja yang memang membutuhkan berpakaian yang bagus. Malah pakaian-pakaian bagusnya lebih sering digunakan untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan kesehariannya memakai pakaian biasa dalam bergaul dengan umatnya.” Jawab ayahmu panjang lebar.
.
“Lalu kenapa ayah beli baju bekas. Bukannya saat hari raya kita perlu berpakaian bagus?” Tanyamu tidak puas.
.
“Baju bekas belum tentu tidak bagus, kan? Banyak baju bagus yang bisa ditemukan di tempat ini. Bahkan kamu tidak mengira kan kalau baju baru ayah dan ibu selama ini dibeli dari sini?” Jawab ayahmu dengan senyum.
.
“Rasulullah mengajarkan kita untuk rendah hati. Sedangkan berpakaian itu salah satu jalan masuk kesombongan. Terkadang manusia berpakaian untuk menyombongkan atau membanggakan diri. Karenanya Rasulullah ketika memakai pakaian akan berdoa seperti ini: Allahumma lakal hamdu kama kasautanihi, as’aluka khairahu wa kahira ma suni’a lahu wa a’udzubika min syarrihi wa syarri ma suni’a lahu. (Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku pakaian ini. Aku meminta kepadaMu kebaikan pakaian ini, dan kebaikan yang disebabkannya, dan aku berlindung kepadamu dari keburukan pakaian ini dan keburukan yang disebabkannya).” Jawab ayahmu panjang lebar.
.
“Ayah ceritakan padaku lebih banyak tentang bagaimana Rasulullah berpakaian.” Tanyamu semakin penasaran tentang Rasulullah.
.
“Rasulullah suka memakai pakaian berbentuk gamis. Karena ia lebih mudah dikenakan dan tidak membebani tubuh. Beliau memiliki pakaian berwarna putih, merah, hijau, dan hitam. Dan warna putih adalah yang paling disukainya untuk berpakaian, karena lebih suci dan bersih. Beliau sering memakai surban imamah berwarna hitam, bahkan hingga khutbah terakhirnya. Ketika memakai pakaian warna merah, beliau akan terlihat sangat mempesona.” Cerita ayahmu panjang lebar.
.
“Beliau juga memiliki kain selimut berwarna hijau dan bercorak dari Yaman. Beliau menyelimuti tubuhnya saat keluar menuju masjid di saat kurang sehat. Caranya bersurban sangat khas. Beliau menyisakan ujung kain surban terjuntai di belakang, di pertengahan kedua bahunya. Sahabat banyak yang menirunya, seperti Abdullah bin Umar, bahkan anaknya pun menirunya juga. Begitulah membekasnya pesona Rasulullah di mata para sahabat”
.
“Beliau berpakaian dengan sangat proporsional. Lengan bajunya tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang, tepat sekitar pergelangan tangan. Begitu juga ketika memakai sarung, tidak melebihi mata kaki supaya terhindar dari najis. Beliau menasehati sahabatnya seperti itu agar terhindar dari najis fisik dan najis hati. Kesombongan adalah diantara najis hati. Orang-orang sombong dahulu identik dengan pakaian yang menjuntai dan terseret-seret. Begitulah Rasulullah mencontohkan umatnya berpakaian.” Ujar ayahmu mengakhiri ceritanya.
.
“Ayah, aku juga ingin berpakaian seperti Rasulullah, pakaian yang tidak membuat sombong dan tidak juga membuat hina.” Ujarmu bersemangat.
.
“Itu baik sekali, Nak. Ayah memang masih hanya mampu untuk membeli pakaian bekas. Tapi ingatlah Nak, bahkan di saat kau memiliki kemampuan yang lebih baik nanti, tetaplah rendah hati dan tidak berbangga diri. Membeli baju bekas memang bisa untuk melatih berrendah hati, tetapi yang terpenting kau harus menerapkannya di semua aspek kehidupan, tak hanya ketika berpakaian. Mengerti, Nak?” Tanya ayahmu memastikan.
.
“Mengerti, Yah.” Jawabmu mantap. Lalu ayahmu pun mengajakmu bangkit untuk menyusul ibumu yang masih sibuk memilah-milah pakaian.

“Begitulah ceritanya, yang awalnya hanya untuk latihan, aku malah jadi lebih suka membeli baju bekas.” Jawabmu mengakhiri cerita sambil menyengir kuda.
.
Akupun tersadar dari ingatan masa silam itu saat tak terasa kita sudah sampai di pasar baju bekas. Mengingat-ingat perbincangan silam itu, aku jadi merasa iri padamu. Iri pada kebiasaan ‘aneh’mu ini yang berangkat dari keinginan meniru Rasulullah. Aku bahkan masih sering lupa untuk berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah saat memakai pakaian. Apakah aku berpakaian untuk berbangga diri? atau untuk mensyukuri nikmat Allah? aku bahkan tak bisa memastikannya.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s