Harta Karun

#4 Mengenalmu: Membelai Rambutmu (2)

tumblr_oh5fqiw5zg1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

Di tempatku berdiri, di tepi selat Bosphorus yang memisah tanah Asia dan Eropa, angin berhembus ringan menerpa-nerpa kulitku. Mataku menyipit sesekali menahan deru angin. Sejauh pandangku hanya laut dan tanah Asia. Agak jauh di samping kiri berdiri gagah jembatan Sultan Mehmet. Menopang mobil-mobil yang bergerak melintasi benua. Aku sedang menunggu kawan Turki-ku. Ia berjanji mengantarku mengunjungi Museum Istana Topkapi, tempat peninggalan-peninggalan Kesultanan Utsmani tersimpan.
.
Kau tampak tenang bersandar di latar Surau menunggu waktu Ashar. Matamu terpejam, mulutmu bergumam-gumam. Apa yang sedang kau lantunkan itu? Hafalan Qur’anmu kah? Atau senandung Burdah? Atau kau sedang berwirid sore? Aku tak tahu pasti. Yang kutahu kau menyukai ketiganya, dan hampir selalu merutinkannya.
.
“trrr, trrr, trrr.” Ponselmu berdering. tentu saja, aku sedang meneleponmu dari dalam istana Topkapi. Melihat namaku di layar ponselmu, kau dengan sergap mengangkatnya.
.
“Assalamu’alaikum.” Ucapmu dari ujung ponselmu.
.
“Waalaikumussalam.” Jawabku.
.
“Disana jam berapa?” Tanyamu. Pertanyaan pertama yang selalu kau tanyakan tiap kali kita bertelepon. Entahlah, kau begitu antusias mengetahui perbedaan waktu antar tempat.
.
“Menjelang tengah hari, jam sebelas.” Jawabku sambil melirik jam tangan.
.
“Hmm.” Gumammu. Membuatku menyeringai heran.
.
“Bagaimana kabar ibumu?” Tanyaku penasaran setelah terakhir kali kita menyambung suara dan aku mengetahui kesehatannya sedang tidak baik.
.
“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. rasa pening di kepalanya sudah mulai berkurang.” Jawabmu.
.
“Aku sedang di Museum Istana Topkapi. dan tahukah kau apa yang sedang ada di hadapanku?” Ujarku membuatmu penasaran.
.
“Ah, sebentar, Istana Topkapi, ada apa saja disana ya? coba aku ingat-ingat.” Ujarmu sambil berpikir beberapa waktu. “Ah, rambut Rasulullah?” Ucapmu menebak.
.
“Yup, benar. di depanku ada rambut Rasulullah. Rambut dari janggut tepatnya.” Jawabku sambil memandangi sehelai rambut di dalam tabung bening berbingkai warna kuning keemasan.
.
“Kukira kau tidak terlalu antusias dengan barang-barang peninggalan seperti itu?” Tanyamu sedikit meledek.
.
“Ya sebenarnya seperti itu. Kau tahu kita besar di lingkungan dengan tradisi keilmuan yang berbeda. Karenanya aku tak terbiasa mengantusiasi hal-hal semacam ini. Tapi apa kau tak ingat perbincangan alot kita saat itu? Ya setidaknya setelah itu aku jadi paham tentang keistimewaan pribadi Rasulullah, mulai dari perbuatan sampai semua anggota fisiknya.” Jawabku.
.
“Ya aku tahu. Aku hanya menggodamu, kok. Aku tahu ketidak-antusiasanmu itu sama sekali tak mengurangi kecintaan dan kerinduanmu pada Rasulullah. Masih menyala kan, bara rindu itu?” Ujarmu bertanya.
.
“Masih. Masih menyala. Bahkan sepertinya semakin nyala dengan kedatanganku kesini dan berdiri di depan rambut Rasulullah. Entahlah, magis benar pesona kecintaan kita ini.” Jawabku.
.
“Ah, kau membuatku jadi iri padamu, bisa melihat langsung rambut Rasulullah.” Ujarmu iri.
.
“Aku ingat dalam perbincangan kita dulu, kau menceritakan kepadaku betapa istimewanya helai-helai rambut Rasulullah. Sampai orang-orang berebut mendapatkan barang sehelai rambut Rasulullah saat ia sedang bercukur di Mina ketika umrah. Beliau terkadang membagikan sendiri rambutnya kepada para shahabat, dan di lain waktu meminta Abu Thalhah Al Anshari untuk membagikannya.” Ujarku mengingat perbincangan yang telah lalu.
.
“Benar. Kau tentu ingat sahabat Khalid bin Walid, sang panglima perang kaum muslimin. Dia selalu menyimpan rambut Rasulullah di songkoknya saat berperang. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah bagian depan. Dia sengaja memilih helai-helai bagian depan, terlebih posisinya sebagai yang terdepan di medan perang.” Ujarmu melanjutkan.
.
“Ya. Bahkan pernah di perang Yarmuk, songkoknya jatuh entah dimana. Maka dia dan sebagian pasukan sibuk mencari songkok itu. Dan kita tahu, tidak ada perang yang berakhir kekalahan ketika dipimpin olehnya.” Lanjutku mengenang.
.
“Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal, ia memiliki tiga helai rambut. Biasa ia cium dan tempelkan pada matanya, atau dicelupkan ke dalam air untuk diminum. Begitu juga saat ia wafat, ia berwasiat untuk meletakkan dua helai pada matanya, dan sehelai lainnya pada mulutnya, dan dilaksanakan oleh anaknya.” Lanjutmu masih mengenang.
.
“Iya benar. Sebagaimana Ummu Salamah isteri Rasulullah. Manusia banyak berdatangan kepadanya dalam keadaan sakit. Lalu ia memberikan air minum dalam cawan yang didalamnya ada beberapa helai rambut Rasulullah untuk diminum oleh mereka yang sakit.” Lanjutku meneruskan.
.
“Ya, manusia berharap kesembuhan dari Allah dengan berwasilah melalui peninggalan Rasulullah yang penuh berkah.” Lanjutmu.
.
“Benar, selama mereka meyakini bahwa Allah adalah yang mendatangkan kesembuhan dan satu-satunya pemilik qudrah dan iradah, maka berwasilah dengan keberkahan Rasulullah adalah sesuatu yang dibenarkan. Begitu kau menjelaskan kepadaku dulu.” Ujarku selanjutnya.
.
“Hei, maukah kau membantuku? mungkin akan terasa sedikit aneh, tapi aku sangat berharap kau mau membantuku.” Pintamu kemudian.
.
“Tentu saja aku mau membantumu. Katakan saja.” Jawabku memastikan.
.
“Kita bisa melakukan video-call kan? Mari melakukannya. Aku ingin ibuku dapat melihat rambut Rasulullah secara langsung meskipun lewat layar ponsel. Aku berharap, meskipun tidak bisa menyentuhnya langsung, atau meminum air darinya, setidaknya dengan melihatnya langsung semoga Allah menyegerakan kesembuhan untuk Ibuku.” Pintamu menjelaskan.
.
“Tentu saja. Mari kita sambungkan.” Jawabku. Kau pun bergegas berlari pulang ke rumah menemui Ibumu yang sedang berbaring di kamar.
.
“Ibu, lihatlah ini, rambut Rasulullah.” Ujarmu pada Ibumu yang sedikit terkejut.
.
“Masya Allah, Allahu Akbar. Allahumma shalli alaihi wasallim.” Gumam ibumu seraya menyentuh layar ponselmu dengan jari-jarinya. Kau lihat air mata menggantung di sudut matanya. Kaupun nanar melihatnya dan tak lepas-lepas bershalawat di dalam hatimu. Aku di sudut lain pun tak kuasa menahan haru melihat dari balik layar ponselku.
.
“Ya Rabb, Engkaulah yang maha menyembuhkan setiap penyakit, maka atas kecintaan kami kepada kekasihmu Muhammad, berikanlah kesembuhan kepada kami, penyakit-penyakit fisik kami, penyakit-penyakit hati kami. Agar tersampailah salam kami kepadanya, agar tertuntaslah rindu kami mengecup keningnya. Engkaulah Ya Rabb, yang maha mengabulkan segala pinta.” Doaku dalam hati.
.
.
Catatan:
Di dalam Kitab Asy Syamail tidak dimuat riwayat-riwayat tentang keberkahan rambut Rasulullah. Saya sertakan disini karena menjadi bagian penting dari memahami tentang keberkahan rambut Rasulullah. Riwayat-riwayatnya diambil dari berbagai sumber hadits, atsar, dan aqwal yang berderajat kuat, seperti dari Shahih Bukhari & Muslim, Mu’jamul Kabir, Umdatul Qari, Siyar A’lam An Nubala, serta yang lainnya. Para ulama bersepakat tentang keberkahan rambut Rasulullah (seminimalnya oleh jumhur mayoritas). Semoga tambahan tulisan ini bisa membantu kita memahami keberkahan Rasulullah secara menyeluruh, bahwa Allah Azza wa Jalla memberkahi Rasulullah hingga ke ujung rambutnya dan apa-apa yang tertinggal darinya. Dengannya, semoga sempurna kecintaan dan kerinduan kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s