Harta Karun

#3 Mengenalmu: Membelai Rambutmu

tumblr_oh3lbygndt1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

Sejenak kau pandangi anak-anak bermain riang diantara ladang yang mengering agak jauh dari tempatmu. Sayup suara mereka sama sekali tak menganggu ketenanganmu. Kau duduk tenang diatas dipan di tengah ladang yang diteduhi atap anyaman bambu. Pandanganmu jauh, menyapu ladang-ladang yang kering selepas panen. Diujung sana tampak gunung bersentuhan dengan langit senja yang mulai kemuning.
.
Sesaat lalu angin berhembus halus dari kananmu. Menyibak rambutmu. Menembus diantara helai-helai, menukik-nukik menyentuhi kulit kepalamu. Tiba-tiba saja membawamu kembali kepada ingatan masa silam. Saat dirimu seusia anak-anak yang bermain riang agak jauh dari tempatmu itu.
.
Di kamar tidur yang tak jauh dari dapur itu, ibumu menyibak halus rambutmu. Kau telah amat rapi, dengan baju ‘taqwa’ yang halus, dan sarung setinggi lutut yang dipakai di luaran, khas anak-anak melayu. Sesaat lagi kau hendak menuju Surau, bersiap berarak dengan sebayamu dalam pawai mengingati kelahiran Rasulmu yang mulia.
.
Ibumu masih dengan halus menyibak rambutmu. Menyeka sisa-sisa air yang membasahi helai-helainya. Dengan senyum khasnya, serta mata yang berbinar memandang rambutmu.
.
“Kau tahu, Nak? Rambutmu mirip sekali dengan rambut Rasulullah.” Ujar ibumu dengan mata yang menatap teduh.
.
“Benarkah, Bu?” Tanyamu penasaran.
.
“Iya. Dulu Ato’mu sering menceritakan pada Ibu saat kecil dulu. Rasulullah memiliki rambut yang tak keriting, tak juga lurus layu. Seperti rambutmu ini.” Jawab Ibumu membuatmu mengembangkan senyum.
.
“Apakah panjangnya juga seperti punyaku, Bu?” Tanyamu semakin penasaran.
.
“Terkadang panjang rambutnya sampai pertengahan daun telinganya, dan pernah pula panjang mendekati bahu. Jadi panjang rambutmu pernah sama dengan panjang rambutnya, karena rambut Beliau pasti pernah seukuran rambutmu sebelum lebih panjang.” Jawabmu dengan sedikit tergelak bercanda.
.
“Berarti rambut Ibu tidak mirip Rasulullah karena terlalu panjang dan layu.” Jawabmu membalas. Mendengarnya, Ibumu lalu mencolek halus ujung hidungmu sambil tersenyum.
.
“Rasulullah menyisir rambut diawali dari kanan terlebih dulu. Semua pekerjaan baik ia mulai dari kanan. Jadi Nak, engkau juga mulakanlah hal-hal baik dari kanan.” Ujar Ibumu menasehatimu sambil mulai menyisir rambutmu dari kanan.
.
“Iya Bu, kak Ustadz di Surau juga sering mengingatkan. Kecuali masuk kamar mandi atau melepas pakaian dan semisalnya, Kan?” Tanyamu memastikan.
.
“Alhamdulillah anak Ibu sudah pandai.” Ujarnya bangga. “Dulu Rasulullah menyisir rambut ke arah belakang menyamai kebiasaan Ahlul Kitab. Tidak membelahnya ke samping seperti kebiasaan Kaum musyrikin saat itu. Beliau lebih senang meenyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab dan menyelisihi kaum musyrikin. Hal itu beliau lakukan sebelum Allah juga memerintahkan untuk tidak menyerupai Ahlul Kitab. Sehingga Rasulmu dan agama Islam yang didakwahkannya memiliki wibawa dan karakter yang khas.” Lanjut Ibumu panjang lebar, dan kau termangut-mangut mendengarkannya.
.
“Bu, apakah rambut Rasulullah beruban?” Tanyamu melanjutkan.
.
“Rambut beliau beruban namun tak terlalu banyak, dan terkadang beliau menyemirnya dengan warna merah. Kau tahu mengapa gerangan sebagian rambut beliau beruban?” Jawab ibu dengan pertanyaan balik.
.
“Mmm, tidak tahu, Bu.” Jawabmu menyerah.
.
“Rambutnya beruban karena beban berat dari beberapa surah yang diwahyukan Allah kepadanya. Surah Hud, Al Waqi’ah, Al Mursalat, An Naba’, dan At Takwir benar-benar berat dipikul Rasulmu sehingga membuatnya beruban.” Jawab ibumu dengan nanar yang kau lihat di matanya saat mengucapkannya.
.
“Ya Allah, berat sekali beban tugas Rasulullah.” Ucapmu polos.
.
“Karenanya, jangan lepas untuk bershalawat kepadanya. Terutama nanti saat berjalan pawai, ucapkanlah shalawat kepadanya sepanjang perjalananmu. Sanggup?” Pinta ibumu.
.
“Iya Bu, insyaAllah saya akan banyak shalawat sepanjang jalan nanti. Shalawat seperti saat duduk tasyahud shalat, kan?” Jawabmu menyanggupi, diiringi anggukan kepala ibumu, tetap dengan senyum khasnya.
.
“Oh ya, Rasulullah juga suka memakai celak, lho. Kamu mau Ibu olesi celak punya Ibu?” Tanyanya menantang sambil memasangkan songkok hitam diatas kepalamu.
.
“Mmm, tidak dulu bu, belum berani. Takut kena mata.” Jawabmu kisut diiringi gelak halus ibumu.
.
“Baiklah, sekarang kamu sudah rapi. Saatnya pergi ke Surau bertemu teman-temanmu. Ajak mereka berbanyak-banyak shalawat kepada Rasulullah” Ujar ibumu sambil memegang kedua pundakmu. Kau pun mencium takzim tangan ibumu dan bergegas menuju Surau yang tak jauh dari rumahmu itu.
.
Sayup suara salah satu anak yang agak keras menyadarkanmu dari ingatan masa silammu. Angin sekali lagi berhembus halus membelai ujung-ujung rambutmu. Membuat matamu nanar menahan rasa-rasa yang berkelindan atas ingatan masa silam itu.
.
“Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad, wa ala ali sayyidina Muhammad. Kama shallaita ala sayyidina Ibrahim, wa ala ali sayyidina Ibrahim. Ya Allah aku bersore hari diatas kesucian Islam, diatas kalimat keikhlasan, diatas agama Nabiku Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan diatas jalan Bapak kami Ibrahim yang hanif.” Ucapmu lirih lalu bangkit berjalan pulang menyusuri pematang-pematang. Di ujung sana langit telah kemuning, dan matahari segera menuju peraduan.

 

source: muamarsalim.tumblr.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s