Harta Karun

#2 Mengenalmu: Tanda di Punggungmu

tumblr_oh1ooiwjij1qcl4yko1_1280

Serampai cerita menyampaikan rindu kepada Al Mustofa. Disadur dari kitab Asy Syamil Al Muhammadiyah karya Imam At Tirmidzi. Hanya sebatas interpretasi tekstual yang dituang dalam cerita dialog imaginer, bukan syarah ataupun ulasan ilmiah.

 

“Setiap perkara memiliki penanda.” Ujarmu memecah hening di tengah gelap jalan kita pulang dari Surau.
.
“Seluruhnya?” Sahutku sambil tetap sibuk memperhatikan alas jalan yang kuterangi dengan petromak.
.
“Iya seluruhnya. Begitu juga tugas kenabian. Penandanya dimiliki oleh semua Nabi dan Rasul. Pun juga Muhammad (alaihissalatu wassalam). Dan penanda yang dimilikinya, sekaligus menjadi segel yang menutup tugas kenabian.” Lanjutmu panjang lebar.
.
“Ah, berarti tersebab itu Kyai Najih menyebutnya khatamun nubuwah.” Ujarku seketika menyadarinya
.
“Letaknya di antara kedua bahunya. Bentuknya seperti tonjolan pipih berwarna merah sebesar telur burung dara.” Ujarmu melanjutkan.
.
“Ada beberapa riwayat mengatakan ditengahnya tertulis sesuatu. Apa benar?” Tanyaku penasaran.
.
“Ya, itu masih diperselisihkan para periwayat. Tapi yang jelas, di sekitarnya dikelilingi bulu-bulu. Seorang sahabat pernah memijat punggungnya dan merasakan bulu-bulu itu.” Jawabmu.
.
“Tiap kali mengingat tanda kenabian, aku selalu mengingat sahabat Salman Al Farisi.” Ujarku sambil berbelok ke kanan mengikuti arah jalan.
.
“Tentu saja. Kisahnya dikenang manusia. Berlalu dari satu tempat ke tempat lain mengejar kebenaran. Bertahun-tahun lamanya.” Ucapmu mengiyakanku.
.
“Hatiku bergetar tiap kali mengingat kisahnya. Sambil menangis sesenggukan ia cium tanda kenabian di punggung Rasulullah setelah ia memastikan kebenaran tanda-tanda yang dipetuahkan guru terakhirnya sebelum meninggal. Penantian lamanya akhirnya telah sampai juga.” Lanjutku mengenangnya.
.
“Menurutmu, apakah kita masih akan mengimaninya, seandainya tak ada tanda di punggungnya?” Tanyamu sembari mengambil petromak dari tanganku.
.
“Tentu saja. kepadanya, kita beriman bukan karena satu tanda. Tapi seluruh kehidupannya adalah penanda. Akhlaknya, kesehariannya, bicara, duduk, dan diamnya.” Jawabku mantap.
.
“Kau benar. Aku ingat betapa pemurahnya ia membantu Salman bebas dari perbudakan dengan menanam sendiri 300 biji kurma yang tumbuh dan berbuah di tahun yang sama, serta memberinya 1600 dirham sebagai tebusan kemerdekaannya.” Ujarmu.
.
“Benar. Atau ketika salah seorang sahabat melihat tanda kenabian di punggungnya, sahabat itu kemudian memanjat doa memohonkan ampunan Allah kepadanya. Lalu ia pun membalas dengan doa yang sama kepada sahabat itu. Kecintaan kita ini senantiasa memintakan ampunan atas seluruh umatnya.” Lanjutku meneruskanmu.
.
“Bahkan di selingkung cerita tentang tanda kenabiannya, kita temukan bahwa penanda itu tak hanya satu. Bahkan setelah tanda di punggungnya itu sudah tak ada kini, penanda lainnya tetap menyebar di seluruh penjuru bumi.” Ujarmu memaknai.
.
“Hei, janjikan aku satu hal.” Ucapku kepadamu.
.
“Apakah itu?”
.
“Kalau kau menemuinya kelak dan aku tidak bersamamu, titipkan ciumku pada tanda di punggungnya. Sampaikan padanya aku pernah begitu merindukan bertemu dengannya.” Pintaku.
.
“Hmm, Maaf aku tak bisa. Tapi aku mau kita saling memegang janji untuk senantiasa saling menarik lengan apabila salah satu menjauh dari jalan yang mengantarkan pertemuan dengannya. Aku ingin kita bisa bersama-sama mencium tanda itu di punggungnya. Seperti Salman.” Jawabmu.
.
“Baiklah. Tolong bantu aku.” Ujarku pelan memandangi punggungmu yang berjalan di depanku.
.

source: muamarsalim.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s