Meracacacau · rumah

Mereka yang dirinya terpaut Masjid

Angkot KWK 25 merah sebenarnya bukan termasuk angkutan langka di wilayah timur Jakarta, apalagi di daerah Rawamangun. Salah satu angkutan umum favorit sebagian anak-anak SMA 36 sepertinya. Tapi entah kenapa angkutan ini menjadi cukup langka bila sudah mendekati daerah Pondok Kopi, dan menjadi sangat langka di daerah Stasiun Cakung. Padahal rute utama angkutan umum ini adalah Stasiun Cakung-Terminal Rawamangun (PP). Rute yang kurang potensial mungkin menurut abang-abang angkot 25, melihat trayek yang hampir mirip juga dimiliki angkot 26.

Siang itu saya berdiri cukup lama di depan RS. Islam Pondok Kopi menunggu KWK 25. Saya bisa saja menaiki angkot apapun yang melintas di jalan ini, dengan konsekuensi harus rela berjalan beberapa ratus meter meter dari turunnya ankot untuk sampai dirumah. Berbeda jika saya menaiki angkot 25, angkotnya akan berhenti pas di depan jalan masuk rumah. Biasanya saya tidak se’ngeyel’ ini sama diri saya, saya akan merela diri berjalan. Tapi tidak siang ini, saya mau menunggu angkot 25, kukuh saya dalam hati.

Bersiap menunggu KWK 25 di daerah Pondok Kopi sama dengan bersiap diri untuk mengeluarkan energy kesabaran yang berlebih. Lebay yes :P. Dengan perbandingan sekitar 20:1 dengan angkot 03 merah, atau 10:1 dengan angkot 20 dan 26 yang melintas di jalan raya yang sama :D.

Mu’adzhin masjid RS. Islam sudah mengumandangkan azan zuhurnya beberapa menit yang lalu, dan saya baru saja keluar dari sebuah minimarket ketika melihat angkot 25 kosong melintas di depan minimarket, yang secara otomatis saya langsung berlari sambil berteriak dan melambaikan tangan ke arah bapak supir angkot 25 “Pak!”. Si bapak supir angkot 25 melihat saya, namun beliau tidak menghentikan mobilnya. Beliau hanya melambatkan mobilnya, melihat saya sambil melambaikan salah satu tangannya dan kemudian beliau mengangkat kedua tangannya ke atas dan mendekapnya di dada -seperti gerakan takbiratul ihram saat akan memulai sholat-, beliau kemudian menganggukan kepalanya ke arah saya, seolah ingin mengatakan “maaf”.

aaaiih si bapak, bikin saya makin meleleh di bawah teriknya matahari siang itu :”).

Melihat jam di layar mobile phone. Saya putuskan, cukup. Saat ini, saya  tidak akan membuang waktu lagi untuk menunggu angkot 25 melintas di jalan ini yang begitu sangat unpredictable :P. Saya langsung mencegat angkot 03 yang pertama melintas di depan saya. Okeh tak apa berjalan lagi beberapa belas menit untuk sampai rumah. Walaupun telat, setidaknya tidak semakin telat untuk memenuhi panggilan-Nya.
And guess what?,
saat saya melewati masjid dekat rumah, di halaman masjidnya terparkir angkot 25 –___–
ndak sampai ngelirik di dalam masjid sih, ini angkot 25 yang tadi atau bukan, ada bapak angkot 25 yang tadi atau engga. Saya lebih ga siap kalo ternyata ini angkot 25 yang tadi dan ada bapaknya juga, haha :D. sudah terlanjur keringetan jalan kaki soalnya, heu :P.

===
Ada sebuah momen ketika saya masih sangat kecil, saat itu malam hari saya ingat. Ketika saya sedang akan memakan sesuatu, roti sepertinya. Di rotinya ada beberapa semut –tidak banyak, satu atau dua semut kayaknya- sedang asyik melintas mondar mandir di pemukaan roti yang akan saya makan. Spontan saya memberitahukan itu kepada ibu saya “ibu, di rotinya ada semut”, Ibu saya kemudian memerintahkan saya untuk mematikan lampu. Tanpa banyak bertanya dan tidak dipikirkan juga, saya menuruti perintah ibu untuk mematikan lampu. Setelah lampu mati, saya bertanya kepada ibu, dengan tangan yang masih memegang roti. “kok lampunya dimatiin bu? kenapa emang?”. Ibu saya mendekati saya, sambil berkata “nah lampunya udah mati, semutnya udah ndak ada, udah ga keliatan lagi kan, rotinya bisa dimakan”. Mendengar yang disampaikan ibu, saya hanya ber”oooh” yang disambut dengan tawa lepas beberapa orang keluarga yang sedang berkumpul di ruang tengah saat itu.

Sampai dengan saat ini, kejadian itu masih beberapa kali di ceritakan ulang oleh Ibu, bapak, kakak atau bulik saya yang menjadi saksi hidup kejadian itu. Dan parahnya selalu sukses membuat adik saya tertawa terpingkal-pingkal.

“Namanya Ridho Illahi”.
begitu yang ibu bilang ketika saya bertanya tentang seorang anak laki-laki yang sering sekali datang ke masjid, padahal rumahnya tidak berada di dekat lingkungan masjid. Saya sudah besar, dan saya menyakini diri saya bahwa saya tidak akan dengan mudah di’kerjai’ lagi oleh ibu saya. Maka saya tidak begitu saja mempercayai jawaban ibu saya. “kalo ga percaya tanya aja sendiri”, kata Ibu saya menguatkan jawabannya. Dan ini membuat saya semakin cenderung mempercayai jawaban beliau –__–.

Okeh kita panggil saja dia Ridho,
saya belum pernah banyak mengobrol dengannya,
dibanding dengan Abdu, Liza, Ani, Nurul, Adip dan Adnan –anak-anak yang sering bermain di masjid- dia paling banyak diam nya. Oh atau mungkin tidak diam, hanya saja memang tidak terlalu dekat dengan saya, saya beberapa kali melihatnya asyik berlarian berkejar-kejaran dengan temannya di masjid. Jadi Ridho tidak pendiam, hanya mungkin kami belum dekat :”). Jika anak-anak yang lain saya sudah tahu betul keluarganya, rumahnya yang mana, bapak-ibunya siapa, sekolahnya dimana dan kelas berapa, sedangkan Ridho, saya hanya tahu daerah tempat dia tinggal, tidak tahu persis bahkan.
Kata Ibu, Ridho rumahnya di RT sebelah, yang jaraknya lumayan untuk ‘sekedar’ datang 5-10 menit sholat di masjid daerah kami –padahal setahu saya di dekat daerah tempat tinggalnya juga terdapat musholla-. Usianya sekitaran anak kelas 5 atau 6 SD. Berbeda dari anak laki-laki biasanya yang ikut sholat di masjid, Ridho selalu berpakaian rapih dengan baju koko, sarung dan lengkap dengan peci nya. Tidak hanya hadir saat waktu sholat wajib tiba, Ridho juga bahkan sangat rajin ikut mengaji bareng dengan anak-anak yang lainnya selepas sholat maghrib sampai menjelang waktu azan Isya.

“iya si Ridho rajin bangat, kata bapak Ridho juga suka bantuin Pak Zul (bapak Zul adalah marbot/takmir masjid kami) bantu nyapu, pernah bantuin ngepel juga. Kadang juga suka azan, suaranya bagus” begitu kata Ibu. Saya mempercayainya :P. Setiap waktu mengaji seba’da sholat maghrib di masjid, saya beberapa kali dengan seksama mendengar Ridho membaca Al Qur’an. Selain Liza, Ridho juga adalah adik favorit saya, haha :D. Untuk anak seusia mereka, dan diluar lingkungan yang sangat islami lho yah (mereka juga sekolah di sekolah negri), bagi saya bisa membaca Al Qur’an dengan makhrojul huruf cukup dan tajwid yang benar itu kereen paraaah :”)). Jauh lah kalo dibandingkan saya diusia mereka dulu. Bangga sangat sama orangtua yang mengajarkan putra-putri nya Al Qur’an sedari kecil :”)). baarakaLlahu fiikum :”))

===

Ramdahan yang lalu cukup ada yang berbeda,
ada yang menemani Pak Zul tidur di masjid.
seorang bapak paruh baya dan seorang anak laki-laki kecil yang berusia sekitaran 8 atau 9 tahun.

jadi ceritanya,
kata bapak saya,
si bapak ini sedang berpisah sementara dengan istrinya,
sedangkan si anak laki-laki yang dibawanya adalah anak beliau dari istri yang sebelumnya,
*semoga mudeng yah 😛

Apa permasalahannya?
saya pribadi ndak tahu dan ndak mau tahu.
bapak saya juga tidak tahu dan tidak mau mencari tahu juga,
yang bapak tahu hanya bagaimana berupaya membujuk si bapak untuk tidak berlama-lama berpisah dengan istri dan keluarganya.

Bukan, bukan karena takut menyusahkan pihak masjid.
Justru kehadiran si bapak ini malah sangat membantu, hehe 😛
Saat Ramdhan, dimana setiap sorenya masjid akan selalu ramai dipenuhi oleh orang-orang yang akan berbuka puasa di masjid, kehadiran si bapak sangat membantu :”). Bapaknya juga baik hati sekali dengan rajinnnya selalu siap membantu menyiapkan makanan ta’jil dan membantu Pak Zul merapihkan dan membersihkan selatsar masjid yang dipakai untuk makan dan minum berbuka puasa. Si adik, anak laki-lakinya juga dengan sigapnya langsung membantu apa saja yang sedang dikerjakan ayahnya saat itu.

Tapi ini Ramadhan,
bulan istimewa, dimana kasih sayang Nya menyeruak ke seluruh semesta :”)

dimana setiap kelurga berkumpul bersama untuk makan sahur dan berbuka puasa :”))
bulan dimana, selain ingin berdekat-dekat dengan Sang Maha Pencipta juga sama inginnya untuk semakin erat dengan orang-orang terkasih.

Alhamdulillah,
mendekati malam-malam terakhir ramadhan,
si bapak dan anak-lakinya sudah berpamitan untuk meninggalkan masjid :”)
untuk kembali pulang ke keluarga dan rumahnya.

“kenapa bapaknya malah ke masjid ya pak?” tanya Ibu saya ke bapak saya, saat sedang membicarakan kehadiran si Bapak dan anak laki-lakinya di masjid.

“Alhamdulillah ibu perginya ke masjid, kan bisa sekalian ibadah mumpung bulan ramadhan” celetuk saya 😛

Teringat dengan salah satu sahabat yang mulia, Abu Turab panggilan kesukaannya. Ia memilih untuk segera menuju masjid seketika setelah pertengkaran rumah tangga dengan istrinya. Disana, ketika ia sedang bersandar pada dinding masjid Nabawi, Rasulullah mendatanginya dan mengusap debu yang ada di pundaknya kemudian beliau berkata, “duduklah duhai Abu Turab.” Semenjak inilah kemudian menantu Rasulullah, suami dari Fatimah binti Muhammad Rasulullah saw ini sangat senang bila dipanggil dengan panggilan Abu Turab.

===

Dan ada satu lagi,

beliau hanya seorang laki-laki biasa,
usianya sudah jauh melewati setengah abad,
kepalanya sudah hampir memutih tertutupi oleh uban,
rumah keduanya adalah masjid,
jika tak dijumpai di rumah, maka kemungkinan besar beliau ada di masjid sebelah rumahnya,

beliau yang selalu menyempatkan diri untuk ikut sholat berjama’ah di masjid, walau hujan deras sekalipun,
beliau yang bila tak kebagian turut bersama rombongan sholat jama’ah karena suatu uzur atau sebab,
maka ia akan tetap mendirikan sholat di masjid sebelah rumahnya, tidak dirumahnya, tapi di masjid walaupun sholat sendiri :”))
beliau yang lebih suka menghabiskan waktunya berlama-lama mengurusi masjid,
beliau, ayah saya :”))

===

seperti janjiNya,
dalam salah satu sabda yang pernah disampaikan oleh Rasul-Nya,
tentang golongan-golongan yang Allah berjanji akan memberikan naungan-Nya,
dihari dimana tidak ada yang dapat memberikan naungan kecuali naungan dari Nya,
“..dan mereka yang hatinya hatinya bergantung ke masjid..”

maka baarakaLlah :”))
bagi mereka (laki-laki) yang hatinya senantiasa terpaut di masjid yang kelak akan dapat merasakan kebenaran dari janji Nya :”))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s