review

TENTANG KAMU : Novel Tere Liye Rasa Dan Brown

tentang-kamu

 

Bismillah..

Tentang keberadaan buku ini, mungkin sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bagi para penggemar novel di Indonesia, apalagi bagi pembaca setianya Bang Darwis yah :”)

Maka, karena saya bukanlah penggemar novel dan juga bukan pembaca setia karya-karya nya Bang Darwis, saya malah baru tahu kalau Bang Darwis menerbitkan novel terbarunya dengan judul “Tentang Kamu” justru saat saya memegang langsung bukunya untuk pertama kali :”).

Dan to be honest, ini adalah novel Tere Liye pertama saya :”)), bukan yang pertama dibaca tentunya. Ada beberapa judul novel Tere Liye yang juga sudah saya baca, dengan meminjam dari teman kost ataupun membaca gratis di Gramedia, haha 😀

Sebuah hadiah yang sangat menyenangkan dari salah satu sahabat kesayangan saya di sana :”), *walau pada awalnya yang bersangkutan sempet tidak mau mengakui perbuatannya 😛

Garis besarnya novel ini seperti buku biografi dari seorang wanita bernama Sri Ningsih. Di awal kisah kita mungkin tidak akan menduga bahwa sebagian besar cerita dalam buku ini akan banyak menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Sri Ningsih, dari sebelum lahirnya sampai akhir hidupya di usia 70 tahun.

Apa yang istimewa dari seorang Sri Ningsih?

Diawal kisah hanya diceritakan Sri Ningsih merupakan salah satu penghuni panti jompo di daerah Quay d’Orsay, kota Paris, Prancis. Seorang wanita tua yang meninggal karena sakit diusia 70 tahun, tanpa diketahui siapa keluarga dan sanak saudaranya.

Tidak ada yang istimewa memang,
sampai diketahui bahwa wanita tua ini meninggalkan harta warisan yang tak sedikit. Satu miliyar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah.

Inilah yang menjadikan Zaman Zulkarnaen, seorang pemuda 30 tahun berkebangsaan Indonesia yang berkerja di sebuah firma hukum yang khusus menangani harta warisan di Belgrave Square, London, UK menyusuri satu persatu lembaran hidup Sri Ningsih. Demi menemukan ahli waris yang berhak menerima harta warisan senilai 19 triliun rupiah, jika tidak harta warisan ini akan jatuh ketangan Kerajaan Inggris.

Ternyata selain meninggalkan harta warisan yang istimewa jumlahnya, Sri Ningsih juga memiliki kisah hisup yang sungguh luar biasa istimewa.

Kisah hidup Sri Ningsih ditelusuri Zaman melalui buku diary Sri Ningsih. Sebuah buku catatan sederhana. Hanya ada sepuluh halaman yang berisi tulisan, dibagi menjadi lima bagian, dengan masing-masing bagian terdiri dari dua halaman. Dan tiap halamannya hanya berisikan satu dua paragraph pendek.

Melalui catatan yang ditulis oleh Sri Ningsih, kita akan dibawa pergi menggunakan mesin waktu flash back, mengulang kembali kisah hidupnya dari awal, dari tujuh puluh tahun silam. Bermula dari kisah ayahnya yang adalah seorang pelaut tangguh yang kemudian menetap di sebuah pulau yang mendapat gelar pulau terpadat di dunia, sebuah pulau yang jika dilihat dari atas pesawat, hanya akan terlihat deretan atap rumah panggung yang saling bertautan satu sama lain, sebuah pulau yang tak sedikitpun menyisakan lahan hijau walau sedikit, yang karenanya kambing-kambing disana bahkan terbiasa memakan koran karena sulitnya menemukan rumput untuk dimakan.

Sebuah pulau yang berjarak 70 kilometer arah barat dari kota Sumbawa. Pulau Bungin, nama pulau nya. Pulau Bungin, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Surprise! Saya baru tahu tentang Pulau Bungin ini untuk pertama kalinya :P, paraaah? Iyaa.

Berawal dari Pulau Bungin, ke Surakarta hingga Jakarta. Tiga daerah di Indonesia ini yang kemudian menjadi saksi bagaimana anak seorang pelaut yang yatim piatu sejak kecilnya tumbuh dan berkembang menjadi sosok wanita yang sangat cerdas, tangguh dan memiliki kesabaran tanpa batas. Kisah hidupnya tak hanya terbatas di Indonesia saja, perempuan yang kecilnya pernah dijuluki sebagai ‘anak yang dikutuk’, yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi ini bahkan di usianya yang menginjak 60 tahun, telah menggenapi perjalanannya mengelilingi dunia ke lima benua.

Kisah hidup Ibu Sri Ningsih memang sungguh luar biasa istimewanya. Jika kalian pernah membaca novel Api Tauhid, maka alur kisah di novel ini pun mirip-mirip dengan cara Kang Abik menyampaikan kisah hidup Said Nursi. Bedanya tentu, Said Nursi adalah tokoh nyata dan Sri Ningsih hanya tokoh fiktif.

Dengan latar belakang tahun 60an sampai 2000an yang menjadi latar kehidupan Sri Ningsih remaja hingga dewasa, dalam novel ini akan ditemui beberapa sisipan peristiwa besar yang terjadi diantara tahun ini, yang membawa dampak bagi kehidupan Sri Ningsih dan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Tidak hanya peristiwa besar yang terjadi di Indonesia saja, seperti peristiwa pemberontakan PKI dan peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) di tahun 1974. Awal tahun 2000 yang menjadi dimulainya millennia baru pun ternyata membawa guncangan yang cukup hebat bagi masyarakat dunia.

Dunia dihebohkan oleh peristiwa Y2K (Year 2 Kilo), masalah penanggalan computer dan millennium bug. Eror yang terjadi karena system penanda tahun computer di seluruh dunia sudah terlanjur di setting dengan dua digit akhir (dengan asusmsi dua digit awalnya 19), maka tahun 00 akan dianggap sama dengan tahun 1900. Dunia melakukan migrasi system penanda tahun besar-besaran, atau jika tidak system keuangan, perbankan, penerbangan, penggajian, keamanan, persenjataan, dan data-data penting lainnya akan menjadi kacau balau karena computer keliru mengenali tanggal. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah system nuklir dan rudal akan mengalami gagal fungsi.

Pada judul tulisan ini saya mengatakan “Novel Tere Liye Rasa Dan Brown” :”), jujur ini yang pertama kali saya rasakan saat mulai membaca novel ini. Penuh misteri dan teka-teki. Seperti Profesor Langdon yang berusaha memecahkan teka-teki yang tersembunyi dari rangkaian tulisan pada Diagramma Galileo Galilei di Angel and Demond, maka seperti inilah Zaman berusaha menguak kisah hidup Sri Ningsih melalui buku diary, demi untuk menemukan jejak keluarga atau saudara yang berhak untuk diberikan warisan Sri Ningsih. Bukan perjalanan yang mudah tentu.

Dalam perjalanan Zaman membuka tabir kisah hidup Sri Ningsih inilah, pembaca dapat menemukan banyak serakan inspirasi dan hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Tentang makna kesabaran, persahabatan sejati, prasangka baik, bersyukur dan kerja keras pantang menyerah. Juga tentang betapa mahalnya harga sebuah hati yang selalu bersabar dan tak pernah diisi oleh prasangka buruk, baik itu kepada orang lain, terutama kepada Penciptanya. Juga tentang apa sebenarnya yang sungguh-sungguh kita inginkan, disaat-saat terakhir kita hidup di dunia ini?.

 

“aku tidak akan menangis sedih karena semuanya berakhir, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi”

 

Novel yang menarik!

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s