Meracacacau · rumah

Pak RT Pulang!:”)

Kota Jakarta identik dengan suku betawinya.
Kalo sunda katanya akronim dari ‘suka makan daun muda’, maka betawi katanye ‘betah di wilayah sendiri’ πŸ˜›

Walau pada kenyataannya, berdasrkan data sensus yang dilakukan pada tahun 2010 lalu oleh BPS disebutkan bahwa jumlah penduduk DKI yang berasal dari Suku Betawi adalah sekitar 2.700.000an dari total penduduk DKI Jakarta yang 9.600.000an jiwa. Atau sekitar 28,11%. Dengan penyebaran terbanyaknya berada di wilayah Jakarta Timur, daerah condet lebih tepatnya.

No, no, noo..
Saya tidak sedang ingin menceritakan tentang distribusi suku betawi di kota kelahiran saya ini. Saya ingin menceritakan tentang keluarga Pak RT :”)).

Alhamdulillah, di daerah tempat saya tinggal. Walaupun jauh dari Condet πŸ˜›, saya masih bisa merasakan keunikan adat istiadat suku betawi πŸ™‚

iyaa keluarga Pak RT kami orang betawi asli :p, mulai dari almarhum Pak RT Aman, sampai Pak RT Yusuf yang sekarang πŸ™‚.

Rumah Pak RT tidak terlalu jauh dari rumah orangtua saya, kalau dulu waktu saya masih TK, saya inget di depan rumah almarhum Pak Haji (orang tua Pak RT) ada pohon kecapi. Ada yang tahu atau pernah nyicip buah kecapi? πŸ™‚, yang pernah nyoba pasti berkesan bangat pas sesion ngebuka nya, haha πŸ˜€. *dulu saya mengira kecapi ini buah asli betawi lho :P, kenapa? karena dari sekian luas nya kebon yang ada disekitar rumah saya dulu ketika saya kecil, yang ditumbuhi pohon kecapi cuman didepan rumahnya Pak Haji yang orang betawi πŸ˜€

Saya masih ingat juga waktu Bang Akim nikahan. Tiba-tiba refleks terlintas pelajaran PLKJ (Pendidikan Lokal Kesenian Jakarta -mulok wajibnya anak SD di DKI-) tentang Bab Pernikahan Adat Betawi πŸ™‚

Petasan berentet, hadroh rebanaan, sholawatan, roti buayanya, adu pantun dan tak lupa pakaian khasnya :”). Dan itu semua kereeenn to the max! πŸ™‚.

Atau pas lebaran, salahsatu dari sekian banyak hal yang menjadi khas nya antaran orang betawi saat berkunjung ke rumah orangtua saya adalah dodol betawi, yang kerasnya ehmm masyaaLlah πŸ™ˆπŸ˜‚βœŒ.

Lama tak merasakan keunikan suku keluarga Pak RT lagi, sampai beberapa bulan yang lalu tersiar kabar bahwa Pak RT dan Bu RT akan menunaikan ibadah haji tahun ini πŸ™‚.

Saya tidak sempat melihat ke-meriah-an saat keberangkatannya, karena Pak RT dan Bu RT berangkat siang hari. Tapi alhamdulillah saya ikut merasakan ke-heboh-an ‘upacara’ penyambutannya πŸ™‚. Dan saya yakin, hampir sebagian besar warga yang tinggal radius 100 meter dari rumah Pak RT (include saya :p), turut merasakan kehebohannya. Dimana pada pukul 21.30an terdengar jelas bunyi petasan yang ga cuma sekali dua kali, tiga kali, empat kali πŸ˜€, dengan diiringi suara shalawatan lengkap dengan tabuhan hadrohnya πŸ˜€

“Alhamdulillah Pak RT udah pulang” πŸ™‚

Selamat kembali pulang Pak RT :”), semoga menjadi haji yang mabrur yang penuh keberkahan dan membawa keberkahan bagi warganya, aamiin :”).
Oct 3, 2016
22.47 WIB
ketika satu rumah terbangun mendengar suara petasan, yang membuat saya dan adik saya buru buru ngintip dari jendela untuk ngeppoin kehebohan di luar :P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s