challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 24: Kisah Nabi Musa as (2)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Bismillah,

Allah berfirman dalam QS. Al Qashash ayat 7, “Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, ‘susuilah dia (Musa) dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil)’…”. Pada kisah sebelumnya, telah disampaikan bagaimana ibunda nabi Musa mendapatkan ilham untuk melakukan apa yang diperintahkan dalam ayat ini. Diilhamkan juga kedalam hatinya keyakinan untuk tidak takut dan khawatir meletakan anaknya di dalam peti yang dihanyutkan di atas sungai Nil.

Suatu hari, ketika ibunda Musa sedang melepaskan peti yang berisi bayi Musa ke sungai Nil, ia lupa untuk mengikatnya dengan tali, sehingga peti berisi bayi Musa itu hanyut bersama aliran sungai Nil hingga melintas tepat didepan istana Fir’aun.

Para mufassir menyebutkan, selir-selir Fir’aun memungut peti tersebut dari sungai dalam kondisi tertutup, mereka tidak berani membukanya. Peti kemudian diletakkan dihadapan istri Fir’aun, Asia. Saat membuka penutup peti dan menyingkap tirai penutupnya, Asia langsung jatuh hati pada bayi Musa. Saat Fir’aun melihatnya, ia sangat kaget dan bersegera memerintahkan untuk menyembelihnya, tapi sang istri meminta kepadanya agar bisa merawat bayi Musa, “Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak” (QS. Al Qashash : 9).

Singkat cerita, bayi Musa kemudian dibesarkan dalam pengasuhan keluarga Fir’aun. “sedang mereka tidak menyadarinya” (QS. Al Qashash : 9), Fir’aun tidak menyadari bahwa bayi laki-laki yang ia takutkan akan menghancurkannya kelak berada dekat di bawah naungannya.

Maha Besar dan Maha Baik-Nya, setelah sangat khawatir dengan hanyutnya bayi Musa, Ibunda Musa kemudian memerintahkan putri sulungnya untuk mencari tahu tentang keberadaan adiknya. (QS. Al Qashash : 10-11). Sedangkan di istana Fir’aun, bayi musa membuat bingung keluarga angkatnya karena dia tidak mau menerima susu dari wanita manapun yang disiapkan untuk menjadi ibu susuannya. Allah telah berkehendak, “Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya)” (QS. Al Qashash: 12). Mereka kemudian membawa Mura dan para dukun beranak dan sejumlah wanita ke pasar, dengan harapan bayi Musa akan mau menyusu pada salah satu dari wanita yang ada disana.

Saat melihat kerumuan orang disekitar bayi Musa, saudari perempuan Musa kemudian mendekat dan berkata, “Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka berlaku baik padanya?”. Mereka kemudian pergi mengikuti saran dari saudari Musa, menuju rumah kediaman Musa. Saat ibunya menggendong dan akan menyusuinya, bayi Musa langsung menerima dan menyusu dengan tenang. Mereka –keluarga angkat Musa- sangat senang bukan kepalang. Asia bahkan menawarkan ibu Musa untuk tinggal bersama di Istana, namun ibu Musa menolaknya, “Aku punya suami dan anak-anak. Aku tidak bisa tinggal di istana, namun biarkan bayi ini aku yang bawa”. Asia mempersilahkannya dan memberikan gaji sebagai upahnya menyusui Musa. Musa kembali pulang ke pangkuan Ibunya dan keluarganya. “Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar ia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar..” (QS. Al Qashash : 13).

Saat usia Musa beranjak dewasa, yaitu ketika fisik dan akhlaknya telah kuat –mayoritas para mufassir berpendapat pada usia Musa 40 tahun-, Allah memberinya hikmah dan ilmu. Itulah Nubuwah dan risalah seperti yang pernah disampaikan Allah kepada Ibu Musa melalui firman-Nya, “Sesungguhnya, Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul”. (QS. Al Qashash : 7).

Dalam QS. Al Qashash : 14-17 dikisahkan, suatu hari ketika Musa sedang berada di kota Memphis diwaktu menjelang malam, dia melihat ada dua orang yang sedang berkelahi. Diketahui salah seorang dari mereka adalah orang bani israil dan yang satunya termasuk kaum Qibthi. Melihat Musa, orang dari golongan Bani Israil kemudian memanggilnya dan meminta pertolongan kepadanya. Saat itu Bani Israil sudah memiliki pamor yang lebih baik dari sebelumnya, hal ini dikarenakan Musa –yang adalah anak angkat dari Fir’aun- menyusu pada wanita bani israil. Sehingga secara tidak langsung, mereka adalah paman-paman sepersusuan Musa.

Musa kemudian menghampiri orang Qibthi tersebut dan memukulnya. Musa tidak bermaksud untuk membunuhnya, ia hanya ingin menakuti dan membuatnya jera saja. Namun disebabkan karena pukulannya, orang Qibthi tersebut kemudian meninggal dunia. Musa langsung menyesali apa yang sudah diperbuatnya. Allah juga mengabarkan, bagaimana takutnya Musa bila Fir’aun sampai tahu tentang peristiwa ini. Jika dia tahu Musa telah membunuh seseorang yang berasal dari bani Qibthi demi membela salah seorang yang berasal dari Bani Israil.

Pagi harinya, ketika Musa sedang menyusri jalanan kota Mesir, tiba-tiba ia kembali dipanggil oleh bani israil yang kemarin juga memanggilnya, ia memanggil Musa dan memintanya untuk membantunya lagi dalam menghadapi musuhnya saat ini. Musa kemudian mencela dan menegurnya karena seringnya membuat permusuhan, “Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat”. Saat Musa menghampiri dan hendak memberikan jera kepada orang yang berasal dari bani israil tersebut, orang tersebut kemudian berkata “Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang?”

Berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Musa akhirnya sampai kepada Fir’aun. Fir’aun kemudian mengirimkan utusan untuk mencarinya, namun seseorang lebih dulu menemui Musa dan mengabarkan kepadanya perihal Fir’aun yang mencarinya, dan meminta Musa untuk segera pergi meninggalkan kota ini. “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini)..” (QS. Al Qashash : 20).

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s