challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 23: Kisah Nabi Musa as (1)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Bismillah :”),

Nama lengkapnya adalah Musa bin Imran bin Qahits bin Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

“Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al Qur’an). Dia benar-benar orang terpilih, seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai) dan kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap. Dan Kami telah menganugerahkan sebagian rahmat Kami kepadanya, yaitu (bahwa) saudaranya, Harun menjadi seorang Nabi.“ (QS. Maryam: 51-53)

Allah menyebutkan kisah Musa di sejumlah tempat terpisah didalam Al Qur’an, sebagian dipaparkan secara panjang lebar dan sebagian lainnya secara singkat. Dalam QS. Al Qashash ayat 1-6, Allah menyebutkan, Ia membacakan kisah Musa dan Fir’aun dengan benar kepada nabi Nya, Muhammad saw, yaitu kisah nyata, dimana orang yang mendengarnya seakan-akan menyaksikan langsung kejadiannya.

Nabi Musa diutus Allah kepada Bani Israil. Bani Israil berasal dari keturunan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilullah. Saat itu, mereka adalah penduduk bumi terbaik. Mereka hidup dibawah kuasa seorang raja yang tiran, zalim, kafir dan keji yang memperbudak mereka.

Salah satu penyebab yang mendorong si raja melakukan berbagai tindakan keji kepada kaum bani Israil adalah karena sebuah berita yang mengatakan bahwa dari keturunan bani Israil akan lahir seorang anak yang akan menghancurkan kekuasaan raja Mesir. Berita ini secara turun menurun sangat santer terdengar di kalangan bani Israil. Kaum Qibthi juga membicarakannya, hingga sampailah berita ini kepada Fir’aun. Seketika itu juga, dia memerintahkan untuk membunuh seluruh anak laki-laki keturunan Bani Israil untuk mengantisipasi kelahiran anak yang dimaksud. Namun apa boleh buat, qodarullah, kewaspadaan sama sekali tidak bisa menghindari dari takdir Nya.

“Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenag di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka.” (QS. Al Qashash: 4)

As-Suddi meriwayatkan dalam tafsir Ath Thabari, suatu malam Fir’aun bermimpi ada kobaran api yang datang dari arah Baitul Maqdis, api tersebut membakar seluruh rumah-rumah penduduk Mesir dan seluruh kaum Qibthi. Namun api tersebut tidak membahayakan Bani Israil. Saat bangun, Fir’aun kemudian mengumpulkan seluruh paranormal dan tukang sihir miliknya dan menceritakan perihal mimpi yang dialaminya. Fir’aun bertanya kepada mereka terkait mimpi tersebut, mereka berkata “akan lahir seorang bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil, ia akan menghancurkan penduduk Mesir”. Sebab inilah, Fir’aun kemudian meminstruksikan untuk membunuh semua bayi laki-laki.

Fir’aun sangat mewaspadai agar anak laki-laki yang dimaksud tidak lahir. Ia menunjuk sejumlah laki-laki dan dukun beranak untuk berpatroli memeriksa para wanita hamil dan mendata waktu kelahiran mereka. Jika ada bayi laki-laki yang lahir, si bayi akan langsung disembelih saat itu juga oleh para algojo.

Sejumlah mufassir menyebutkan, kaum Qibthi mengeluh minimnya populasi Bani Israil kepada Fir’aun karena bayi laki-laki dari kalangan mereka dibunuh. Selain itu, Fir’aun juga mengkhawatirkan akan minimnya jumlah budak -yang berasal dari kaum laki-laki Bani Israil- yang akan melakukan pekerjaan-pekerjaan berat untuknya. Akhirnya, ia memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki secara bergantian setiap dua tahun sekali.

Nabi Harun lahir pada tahun dimana hukuman mati bagi bayi laki-laki tidak diberlakukan, sedangkan Musa lahir pada tahun dimana bayi laki-laki harus dibunuh. Ibu musa sedih sekali dan sudah mengantisipasi sejak pertama kali mengandung Musa. Atas kehendak Allah, pada saat mengandung nabi Musa, perut ibu Musa tidak terlalu terlihat besar, kehilannya hampir tidak terlihat. Setelah melahirkan Musa, ibu Musa mendapatkan ilham untuk meletakkan bayi Musa didalam sebuah peti yang diikatkan dengan seutas tali. Rumahnya tepat di hulu sungai Nil. Ia menyusui Musa, kemudian ketika ia khawatir akan kehadiran seseorang, ia meletakkan Musa di peti itu lalu dilepaskannya ke sungai sementara talinya tetap ia pegang. Setelah keadaan aman, ia akan menarik peti itu dan kembali mendekap bayi Musa.

===

Holaa, I’m back :p

Setelah seminggu lebih tidak memenuhi challenge :”(, dikarenakan beberapa sebab yang meminta untuk lebih diperhatikan dan diprioritaskan 😛

Alhamdulillah ‘ala kulli hal 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s