challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 22: Kisah Nabi Yunus as.

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

“Dan (ingatlah kisah) ZunNun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Rabb selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’. Maka kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88).

Para ahli tafsir menyampaikan, nabi Yunus diutus Allah kepada kaum Nainawi, suatu perkampungan di daerah Mossul, dekat Kuffah. Nabi Yunus menyeru mereka untuk menyembah dan beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Namun kebanyakan dari mereka menolaknya dan berlaku semena-mena dengan tetap berada pada kekafirannya. Karena keadaan ini berlangsung cukup lama, akhirnya Yunus pergi meninggalkan mereka, dan mengancam siksa akan turun menimpa mereka setelah tiga hari.

Sejumlah salaf dan khalaf menuturkan, saat Yunus pergi meninggalkan mereka, Allah memberikan ilham kepada mereka untuk bertobat dan kembali ke jalan kebenaran, mereka menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap nabi mereka sebelumnya. Mereka berdoa sepenuh hati, memohonkan ampunan kepada Allah.

Karena permohonan ampunan itulah, Allah kemudian melenyapkan azab yang akan menimpa mereka. “Ketika mereka (kaum Yunus) itu beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia” (QS. Yunus: 98).

Sayangnya nabi Yunus tidak mengetahui akan perubahan yang terjadi pada kaumnya, ia pergi meninggalkan kaumnya dengan perasaan kesal di hati. Kemudian ia menaiki sebuah kapal. Dalam perjalanannya di atas laut, kapal yang ditumpangi nabi Yunus terombang-ambing karena keberatan muatan. Kapal tersebut hampir tenggelam.

Hingga pada akhirnya, para penumpang kapal membuat sebuah kesepakatan. Mereka akan melakukan sebuah undian, bagia siapapun namanya yang muncul, maka dia harus rela dikeluarkan dari kapal (dilempar kelaut) untuk meringankan beban muatan kapal.

Undian pun berlangsung, ternyata yang keluar adalah nama Yunus. Pada awalnya seluruh penumpang tidak rela jika Yunus yang harus dikeluarkan dari kapal. Hingga akhirnya para penumpang kapal kembali membuat undian, dan nama Yunus keluar kembali dalam undian yang kedua. Yunus kemudian berdiri dan menyingsingkan lengan baju untuk terjun sendiri kedalam laut, namun seluruh penumpang kapal menahannya. Mereka membuat undian untuk yang ketiga kalinya. Dan untuk ketiga kalinya pula, nama Yunus keluar dalam undian. Qadarullah, Allah sudah menyiapkan suatu hal besar padanya.

“Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang Rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela” (QS. Ash Shaffat: 139-142).

Saat undian Yunus keluar, ia dilemparkan ke lautan. Allah ‘Azza wa Jalla kemudian mengirimkan seekor ikan besar dari lautan hijau yang langsung menelan Yunus. Allah memerintahkan ikan tersebut untuk tidak memakan daging dan mematahkan tulang Yunus. Ikan besar itu membawa Yunus berkelana ke segala penjuru lautan. Menurut salah satu pendapat, ikan besar tersebut kemudian ditelan ikan lain yang lebih besar.

Para mufassir berbeda pendapat mengenai berapa lamanya Yunus berada didalam perut ikan besar. Ada yang mengatakan sehari, ada juga yang mengatakan tiga hari, yang lain mengatakan tujuh hari. Sa’id bin Abu Hasan dan Abu Malik mengatakan Yunus berada didalam perut ikan selama 40 hari. Wallahu a’lam, hanya Allah yang Maha Tahu berapa lamanya Yunus berada didalam perut ikan.

Saat berada didalam perut ikan besar, Yunus mengira bahwa dia sudah mati. Ia kemudian menggerakkan tubuhnya dan ternyata masih bergerak. Ia mengetahui bahwa ia masih hidup, ia kemudian bersungkur sujud kepada Allah. Didalam perut ikan, Yunus mendengar ikan-ikan dilautan bertasbih kepada Ar Rahman. Bahkan Yunus juga mendengar tasbih pasir-pasir di lautan kepada Rabb pemilik tujuh langit, tujuh bumi dan segala yang ada diantara keduanya.

“..maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal diperut ikan itu sampai hari berbangkit..”. Saat berada didalam perut ikan, Yunus mendapatkan wahyu untuk senantiasa berzkir mengucapkan kalimat “Tidak ada Rabb selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim”.

Karena ke-Maha Penyayang-nya, Allah mengabulkan doa Yunus. “Kemudian Kami lemparkan dia kedaratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu” (QS. Ash Shaffat: 145-146). Ketika ikan besar memuntahkan Yunus kesebuah daratan yang tandus, ia dalam keadaan yang sangat lemah. Allah kemudian menumbuhkan sebuah pohon dari jenis labu.

Sebagian ulama mengatakan, salah satu hikmah dibalik ditumbuhkannya pohon labu untuk nabi Yunus (yang sedang dalam kondisi lemah) karena terdapat banyak manfaat dari pohon labu. Daun pohon labu sangat lembut, rindang dan tidak dikerubungi lalat. Buahnya bisa dimakan sejak masih muda ataupun matang, dan bisa dimakan langsung tanpa perlu dimasak. Kulit dan bijinya juga bisa dimakan. Selain menumbuhkan sebatang pohon labu untuk Yunus, Abu Hurairah mengatakan Allah juga mengirimkan seekor kambing kepada Yunus. Kambing ini memberikan susunya pada Yunus setiap pagi dan sore. Ini semua adalah rahmat, nikmat dan kebaikan yang Allah berikan untuk Yunus.

Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa dalam meminta sesuatu kepada Rabb-nya dengan doa Zun Nun kala berada didalam perut ikan bersar –‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’–, melainkan doanya pasti dikabulkan.”

“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiyaa’:88). Ini adalah syarat dari Allah bagi siapapun yang berdoa kepadanya.

===

Keinget cerita ini,
Suatu siang,
Ketika kami sedang duduk melingkar diagenda rutin pekanan kami,
Saat sesi sharing, salah satu teman saya menanyakan kepada Murobbiyah kami, tentang bagaimana ya misal langsung pergi pindah rumah, karena tidak tahan akan perilaku para tetangga yang sudah maksimal nyebelinnya (suka ngegosipin keluarga teman saya ini).

“anti sudah berusaha mendekati tetangga-tetangga anti, dan nyoba buat mengklarifikasi omongan-omongan mereka?”

“belum mba, males. Kayaknya percuma dijelasin juga, orang-orangnya pada kayak gitu :”(”

“males???, Terus anti mau langsung pergi pindah gitu aja???, Anti mau ditelen ikan besar kayak nabi Yunus!” jawab murobbiyah saya sekenanya.

#nevergiveup!
#jangancapek(apalagiberhenti)menyerukepadaAllah
#kaloenggakmauditelenikanbesar 😛
#iniserius!:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s