challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 18: Kisah Nabi Ayyub as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

“..Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu,..

–QS. Al A’raaf ayat 164–

 

Bismillah,

Kisah nabi yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah kisah nabi yang akan mementahkan setiap alasan yang dipunya oleh manusia akhir zaman yang tidak mampu bersabar dalam menghadapi ujian-Nya.

Namanya Ayyub bin Mush bin Razah bin Aish bin Ishaq bin Ibrahim Al Khalil. Menurut beberapa sumber, istrinya bernama Laya binti Mansa bin Ya’qub as.

Ulama tafsir, sejarah dan yang lainnya mengatakan bahwa Ayyub pada awalnya adalah orang yang sangat kaya raya, memiliki berbagai jenis harta, mulai dari binatang ternak, budak, hewan, tanah yang terbentang dari Tsaniyah sampai Hauran.

Dikisahkan, pada suatu ketika Allah mengambil semua kenikmatan yang ada pada diri Ayyub. Ia terkena penyakit yang menimpa seluruh bagian tubuhnya. Semuanya bagian tubuhnya sakit, namun tidak dengan lisan dan hatinya. Dengan hati dan lisan yang masih tersisa, Ayyub senantiasa berdzikir kepada Nya.

Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan dalam kitab Shahih, “manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, berikutnya orang yang paling mulia (tingkatan dan kedudukannya)”.

Maka inilah beliau, nabi Ayyub. As-Suddi mengatakan sangat parahnya penyakit nabi Ayyub, sampai membuat daging-dagingnya mudah terlepas dan terjatuh dari tubuhnya. Karena kasihan melihat kondisi suaminya, istrinya berkata, “Wahai suamiku, andai engkau berdoa kepada Rabb-mu agar diberikan jalan keluar”. Ayyub menjawabnya dengan penuh ketawakalan atas ketetapan yang diberikan Allah kepadanya, “Aku telah hidup sehat selama 70 tahun, lantas apakah 70 tahun berikutnya untuk aku habiskan dalam kesabaran karena Allah, terasa lama?”.

Untuk membantu perekonomian keluarga, dan dikarenakan sakit yang diderita oleh nabi Ayyub. Maka istri nabi Ayyub lah yang berkerja, ia berkerja pada orang lain agar mendapat upah untuk memenuhi kebutuhannya dan suaminya.

Diriwayatkan dari Mujahid, “nabi Ayyub adalah manusia pertama yang terkena penyakit cacar”. Para mufassir berbeda pendapat mengenai berapa lamanya Ayyub menghadapi penyakitnya. Wahab bin Munabih mengatakan bahwa nabi Ayyub tertimpa ujian selama 33 tahun. Anas mengatakan 7 tahun. Sedangkan Hamid mengatakan 18 tahun.

Nabi Ayyub setiap kali membuang hajat, tangannya selalu berpegangan pada tangan istrinya, hingga hajatnya selesai. Sampai suatu ketika, istrinya tidak kunjung datang, lalu Allah mewahyukan kepada Ayyub, “Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (QS. Shad: 42). Ayyub kemudian melaksanakan yang diperintahkan padanya, Allah kemudian memancarkan mata air yang sejuk. Allah juga memerintahkannya untuk mandi dan meminum air tersebut. Kemudian dengan kuasa Nya, Allah menghilangkan segala penyakit dan gangguan yang ada pada dirinya secara lahir dan batin. Allah menggantikannya dengan kesehatan lahir batin.

Saat istrinya datang, ternyata Ayyub tidak ada. Istrinya lama menunggunya, sampai Ayyub datang dan menghampiri istrinya. Ujian yang menimpa nabi Ayyub telah hilang. Allah mengembalikan kesehatan dan kerupawanan wajahnya. Saat melihat Ayyub, istrinya menanyakan kepadanya, “semoga Allah memberkahimu. Apa engkau melihat nabi Allah yang sedang tertimpa ujian itu? Demi Allah yang Maha Kuasa untuk menimpakan ujian seperti itu, aku tidak melihat seorang pun yang mirip dengannya melebihimu, andai dia sehat”. Istri nabi Ayyub belum mengenali bahwa laki-laki rupawan yang berdiri dihadapannya adalah suaminya, yang dengan kehendak Allah telah diangkat segala penyakitnya. “inilah aku orangnya” jawab nabi Ayyub.

“Dan Kami anugrahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan kami lipat gandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat” (QS. Shad: 43). Allah mengembalikan harta benda miliknya dan melipatgandakannya, juga menggantikan keluarganya.

Menurut riwayat Ibnu Jarir dalam tafsir Ath Thabari, Ayyub memiliki dua tempat untuk menimbun hasil panen, satunya untuk menimbun gandum dan satunya lagi untuk menimbun jelai. Allah mengutus dua awan. Ketika awan tersebut berada diatas tempat penyimpanan gandum, awan tersebut menurunkan hujan emas hingga meluap. Sementara awan yang satunya menurunkan hujan perak di tempat penyimpanan jelai hingga meluap.

Ada yang menyebutkan, Allah menghidupkan kembali keluarganya yang telah meninggal. Pendapat lain menyatakan, Allah menggantikan keluarganya didunia dan akan menyatukan mereka semua di akhirat kelak. Ibnu Abbas mengatakan, Allah mengembalikan usia muda pada istrinya dan membuatnya lebih cantik, hingga melahirkan 26 anak lelaki untuk Ayyub.

“Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah” (QS. Shad: 44). Dikisahkan ketika Ayyub sakit, setan datang dalam wujud seorang tabib yang datang kepada istrinya dan meresepkan obat untuk Ayyub. Istri Ayyub kemudian menemui Ayyub dan memberitahukan hal itu padanya, Ayyub tahu si tabib adalah setan yang menyamar. Karena kesal dengan istrinya maka Ayyub bersumpah untuk mencambuknya selam seratus kali. Firman-Nya diatas adalah sebuah keringanan dari Allah kepada hamba Nya yang bertakwa, terlebih kepada istrinya yang sabar lagi mengharap pahala dan seorang pendamping yang setia.

Mujahid mengatakan, pada hari kiamat kelak, Allah akan menjadikan Sulaiman sebagai hujjah bagi orang-orang yang dilimpahi harta dan kekuasaan yang melimpah, Yusuf sebagai hujjah bagi orang-orang yang mulia, sedangkan Ayyub sebagai hujjah bagi orang-orang yang tertimpa ujian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s