challenge · KisahParaNabi

#KisahParaNabi 17: Kisah Nabi Yusuf as (3)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

 

Menurut beberapa pendapat, setelah Isthafir bin Ruhaib –mentri Mesir yang merawat Yusuf- meninggal, Yusuf menikahi istrinya, Zulaikha. Dan Yusuf mendapatinya masih ‘suci’ karena suaminya tidak punya keinginan terhadapnya. Zulaikha kemudian melahirkan dua anak dari Yusuf, yaitu Afrayim dan Mansa.

Dalam QS. Yusuf: 58-62 dikisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk meminta bahan makanan. Ini terjadi setelah masa kemarau panjang menimpa berbagai penjuru negri secara merata. Pada saat itu, Yusuf menjabat sebagai penguasa urusan agama dan dunia kawasan Mesir. Saat mereka masuk, Yusuf mengenali mereka namun mereka tidak mengenali Yusuf.

“Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka. Dia berkata ‘Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin)”. Yusuf meminta saudara-saudaranya untuk datang kembali bersama Bunyamin. “Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?. Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku”. Nabi Yusuf berusaha agar mereka membawa saudaranya dengan memberikan dorongan dan ancaman kepada mereka.

Allah menuturkan kisah mereka setelah pulang dan menemui ayah mereka. “Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami”. Nabi Ya’qub sangat menjaga Bunyamin, karena darinyalah Ya’qub dapat mengobati rasa rindunya kepada Yusuf. Pada awalnya nabi Ya’qub merasa sangat berat untuk melepas Bunyamin. Setelah mengambil janji terhadap anak-anaknya bahwa mereka akan menjaga Bunyamin (QS. Yusuf: 66), maka dia melepaskan Bunyamin untuk turut pergi bersama saudara-saudaranya.

Yusuf: 69-79 mengisahkan bagaimana Yusuf bertemu kembali dengan adik kandungnya, Bunyamin setelah sekian lama berpisah. Allah mengisahkan, saat mereka (saudara-saudara Yusuf) masuk bersama Bunyamin. Yusuf menempatkan Bunyamin didekatnya dan memberitahukannya secara rahasia bahwa ia adalah saudaranya dan mengatur siasat agar Bunyamin tetap berada ditempatnya.

Yusuf memerintahkan pelayannya untuk meletakkan sebuah gelas miliknya kedalam barang-barang bawaan milik Bunyamin. Setelah itu Yusuf memberitahukan kepada mereka, bahwa salahsatu dari mereka telah mencuri gelas milik raja. Saat dilakukan pemeriksaan, dan ditemukan gelas milik raja didalam tas milik Bunyamin “Mereka berkata, ‘Jika dia mencuri, maka sungguh sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri”, maksud mereka adalah Yusuf. “Kedudukanmu justru lebih buruk. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan”, jawab Yusuf menyembunyikan kejengkelan didalam hatinya (QS. Yusuf: 77).

Karena tertangkap basah ditemukannya gelas milik raja didalam barang bawaan Bunyamin, maka Bunyamin ditahan di Mesir. Saudara-saudaranya kembali pulang ke rumah tanpanya. Sesampainya mereka dirumah, mereka mengabarkan tentang tertangkapnya Bunyamin kepada ayahnya. Hal ini tentu membuat ayahnya semakin bersedih (QS. Yusuf: 80-87).

Allah mengabarkan dalam QS. Yusuf: 88-93, tentang saudara-saudara Yusuf yang kembali ke Mesir untuk meminta kepada Yusuf agar berkenan mengembalikan adik mereka, Bunyamin. Kala melihat kondisi saudara-saudaranya yang semakin kesusahan, saat itulah Yusuf memperkenalkan dirinya. “Aku Yusuf, dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia Nya kepada kami”.

Mengetahui bahwa sang penguasa Mesir dihadapan mereka adalah Yusuf, saudara yang telah mereka buang kedalam sumur, membuat mereka terkejut dan langsung meminta maaf dan mengakui kesalahan mereka, “Sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa)”. Nabi Yusuf memaafkan mereka. “Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang”.

Setelah itu Yusuf meminta mereka untuk kembali pulang sambil membawa baju miliknya untuk diberikan kepada ayahnya. Yusuf juga memerintahkan mereka untuk membawa serta seluruh keluarga mereka ke Mesir.

“Maka ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya (baju itu) ke wajahnya (Ya’qub), lalu dia dapat melihat kembali”. Sebelumnya dikisahkan, sepeninggal Yusuf dan Bunyamin, nabi Ya’qub sangat bersedih dan sering berdoa sambil menangis, sehingga mengganggu penglihatanya. Setelah diusapkan baju Yusuf ke wajahnya, maka seketika itu pula penglihatan nabi Ya’qub menjadi kembali sehat.

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman”. Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah takbir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 99-100)

===

Kisah nabi Yusuf as mengajarkan kita. Kisah nabi Yusuf dalam Al Qur’an surat Yusuf, dimulai dari ayat 4 dan 5. Dan di ayat kelima itu nabi Yusuf berkata kepada Ayahnya, bahwa dia bermimpi melihat 11 bintang, bulan dan matahari sujud tunduk kepadanya. Lalu ayat ke-6 sampai ayat ke-99 itu hanya kisah perjuangan nabi Yusuf, dia dimasukkan kedalam sumur, dijadikan budak, dijual, dipenjara, digoda zulaikha, dan cobaan-cobaan yang lainnya. Sampai diayat 100 nabi Yusuf berhasil menjadi raja, lalu dia panggil ayah dan saudara-saudaranya, kemudian dia dudukkan ayahnya di singgasananya, lalu dia berkata pada ayahnya “ayahku, ini mimpi yang dulu ku katakan padamu, dan sungguh Allah telah baik menjadikannya kenyataan”.

Maka, kalau kita beriman kepada nabi Yusuf, kisah nabi Yusuf mengajarkan kepada kita kalau kisah hidup kita bukan dimulai kemarin, dari siapa kita lahir, apa latar belakang kita, darimana dulu kita sekolah atau kuliah, apa pekerjaan kita sekarang. Tapi kisah hidup kita dimulai dari saat kita mulai berani mengatakan apa mimpi kita, apa yang kita inginkan di hadapan Nya. Dan kisah hidup kita hanya pantas diakhiri seperti nabi Yusuf saat kita berhasil mendapatkan apa yang pernah kita gambarkan tadi, kemudian kita katakan pada orang-orang yang pernah kita katakan mimpi kita: “Sungguh Allah telah baik untuk menjadikannya kenyataan”. << dua paragraph ini saya ambil dari rekaman salahsatu kajian MQFM :”). Sangat Inspiratif :).

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s