challenge · KisahParaNabi

#Kisah Para Nabi 11: Kisah Nabi Syu’aib as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

Dalam beberapa ayat Al Qur’an, setelah menyebutkan kisah kaum Luth, Allah melanjutkannya dengan kisah penduduk Madyan. Maka, pada kesempatan kali ini kita akan bertemu dengan nabi Syu’aib as.

Penduduk Madyan adalah kaum Arab yang menempati kota Madyan, salah satu daerah Ma’an, perbatasan Syam, berbatasan langsung dengan Hijaz, dekat dengan danau kaum Luth. Penduduk Madyan ada setelah penduduk Sodom dalam rentang waktu yang relatif dekat.

Mereka –penduduk Madyan dikenal senang merampok, meneror siapapun yang melintas dan menyembah Aikah (Sebuah pohon didalam hutan dengan semak-semak rindang di sekitarnya). Mereka amat curang dalam bermuamalat, mengurangi takaran dan timbangan, meminta lebih namun mengurangi saat memberi (QS. Al A’raf:85).

Untuk itulah, kemudian Allah mengutus seorang rasul dari golongan mereka. Dialah Syu’aib. Menurut salah satu sumber, dialah Syu’aib bin Nuwaib bin Aifa bin Madyan bin Ibrahim.

Seperti amanah yang diembankan kepada para Nabi dan Rasul sebelumnya, Nabi Syu’aib juga menyeru kepada kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata (QS. Al A’raf:85). Nabi Syu’aib juga melarang mereka melakukan perbuatan curang dalam takaran dan timbangan.

“dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. Sisa (yang halal) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu” (QS. Huud:85-86).

“Sisa (yang halal) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang yang beriman”, keuntungan halal akan diberkahi meski sedikit dan harta haram sama sekali tidak akan membawa guna meski sebanyak apapun.

Disebabkan oleh kekafiran yang memuncak, atas seruan yang disampaikan oleh nabi Syu’aib kepada mereka, para penduduk Madyan menjawab, “‘Wahai Syu’aib! Apakah agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki?” (QS. Huud:78).

“’wahai Syu’aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu..” (QS. Huud: 91), yaitu kami tidak memahimya karena kata-katamu itu tidak kami sukai dan tidak kami inginkan, dan kami sama sekali tidak ada keinginan untuk kesana. Perkataan ini sama seperti apa yang dikatakan orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW, “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding. Maka berkerjalah kamu, sesungguhnya kami berkerja (pula)’” (QS. Fushshilat: 5).

“dan wahai kaumku! Berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan siapa yang berdusta…” (QS. Huud: 93). Nabi Syu’aib menyampaikan peringatan kepada kaumnya, jika mereka tetap tidak mau beriman, maka teruslah berada di jalan, manhaj dan perbuatan seperti yang mereka lakukan, kelak mereka akan siapa yang akan tertimpa kebinasaan dan kehancuran.

Meski telah mendapat peringatan yang keras dari nabi Syu’aib, dikarenakan kekafiran mereka yang sudah memuncak, para penduduk Madyan tetap bersikeras melakukan perbuatan batil mereka seperti biasa. Hingga Allah menurunkan azab kepada mereka sebagai pembuktian kebenaran atas seruan yang dibawakan oleh nabi Syu’aib.

“Lalu mereka ditimpa azab pada hari yang gelap. Sungguh, itulah azab pada hari yang dahsyat” (QS. Asy Syu’araa: 189). Para mufassir menyebutkan, kaum Syu’aib tertimpa panas yang sangat hebat, Allah menahan angin sehingga tidak berhembus selama 7 hari lamanya. Air ataupun naungan sama sekali tidak mampu meredakan panas yang berhembus. Bahkan meskipun mereka memasuki terowongan-terowongan untuk mendapatkan naungan, panas yang terasa tidak berkurang sedikitpun.

Hingga akhirnya mereka berlari dan berkumpul di sebuah dataran luas yang diatasnya terdapat awan hitam, mereka berkumpul untuk mendapatkan naungan. Saat semuanya sudah berkumpul, Allah mengirimkan kobaran api bersamaan dengan awan hitam tersebut. Kemudian bumi berguncang dengan hebat, suara menggelegar terdengar dari atas langit hingga mencabut nyawa mereka, dan tubuh mereka bergelimpangan.

“maka ketika keputusan Kami datang, kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat kami. Sedang orang yang zalim dibinasakan oleh suara yang mengguntur, sehingga mereka mati bergelimpangan dirumahnya, seolah-olah mereka belum pernah tinggal ditempat itu. Ingatlah!, binasalah penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud (juga) telah binasa” (QS. Huud: 94-95).

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih, Syu’aib meninggal dunia di Mekkah bersama kaum mukminin pengikutnya. Kuburan mereka berada di sisi barat Ka’bah, diantara Darun Nadwah dan Dar Bani Sahm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s