challenge · KisahParaNabi

#Kisah Para Nabi 7: Kisah Nabi Ibrahim as (1)

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

Namanya adalah Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin Abir bin Shalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh as.

Para ahli sejarah menyebutkan, bahwa Tarikh memiliki tiga orang anak yaitu Nahur, Ibrahim dan Haran. Haran sendiri memiliki anak yang bernama Luth, yang juga Allah karuniakan risalah kenabian. Maka jika dilihat dari silsilah keluarga ini, Nabi Luth as adalah keponakan dari Nabi Ibrahim as. Dalam QS. Al An’aam:74 disebutkan bahwa nama Ayah Ibrahim adalah Azar. Namun mayoritas ahli nasab menyebut namanya Tarikh, sedangkan Azar adalah julukan berhala yang disembah oleh ayah Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim pertama kali menyampaikan seruan untuk beriman dan beribadah kepada Allah kepada ayahnya (QS. Maryam: 41-48). Allah menyampaikan kisah perdebatan antara Nabi Ibrahim dengan ayahnya. Tentang bagaimana Nabi Ibarahim mengajak ayahnya menuju kebenaran dengan tutur kata lembut dan isyarat yang baik. Menjelaskan kebatilan paganisme yang dianutnya, bahwa berhala-berhala yang disembah itu sama sekali tidak dapat mendengar permintaan orang yang menyembahnya dan juga tidak bisa melihat tempat keberadaannya. Benda seperti itu, bagaimana mungkin bisa menolong atau memberikan kebaikan, rezeki atau pertolongan?

Namun ayahnya tetap berpaling dari petunjuk dan nasihat yang disampaikan Nabi Ibrahim, enggan menerima dan malah mengancamnya. Meskipun begitu, Nabi Ibrahim tetap menyampaikan kata-kata yang baik dan bahkan berjanji kepada ayahnya, bahwa beliau akan berdoa dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi ayahnya. Nabi Ibrahim memenuhi janjinya, namun setelah jelas ayahnya tetap tidak mau beriman, maka Nabi Ibrahim pun melepaskan diri darinya (QS. At Taubah:114).

Sebelumnya, Tarikh –ayah nabi Ibrahim- bermigrasi bersama keluarganya menuju negri Kan’an di wilayah Baitul Maqdis. Selama perjalanannya, mereka sempat singgah di Haran dan juga singgah di Jazirah dan Syam. Penduduk Syam saat itu menyembah tujuh bintang, demikian juga dengan penduduk Haran, mereka menyembah bintang-bintang dan berhala. Tidak terkecuali penduduk bumi kala itu, sebagian besar dari mereka semua kafir. Melalui sosok Ibrahim, Allah melenyapkan keburukan-keburukan tersebut.

Selain perdebatan Nabi Ibrahim dengan ayahnya, Allah juga menceritakan bagaimana perdebatan anatara Nabi Ibrahim dengan kaumnya (QS. Al An’aam: 75-83). Nabi Ibrahim menjelaskan kepada kaumnya, bahwa bintang-bintang terang yang mereka sembah tidak patut untuk dipertuhankan, karena mereka juga makhluk yang diatur, diciptakan dan dikendalikan. Kadang muncul dan kadang terbenam. Sementara Rabb Ta’ala yang ia seru untuk diibadahi adalah Tuhan yang maha kekal abadi dan tidak akan menghilang. Namun kaumnya menolak apa yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim dengan hujjah bahwa apa yang mereka lakukan adalah tradisi nenek moyang dan para leluhur.

Karena bersikukuh tetap menolak apa yang disampaikan oleh nabi Ibrahim, maka nabi Ibrahim pun membuat sebuah siasat untuk menyadarkan kaumnya. Kaum nabi Ibrahim memiliki hari besar yang biasa mereka hadiri diluar perkampungan. Ayah Ibrahim mengajaknya untuk ikut menghadiri perayaan tersebut, namun nabi Ibrahim menolak dengan mengatakan “aku sakit” (QS. Ash Shaafaat: 88-89). Nabi Ibrahim mengatakan itu dengan maksud kiasan untuk menghina paganisme yang mereka anut, karena ketika mengatakan “aku sakit” sebelumnya nabi Ibrahim memandang sekilas ke arah bintang-bintang.

Setelah semua kaumnya pergi, nabi Ibrahim pergi menuju tempat penyembahan berhala-berhala. Ibrahim mendapati berhala-berhala tersebut dihias dan didepannya diletakan beraneka macam makanan. “Mengapa kamu tidak makan? Mengapa kamu tidak menjawab” (QS. Ash Shafaat:91-93), tanya Nabi Ibrahim dengan nada mencomooh. Setelah itu nabi Ibrahim mengayunkan tangan kanannya dan dengan cepat mengahancurkan semua berhala-berhala itu dengan kapak, kecuali berhala yang terbesar (QS. Al Anbiya:58-59). Setelah itu, nabi Ibrahim meletakkan kapak ditangan berhala yang paling besar, untuk memberikan kesan bahwa ia –berhala paling besar- cemburu jika ada tuhan-tuhan kecil yang disembah bersamanya.

Saat semua orang pulang, mereka terhenyak dengan apa yang menimpa berhala-berhala mereka (QS. Al Abiyaa:59). Setelah itu salahsatu dari mereka memberitahu bahwa Ibrahim tidak ikut bersama mereka ke perayaan, maka dipanggilah Ibrahim. Tujuan utama nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala adalah supaya semua orang berkumpul, sehingga ia bisa menyampaikan hujah kepada seluruh penyembah berhala atas kebatilan peribadatan yang mereka lakukan. Hal ini juga dilakukan oleh Nabi Musa kepada Fir’aun (QS. Thaahaa:59).

Dalam QS. Al Anbiyaa: 62-67 kemudian diceritakan bagaimana nabi Ibrahim mengeluarkan argumentasi logisnya dihadapan kaumnya yang sudah berkumpul, “mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu?”

Karena kalah dengan argumentasi logis yang disampaikan oleh nabi Ibrahim, dan tidak lagi memiliki hujjah ataupun syubhat, akhirnya mereka –kaum nabi Ibrahim- beralih menggunakan kekuatan dan kekuasaan demi mempertahankan keyakinan mereka. “buatlah bangunan (perapian) untuk membakar Ibrahim, lalu lemparkanlah dia kedalam api yang menyala-nyala itu” (QS. Ash Shaaffaat: 97).

Maka kaum nabi Ibrahim berbondong-bondong mengumpulkan berbagai kayu bakar dan meletakannya diatas sebuah tanah keras yang luas, kemudian mereka menyalakan api untuk membakar kayu-kayu itu, hingga api berkobar dan membumbung tinggi.

Setelah itu mereka mengikat nabi Ibrahim dengan kedua tangan dibelakang pundak dan meletakannya didalam manjaniq (sebuah alat kuno yang digunakan untuk pengepungan, biasanya batu besar diletakkan didalam manjaniq ini untuk kemudian dilemparkan kea rah benteng musuh hingga runtuh), lalu mereka lemparkan kedalam kobaran api. Dalam riwayat Bukhori, dari Ibnu Abbas, saat akan dilemparkan kedalam kobaran api, nabi Ibrahim mengucapkan “Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia-lah sebaik-baik Pelindung”.

Sebagian salaf menyebutkan, ketika nabi Ibrahim berada di udara (saat dilemparkan kedalam kobaran api), Jibril menawarkan bantuan padanya “wahai Ibrahim. Apakah kau punya suatu keperluan?”. Nabi Ibrahim menjawab, “tidak padamu”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menuturkan, “malaikat hujan mengatakan, ‘kapan kiranya aku diperintahkan untuk menurunkan hujan?’ Namun, perintah Allah jauh lebih cepat, “Wahai api, jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiyaa:69). Ibnu Abbas dan Abu Aliyah mengatakan, “Andai Allah tidak berfirman, ‘dan penyelamat bagi Ibrahim’, tentu dinginnya api tersebut dapat membahayakan Ibrahim”.

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa didalam kobaran api, nabi Ibrahim berada dalam keadaan aman sentosa, tidak ada satupun bagian dari tubuhnya yang terkena jilatan api. Minhal bin Amr menuturkan bahwa nabi Ibrahim bertahan berada di dalam kobaran api selama 40 atau 50 hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s