challenge · KisahParaNabi

#Kisah Para Nabi 6: Nabi Shalih as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

Tsamud adalah sebuah kabilah yang masyhur. Mereka adalah bangsa Arab ‘aribah (bangsa Arab sebelum Nabi Ismail), mereka tinggal di Hijir, sebuah kawasan diantara Hijjaz dan Tabuk. Kaum Tsamud ada setelah kaum Ad, dan sama halnya dengan kaum Ad mereka pun menyembah berhala. Untuk inilah kemudian Allah mengutus seorang hamba yang berasal dari golongan mereka. Ia bernama Shalih bin Ubaid bin Masih bin Ubaid bin Hadir bin Tsamud bin Atsir bin Iram bin Sam bin Nuh.

Meskipun kaum Tsamud hidup setelah kaum Ad, namun itu juga tidak membuat mereka menjadi beriman dan takut dengan azab yang akan Allah timpakan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Nya. Dalam QS. Al A’raaf ayat 73-74, Allah menjadikan kaum Tsamud sebagai khalifah setelah kaum Ad agar mereka bisa memetik pelajaran dari kisah Kaum Ad. Kaum Tsamud diberikan kelebihan oleh Allah dalam hal membangun rumah, mereka sangat pandai dalam membuat, menata dan mengokohkan rumah-rumah mereka (QS. Asy Syu’araa ayat 149).

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh mayoritas kaum-kaum sebelumnya terhadap seruan utusan Allah, kaum Tsamud juga mengingkarinya dan mengatakan bahwa Nabi Shalih telah terkena sihir, sehingga tidak mengerti apa yang diucapkan ketika menyeru kepada kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sembahan-sembahan yang lainnya. “Sesungguhnya, kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir” (QS. Asy Syu’araa ayat 153).

“engkau hanyalah manusia seperti kami, maka datangkanlah sesuatu mukjizat jika engkau termasuk orang yang benar” (QS. Asy Syu’araa ayat 154). Para ahli tafsir menyebutkan, ketika Nabi Shalih datang menemui mereka, memberikan nasihat dan menyeru mereka kepada Allah, mereka kemudian menantang nabi Shalih dengan berkata, “jika engkau bisa mengeluarkan seekor unta bunting dengan ciri seperti ini dan itu dari batu besar ini” –mereka menunjuk sebuah batu besar dan menyebutkan sejumlah cirri yang mereka inginkan–. Nabi Shalih menyanggupi tantangan yang diberikan oleh kaumnya, dengan sebelumnya menanyakan “jika aku penuhi permintaan kalian, apakah kalian mau beriman kepada kebenaran yang aku sampaikan dan mempercayai risalah yang ditugaskan kepadaku?”. “ya” jawab mereka.

Setelah itu Nabi shalih memanjatkan doa kepada Allah agar permintaan yang disampaikan oleh kaumnya dikabulkan. Allah ‘azza wa jalla kemudian memerintahkan kepada bongkahan batu besar –yang ditunjuk oleh kaum Tsamud- untuk mengeluarkan seekor unta besar dan bunting dengan cirri-ciri tepat seperti apa yang dipintakan oleh kaum Tsamud. “dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa Azab” (QS. Hud ayat 64). Pesan Nabi Shalih kepada kaumnya terkait dengan unta betina yang Allah turunkan ditengah mereka.

Saat melihat sebuah mukjizat yang besar dengan kepala sendiri, beberapa diantara kaum Tsamud mulai menyatakan keimanan mereka terhadap seruan yang dibawa oleh Nabi Shalih. Namun sebagian besar tetap kafir, mereka mengingkari kebesaran Allah yang jelas nyata terpampang dihadapan mereka. Parahnya mereka mulai berencana, melakukan sebuah konspirasi untuk membunuh unta betina mukjizat Nabi Shalih.

Para tokoh kaum Tsamud berkumpul dan menyepakati untuk melaksanakan sebuah rencana pembunuhan terhadapa unta betina mukjizat nabi Shalih. Eksekutor penyembelihan ini bernama Qidar bin Salif bin Junda’. Dan salah seorang lain yang turut berpastisipasi dalam pembunuhan unta tersebut adalah Mashra’ bin Mahraj bin Mahya. Akhirnya, dua pemuda ini bergerak untuk menyembelih unta. Berita ini segera menyebar di telinga kaum Tsamud, dan ada tujuh orang lainnya yang turut bergabung bersama mereka. Hingga jumlah total mereka mencapai Sembilan orang (QS. An Naml ayat 48).

Saat unta meninggalkan sumur, tempat air dimana ia biasa minum, Mashra’ memasang perangkap, lalu memanahnya. Setelah itu, ia menikam kedua lambungnya. Kemudian Qidar datang dan menebaskan pedang mengenai urat pada keting (belakang kaki) yang menyebabkan unta tersebut kemudian jatuh tersungkur dan mengeluarkan suara yang keras. Dan yang lainnya segera datang menyerang dengan pedang dan memotong-motong unta tersebut. Segera, setelah mereka membunuh unta betina tersebut, mereka dengan angkuhnya berkata “wahai Shalih! Buktikan ancamamnu kepada kami, jika benar engkau salah seorang rasul” (QS. Al A’raaf ayat 77).

“bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak bisa didustakan.” (QS. Hud ayat 65), kata Nabi Shalih mengingatkan tentang azab yang akan mereka terima sebagai hukuman karena melanggar apa yang sudah Allah perintahkan. Tidak hanya berhenti dengan membunuh unta betina yang diturunkan Allah sebagai mukjizat yang diberikan Allah. Mereka mengingkari peringatan yang diberikan Nabi Shalih dan bahkan juga berencana untuk membunuh Nabi Shalih dan keluarganya pada malam harinya (QS. An Naml ayat 49).

Namun Allah adalah sebaik-baik maha pembuat makar. Maka di malam hari ketika mereka ingin membunuh Nabi Shalih dan keluarganya, Allah mengirimkan bebatuan yang menimpa mereka hingga mereka semua binasa (QS. An Naml ayat 50-53).

Dihari pertama –selama masa penantian tiga hari- wajah kaum Tsamud berubah menjadi pucat pasi, pada sore harinya mereka sama-sama meneriakkan “satu hari penantian itu telah berlalu”. Dihari kedua, wajah mereka berubah merah, dan disore harinya mereka saling meneriakkan, “dua hari penantian itu telah berlalu”. Selanjutnya pada hari ketiga selama tiga hari yang dinantikan untuk bersenang-senang, wajah mereka berubah menjadi hitam. Kemudian pada sore harinya, mereka saling meneriakkan “masa penantian itu berlalu sudah”.

Keesokkan harinya, saat matahari terbit, datanglah suara menggemuruh dari langit diatas mereka dan bumi yang ada dibawah mereka berguncang hebat, hingga nyawa mereka melayang, semuanya diam tak bergerak, suasana senyap tanpa suara. Terjadilah ancaman yang disampaikan, mereka bergelimpangan dibawah reruntuhan rumah-rumah mereka. Mereka berubah menjadi bangkai-bangkai. Allah menyebutkan dalam firman Nya, “seolah-olah mereka belum pernah tinggal ditempat itu”, seakan-akan mereka belum pernah menempati negeri itu dengan keleluasaan rizki dan kekayaan. ”Ingatlah, kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka, ingatlah, binasalah kaum Tsamud” (QS. Hud ayat 68), lisan takdir meneriakkan kata-kata itu kepada mereka.

“kemudian dia (Shalih) pergi meninggalkan mereka sambil berkata, “wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasehati kamu. Tetapi kamu tidak menyukai orang yang member nasihat” (QS. Al A’raaf ayat 79). Setelah kaumnya binasa, Nabi Shalih mengajak pengikutnya yang beriman kepada Allah untuk pergi meninggalkan negeri mereka.

Dalam riwayat Imam Ahmad, pada saat Rasulullah dan pasukannya singgah di Tabuk, beliau singgah di Hijir di dekat rumah-rumah bekas kaum Tsamud. Rasulullah saw berkata, “janganlah kalian memasuki tempat-tempat mereka yang pernah tertimpa azab itu kecuali dengan menangis, jika kalian tidak menangis maka pura-puralah menangis, aku khawatir kalian tertimpa azab seperti yang pernah menimpa mereka”.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s