challenge · KisahParaNabi

#Kisah Para Nabi 5: Kisah Nabi Hud as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

Ia adalah Hud bin Abdullah bin Rabbah Al Jarud bin Ad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh.  Kaum Nabi Hud berasal dari sebuah kabilah bernama Ad. Dalam QS. Al Fajr ayat 6-7, Allah menyebut mereka dengan penduduk Iram dari kabilah Ad. Mereka adalah bangsa Arab yang tinggal di pegunungan pasir di Yaman, diantara Oman dan Hadhramaut, dikawasan sepanjang pantai bernama Syahar, lembah mereka bernama Mughits.

Nabi Hud adalah salahsatu dari empat nabi yang berasal dari bangsa Arab. Dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, dari Abu Dzhar dalam hadist yang panjang tentang para nabi dan rasul, disebutkan “Empat diantara mereka berasal dari bangsa Arab: Hud, Shalih, Syu’aib dan Nabi mu, wahai Abu Dzar.” Dan kaum Ad adalah generasi pertama yang menyembah berhala setelah banjir besar. Berhala mereka ada tiga, yaitu Sadd, Samud dan Hera.

Dalam banyak ayat tentang kisah kaum Ad, Allah menyampaikan tentang karakter kaum Ad yang bersikap kasar, semena-mena dan melampaui batas dalam menyembah berhala. Karena hal inilah, Allah mengutus Nabi Hud yang berasal dari golongan mereka sendiri, menyeru untuk beribadah kepada Allah semata dengan ikhlas. Meskipun Nabi Hud menyampaikan seruannya dengan bahasa yang lembut, namun kaumnya tetap menolaknya dan mengatakan bahwa sesembahan berhala mereka telah menimpakan penyakit gila kepada Nabi Hud (QS. Hud ayat 52-53), disebabkan karena Tuhan mereka marah terhadap apa yang diserukan oleh Nabi Hud. Menjawab tuduhan kaumnya, Nabi Hud berkata, “Seseungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan yang lain, sebab itu jalankanlah semua tipu dayamu terhadapku dan jangan kamu tunda lagi” (QS. Hud ayat 54-55).

Nabi Hud menantang kaumnya, jika memang Tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum nya dapat menimpakan mara bahaya, maka datangkanlah sekarang juga. “sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Rabbmu. Tidak ada satupun mahkluk bergerak yang bernyawa  melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunya (menguasainya)”. Sama seperti kaum Nabi Nuh, mereka pun menantang Nabi Hud untuk menyegerakan Azab bagi mereka jika Nabi Hud adalah orang yang benar (QS. Al Ahqaf ayat 22). Mereka juga beralasan bahwa Nabi Hud sama seperti mereka, hanya seorang manusia biasa yang juga makan dan minum seperti apa yang mereka makan dan minum, jadi untuk apa mereka mempercayai apa yang diserukan oleh Nabi Hud (QS. Al Mukminun ayat 33-37). Hal serupa juga disampaikan oleh para pemuka kaum kafir Quraisy yang meragukan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw (QS. Al Israa ayat 94-95), hanya karena Rasulullah hanyalah seorang manusia biasa yang juga makan dan berpergian ke pasar.

“dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Rabbmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberikan peringatan kepadamu?” (QS. Hud ayat 69). Hal ini bukanlah hal yang aneh, karena tentu Allah Maha Tahu dimana Ia menempatkan risalah-Nya.

Allah menyebutkan berita kebinasaan kaum Ad di beberapa ayat. Permulaan azab yang Allah berikan kepada kaum Ad adalah datangnya kemarau yang berpanjangan. Para mufassir menyebutkan kisah terkait hal ini, seperti yang disampaikan Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar, “kala mereka enggan menerima apapun, selain ingkar kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah menahan hujan selama tiga tahun tidak kunjung turun hingga mereka kelaparan. Pada masa itu, ketika kekeringan menimpa, mereka akan mengirimkan beberapa orang utusan untuk berdoa di Tanah Haram. Salah seorang dianatara mereka kemudian berdoa, menurut salah satu sumber namanya Qail bin Unz. Allah kemudian mengumpulkan tiga awan: awan putih, merah dan hitam. Setelah itu ada yang menyerukan dari langit,”Pilihlah awan yang mana untukmu atau kaummu”. Qail berkata, “aku memilih awan yang hitam, karena paling banyak mengandung air”.

Ibnu Ishaq meneruskan, “Allah mengiring awan yang dipilih Qail bin Udz. Melihat awan hitam yang mengiring salahsatu utusan mereka, kaum Ad bergembira karena mengira awan tersebut adalah awan yang akan membawakan hujan”. “..inlah awan yang akan meurunkan hujan kepada kita. (Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al Ahqaf ayat 24).

Allah kemudian menimpakan angin yang sangat bergemuruh (QS. Fushilat ayat 16), beberapa mufassir mengatakan bahwa awan hitam tersebut meniupkan angin yang sangat dingin yang terjadi terus menerus selama tujuh malam delapan hari. Ketika angin tersebut menimpa salah seorang dari mereka, maka ia terangkat ke udara, kemudian dilemparkannya dengan terjungkal dan membuat kepalanya hancur. “yang membuat manusia bergelimpangan, mereka bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya” (QS. Qamar ayat 20). “Maka kamu melihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang pohon-pohon kurma yang telah lapuk.” (QS. Al Haqqaah ayat 6-8). Sementara Nabi Hud dan pengikutnya yang beriman mengasingkan diri disebuah tempat tertutup. Mereka tidak tertimpa siksa yang menimpa kaum Ad saat itu.

Dalam kitab Shahih-nya, Imam Muslim menyampaikan dari Aisyah ra, “setiap kali angin berhembus, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang Kau kirimkan bersamanya. Aku berlindung kepada Mu keburukan dari angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang Kau kirimkan bersamanya.” Aisyah meneruskan, “ketika langit gelap berawan, rona muka beliau berubah, beliau keluar masuk (rumah), datang dan pergi. Dan ketika turun hujan beliau merasa senang. Aisyah mengetahui hal itu, lalu bertanya kepada beliau. Beliau menjelaskan, “wahai Aisyah, mungkin awan itu seperti yang dikatakan kaum Ad, “maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita’.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s