challenge · KisahParaNabi

#Kisah Para Nabi 4: Kisah Nabi Nuh as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca 🙂

Namanya Nuh bin Lamik bin Muttawsyalakh bin Idris bin Yarid bin Mahylayil bin Qanin bin Anusy bin Syaits bin Adam, ayah seluruh manusia.

Nuh lahir 116 tahun setelah Adam meninggal. Nuh adalah rasul pertama yang diutus ke muka bumi. Nuh diutus Allah kala berhala-berhala dan thagut mulai diibadahi, ketika manusia mulai terjerumus dalam kesesatan dan kekafiran. Kaum Nabi Nuh bernama Bani Rasib.

Setelah generasi-generasi shalih berlalu, terjadi sejumlah hal yang pada akhirnya memicu manusia yang ada saat itu menyembah berhala. Dalam riwayat disebutkan pemicu penyembahan berhala saat itu adalah karena meninggalnya orang-orang shalih yang menjadi panutan dan teladan mereka. Setelah mereka (orang-orang shalih, dalam Surat Nuh ayat 23 mereka disebutkan bernama: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) meninggal dunia, setan membisikan pikiran jahat kepada kaum mereka untuk membuat sejumlah patung yang diberi nama sesuai dengan nama mereka di majelis-majelis yang dahulunya biasa mereka hadiri. Mereka mewujudkan bisikan jahat setan itu, hanya saja patung-patung tersebut belum disembah. Setelah para pengikut tersebut meninggal dunia dan muncul generasi yang lain, Iblis datang menemui mereka dan berkata, “Mereka menyembah orang-orang shalih itu dan melalui perantara orang-orang shalih itu pula mereka meminta hujan.”

Dan akhirnya patung orang-orang shalih itu mulai disembah dan diibadahi.

Nabi Nuh menyeru kepada kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyembah berhala, patung ataupun thagut bersama Nya, mengakui keesaan Nya dan tiada Rabb selain-Nya. Disebutkan Nabi Nuh menyeru kaumnya dengan berbagai macam metode tanpa mengenal waktu, siang dan malam, kala sepi ataupun ramai, sesekali dengan kabar gembira dan kadang dengan ancaman. Namun semua itu tidak juga membuahkan hasil yang besar. Sebagian besar kaumnya justru tetap sesat menyembah patung dan berhala. Mereka bahkan memusuhi Nabi Nuh, menghinanya dan pengikutnya yang beriman, dan mengancamnya dengan hukuman rajam dan pengusiran.

Mereka menghina para pengikut Nabi Nuh yang sebagian besarnya adalah kaum yang lemah dan hina menurut mereka (lemah dari sisi derajat sosial dan ekonomi). “..kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina diantara kami yang lekas percaya..”(QS. Hud ayat 27). Ada yang mengatakan mereka adalah orang-orang yang lemah akal, seperti dikatakan Heraklius, “Mereka (orang-orang lemah) adalah pengikut para Rasul. Itu karena tidak ada halangan apapun bagi mereka untuk mengikuti kebenaran”.

“Yang lekas percaya” yaitu yang sekedar diajak, mereka langsung menerima seruanmu tanpa berpikir panjang. Tuduhan yang mereka sampaikan ini justru menjadi inti yang membuat para pengikut rasul mendapatkan pujian yang baik, karena kebenaran tentu telah jelas, tidak perlu dipikirkan terlalu panjang, wajib diikuti dan harus tunduk kepadanya pada saat kebenaran terlihat.

Kemuliaan ini juga yang dimiliki oleh sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasulullah pernah berkata, ”tidak ada seorang pun, yang ketika saya mengajak mereka ke dalam Islam kecuali ia akan ragu-ragu dan penuh pertimbangan.” Rasulullah memberi pengecualian bahwa hal ini tak terjadi pada Abu Bakar, “Ia tidak pernah sejenak pun memikirkan kebenaran apa yang saya katakan dan tidak pula pernah meragukan apa yang saya sampaikan.”

Waktu terus berlalu, sementara perdebatan antara Nabi Nuh dengan kaumnya tidak kunjung berhenti, “Maka ia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun” (QS. Al Ankabut ayat 14). Setiap kali satu generasi berlalu, mereka berpesan kepada generasi berikutnya agar tidak beriman kepada Nabi Nuh. Tabiat dan watak mereka enggan untuk beriman dan mengikuti kebenaran. Mereka bahkan menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan azab yang telah disampaikan Nabi Nuh kepada mereka, “..maka daatangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar.” Namun Nabi Nuh masih terus bertahan dan bersabar menyeru mereka untuk menyembah Rabb yang esa, Allah ‘Azza wa Jalla. Hingga akhirnya tibalah keputusan Allah kepada Nabi Nuh,

“ketahuilah tidak akan beriman diantara kaummu, kecuali orang-orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah kapal..” (QS. Hud ayat 36-37)

Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat kapal besar yang belum pernah ada sebelumnya, juga tidak akan ada kapal sebesar itu setelahnya. Setiap kali para pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya, mencemooh Nabi Nuh dan menganggap bahwa ancaman yang ia sampaikan mustahil akan terjadi.

Ibnu Abbas mengatakan kapal Nabi Nuh memiliki panjang 1200 hasta dengan lebar 600 hasta. Sedangkan tingginya mencapai 30 hasta dengan tiga tingkat. Tingkat bawah untuk hewan dan binatang buas, tingkatan kedua untuk manusia, dan tingkatan atas untuk burung. Allah juga memerintahkan Nabi Nuh untuk memuat semua hewan secara berpasangan. Sedangkan ulama berbeda pendapat mengenai berapa jumlah orang yang ikut naik dalam kapal Nabi Nuh. Ibnu Abbas mengatakan 80 orang, Ka’ab Al Ahbar mengatakan 92 orang, pendapat lain menyebutkan 10 orang dan 7 orang.

Allah kemudian mengirimkan hujan dari langit yang belum pernah dikenal bumi sebelumnya, juga tidak akan diturunkan lagi sesudahnya. Allah memerintahkan bumi untuk memancarkan air dari segala penjuru (Al Qomar ayat 10-13). Sekelompok mufassir mengatakan, air menutupi puncak gunung tertinggi di bumi setinggi 15 hasta, sumber lain mengatakan 80 hasta. Air menutupi seluruh permukaan bumi.

Dalam QS. Hud ayat 42-43, dikisahkan saat hujan mulai turun dan Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman sudah berada diatas kapal, Nabi Nuh kemudian melihat dan memanggil-manggil anaknya Yam, sumber lain menyebutnya Kan’an. Ia kafir dan melakukan perbuatan yang tidak baik. Allah pun ikut menenggelamkannya bersama kaum Nabi Nuh yang lainnya. Selain Kan’an, Nabi Nuh juga memiliki tiga anak lainnya yang bernama: Sam, Ham dan Yafits.

Setelah air dimuka bumi menyusut, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk turun dari kapal yang sudah mendarat diatas gunung Judi.

Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah menyampaikan bahwa menjelang kematiannya, Nabi Nuh berwasiat kepada anaknya dua hal yang beliu perintahkan dan dua hal yang beliau larang untuk mereka. Dua hal yang beliau perintahkan adalah mengucapkan dan mengamalkan kalimat “Laa ilaaha illallaah” sedangkan dua hal yang beliau larang adalah, berbuat syirik dan sombong. Abdullah ibnu Amr kemudian bertanya kepada Rasulullah, “yaa Rasulullah, syirik sudah kami ketahui, lalu apa itu kesombongan?”. Rasulullah saw menjawab, “sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s