challenge · KisahParaNabi

#Kisah Para Nabi 2: Kisah Nabi Adam as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca :”)

Dalam bagian sebelumnya dikisahkan bagaimana Iblis kemudian menjadi makhluk Nya yang durhaka setelah sebelumnya menjadi salah satu hamba Nya yang taat dan paling banyak ibadah kepada Nya.

“wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga” ucap Allah kepada Adam. Iblis dikeluarkan dari surga dan Adam di tempatkan di surga. Pada mulanya Adam hanya seorang diri, manusia yang berada di dalam surga. Sampai suatu ketika, saat Adam sedang terlelap sesaat, setelah bangun, ternyata ada seorang wanita duduk di dekat kepalanya. Dialah Hawa yang Allah ciptakan dari tulang rusuk Adam. Adam bertanya, “siapa kamu?” “Aku seorang wanita” jawab Hawa. “kenapa kau diciptakan?” tanya Adam kembali, “Agar kau merasa senang kepadaku.” Jawabnya.

Para malaikat pun kemudian bertanya kepada Adam, “Siapa namanya wahai Adam?”. Adam menjawab, “Namanya hawa, karena ia diciptakan dari benda yang hidup.” Jawab Adam. Ibnu Abbas meriwayatkan, Hawa diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri yang paling pendek saat Adam tertidur, kemudian tulang tersebut diganti dengan daging.

Adam tinggal bersama dengan Hawa di dalam surga atas perintah Allah. “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada disana sesukamu. Tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini” perintah Allah kepada Adam.

Setelah itu iblis datang dan mulai membisikan sesuatu kepada Adam dan Hawa,”wahai Adam!, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian?” bisik Iblis. Iblis ingin mengatakan bahwa ia akan menunjukkan kepada Adam sebuah phon yang jika dimakan buahnya maka akan membuat Adam dan Hawa kekal dalam kenikmatan yang ada di surga. “Rabbmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di dalam surga” kata Iblis semakin menguatkan rayuannya kepada Adam dan Hawa.

Bisikan iblis membuat Adam dan Hawa mulai memikirkan tentang pohon keabadian. Hal ini membuat keduanya mulai tergoda hingga akhirnya memakan buah dari pohon yang Allah larang untuk mendekatinya. “lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka.” Dalam hadist riwayat Hakim, Rasulullah saw mengisahkan ketika Adam melakukan kesalahan di surga, auratnya terbuka, ia kemudian keluar dari surga dan berpapasan dengan sebuah pohon, pohon tersebut kemudian meraih ubun-ubunnya, lalu Rabb menyerukan, “Apa kau melarikan diri dari-Ku, wahai Adam?.” Adam menjawab,”Tidak, tapi aku malu pada-Mu ya Allah atas perbuatan yang telah aku lakukan”.

“bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” tanya Allah kepada Adam dan Hawa. “ya Rabb, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” Kata-kata ini diucapkan Adam sebagai pengakuan, tobat, merendahkan diri, tunduk dan permohonan kepada Allah disaat yang amat diperlukan. Siapapun diantara keturunan Adam yang menempuh jalan yang sama ketika melakukan kesalahan dan dosa, pasti akan berakibat buruk baik di dunia maupun di akhirat.

“Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan”. Perintah Allah, yang menjadi awal kisah perjalanan manusia yang diembankan sebagai khalifatul fil ardh. Beberapa sumber mengatakan Nabi Adam diturunkan di India dan Hawa di Jeddah.

Setalah berada di bumi, Allah kemudian mengkaruniakan anak kepada Adam dan Hawa. Ulama menyebutkan, setiap kali melahirkan Hawa melahirkan sepasang anak laki-laki dan perempuan. Adam diperintahkan untuk menikahkan setiap anak lelaki dengan saudari kembar saudaranya dan setiap anak perempuan dengan saudara kembar saudarinya. Tidak diperbolehkan saudara kembar yang lahir bersamaan saling menikahi.

Anak pertama yang dilahirkan Hawa bernama Qabil dan saudari perempuannya, kemudian setelah mereka lahir Habil dan saudari perempuannya. Adam memerintahkan Qabil untuk menikah dengan saudari kembar Habil dan begitu juga Habil diperintahkan untuk menikahi saudari kembar Qabil. Qabil menolak, karena saudari kembarnya lebih cantik daripada saudari kembar Habil dan tetap ingin memiliki saudari kembarnya. Adam kemudian memerintahkan mereka untuk memberikan qurban kepada Allah, dan barangsiapa yang diterima Qurbannya maka dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Habil memberikan Qurban seekor kambing gemuk dan Qabil memberikan qurban seikat hasil tanaman yang buruk. Api kemudian turun dan memakan kurban Habil dan membiarkan qurban yang diberikan Qabil. Qabil pun marah dan berkata,”Sungguh aku akan membunuhmu agar tidak menikahi saudariku”. Habil menyahut, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Dalam riwayat disebutkan bahwa Habil secara fisik lebih kuat daripada Qabil, namun rasa berdosa mencegah Habil menggerakkan tangannya untuk membunuh Qabil. “Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam”. Hal ini senada dengan hadist yang disampaikan oleh Rasulullah saw, mengenai dua orang yang saling berhadapan dengan membawa pedang, baik yang membunuh dan yang dibunuh keduanya akan masuk kedalam neraka. Karena sejatinya keduanya sama-sama memiliki keinginan untuk membunuh satu sama lain. Karena didorong oleh nafsu yang besar untuk memiliki saudari kembarnya, maka Qabil pun membunuh Habil. Dan terjadilah peristiwa pembunuhan pertama di dunia. Setelah itu, Allah kemudian menurunkan seekor burung gagak untuk memberikan contoh kepada Qabil, bagaimana seharusnya dia menguburkan jenazah Habil.

Para ahli sejarah dan sirah menyebutkan, Adam dan Hawa dirudung kesedihan mendalam atas kematian Habil. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sepeninggal Habil, Allah kemudian mengkaruniakan kepada Adam dan Hawa seorang anak yang bernama syaits. Hawa menamainya syaits yang berarti pemberian atau hadiah. Karena Syaits adalah anak yang kemudian diberikan Allah sebagai pengganti Habil. Syaits adalah anak pertama Adam yang diberi risalah kenabian.

Adam adalah seorang nabi utusan Allah swt. Dalam kitab Shahih-nya, Ibnu Hibban meriwayatkan, bahwa Rasulullah pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa nabi pertama?” “Adam”, jawab beliau. Nabi Muhammad saw sendiri pernah bertemu dengan Nabi Adam dalam perjalanan isra mi’raj yang dilakukan beliau, saat melintas dihadapan Adam dilangit paling bawah, Adam berkata kepada beliau,”Selamat datang anak yang shalih dan nabi yang shalih”, Rasulullah saw pun bertanya kepada Jibril, “wahai jibril, siapakah dia?”. “Dia adalah Adam” jawab Jibril.

Saat Aadam meninggal dunia, para malaikat datang dengan membawa kamper dan kaffan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla dari surga. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, saat menjelang wafat Adam mengatakan kepada anak-anaknya bahwa dia menginginkan buah surga. Anak-anaknya pun pergi mencari-cari buah yang diinginkan Ayah mereka. Para malaikat yang membawa kamper dan kaffan untuk Adam berpapasan dengan mereka dan bertanya, “Kalian hendak kemana dan apa yang mau kalian lakukan?”. Mereka menjawab, “Ayah kami sakit dan menginginkan buah-buahan surga”. Para malaikat berkata, “Pulanglah, ayah kalian sudah hampir meninggal dunia.” Mereka pun pulang, dan saat Hawa melihat para malaikat, Hawa mengenali mereka dan langsung memeluk Adam. Para malaikat pun mencabut nyawa Adam, memandikan, mengafani dan memberinya kamper. Setelah itu, mereka menggali liang lahat untuknya, menyalatinya, kemudian memasukannya kedalam liang kubur, setelah itu mereka memendamnya dengan tanah. Para malaikat kemudian berkata, “Wahai anak-anak Adam inilah syariat kalian”.

 

©octaraisa

note: semoga bisa istiqomah upload #kisahparanabi every weekday :), as challenge for myself :)) cz Einsten said: “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough”. so, hope you all enjoy this story :))

 

#kisahparanabi juga bisa dilihat di http://octaraisa.tumblr.com/tagged/… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s