Harta Karun · review

Adriana – Labirin Cinta di Kilometer Nol

7747600

 

Salah satu novel keren yang pernah saya baca 🙂

Pertama kali tertarik untuk membacanya justru setelah selesai menonton filmya *iyap, film dengan judul yang sama*, padahal mah biasa-biasanya lebih tertarik untuk membaca sumber asli ceritanya dulu sebelum nonton film nya.

Ini termasuk novel roman, tapi ini beda! 🙂
Ini termasuk novel sejarah, tapi ga ngebosenin! 🙂
Trust me 😀 *eh ga boleh, ntar syirik :p*

Ceritanya bermula dari perjumpaan tak sengaja antara Mamen dan seorang wanita di Lift Perpustakaan Nasional. Secara garis besar isi dari novel ini adalah kisah perjuangan bagaimana si Mamen ini bisa bertemu lagi dengan Adriana, wanita yang telah memikatnya pada pertemuan di Lift Perpustakaan Nasional. Aslinya bisa dibuat simple karena hanya memperjuangkan untuk bertemu lagi, namun di sini dalam buku ini tak dibuat se-simple itu :). Maka inilah kisah perjuangan Mamen. Pemuda yang malas belajar sejarah yang akhirnya harus membedah sejarah, karena dengan begitu dia bisa bertemu dan mendapatkan Adriana, si gadis cantik, cerdas dan misterius.

Jika karpet itu berganti lima kali, aku akan menjumpaimu di tempat dua ular saling berlilitan pada tongkatnya, saat Proklamasi dibacakan. Harinya adalah tiga setelah Fatahillah mengusir Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ini adalah teka-teki pertama yang muncul di awal kisah dalam novel ini. Teka-teki pertama yang menjadi awal dari rangkaian teka-teki sejarah yang menjadi daya tarik bagi novel ini.

Masanya sampai pada perang Diponegoro. Namun orang-orang merana itu tahu, saat mati, jasad mereka akan merana terkubur jauh dari tanah tumpah darah mereka sendiri.

Aku yang menunggumu adalah Adriana, pada mimpinya yang tak pernah mati. Dia menjual mobilnya untuk membangunku, temui aku di tempat aku menunjuk.

Pada waktu wafatku, Adriana. Besok saat tiga dalam satu berakhir. Sang penari harus menemui tuan tanahnya di kepala naga saat gelap. Tempat di mana anak panah Arjuna Berada. Cari dan bawalah padaku panah itu. Pada saat tiga menjadi satu dimulai. Aku adalah negeriku yang kuhadiahkan pada kota ini.

Naiklah ke punggungku dan lihatlah bintang di langit, apa yang kau temukan? Terbanglah ke sana dengan jubah yang dijaga dua malaikat. Temui aku dikubangan lumpur tempat kerbau memadu kasih, pada saat mereka meresmikan aku. Bawalah bingkisan hatimu untuk hatiku. Temui aku pada apa yang dikatakan polisi tentang politikus Betawi itu.

Membaca novel ini, pembaca secara tidak langsung diajak oleh penulis untuk menguak sejarah dan makna dari simbol-simbol dan monumen-monumen yang menjadi ke-khas-an kota DKI Jakarta :). Melalui teka-teki yang diberikan Adriana, pembaca diajak berkeliling Jakarta. Mulai dari Patung Selamat Datang, Semanggi, Bundaran HI, Patung Pancoran, hingga Monas sebagi landmark kota Jakarta. Masing-masing teka-teki merujuk pada satu peristiwa bersejarah yang terjadi di kota Jakarta tempo dulu.

Beberapa orang yang menulis resensi tentang novel ini mengatakan cara penulisan novel ini mirip dengan Angel and Demon-nya Dan Brown.

Bagi saya yang *mengklaim* menyukai sejarah, maka novel ini adalah salah satu novel yang recommended untuk dibaca :). Dan satu hal yang penting adalah banyak pengetahuan baru yang benar-benar baru saya ketahui setelah membaca novel ini. *ini mah emang saya nya yang kudet, padahal tadi ngakunya suka sejarah #mlipir terus krukupan -__-*.

Seperti kapan waktu tepatnya saat Bapak Proklamator kita membacakan naskah proklamasi. Selama ini yang saya ketahui dari zaman masih jadi siswa dan mahasiswa adalah bahwa naskah proklamasi dibacakan pada pukul 10.00 WIB, padahal ketika sedang dibacakan saat itu Indonesia sendiri belum memiliki pembagian waktu dan masih mengikut pembagian waktu Tokyo yang berbeda kuranglebih 2 jam dengan Waktu Indonesia bagian Barat saat ini.

Saya juga baru tahu kalau ternyata bandara udara pertama kali yang dimiliki Indonesia adalah Bandara Udara Kemayoran, dulu saya kira Bandara Soekarno Hatta. Dan tempat yang dulu dijadikan Bandara Kemayoran kini berubah fungsi dan menjadi tempat tujuan favorit warga Jakarta ketika kota ini bertambah usia setiap tahunnya. Sekarang baru ngeh, kenapa PRJ itu tempatnya luas bangat yak :). Dan baru tahu juga kalau Patung Pancoran yang disebut juga Patung Dirgantara, yang terlihat seperti seseorang yang sedang menunjuk itu, menunjuk kearah bandara udara Kemayoran.

Atau mungkin banyak yang sudah dengar kisah Bapak Hatta dengan sepatu impiannya, yang sampai akhir usia beliau belum mampu untuk membelinya. Padahal beliau pernah menduduki posisi orang terpenting di Negara ini :(.

Kejadiannya persis beberapa saat sebelum Bung Karno wafat. Beliau terbaring di Wisma Yuso. Keadaan Bung Karno yang semakin kritis membuat Pemerintahan Soeharto mengizinkan beberapa kerabat membesuk beliau.

Beliau, bapak itu, wakil presiden pertama kita pun datang menjenguk.

“Hatta, kau di sini?”

“Ya, bagaimana keadaanmu, No?” tanya Pak Hatta.

Bukannya menjawab Bung Karno malah balik bertanya, “Hoe gaat het met jou?” Bagaimana kabarmu. Selanjutnya tak ada yang didengar Pak Hatta lagi dari bibir Soekarno selain kata “Schoenen” yang artinya sepatu.

Sepatu, apa makna sepatu yang disebut Bung Karno pada Pak Hatta?

Tahun 1851, Carl Franz Bally dan saudaranya Fritz, di basement rumah mereka di Schonenwerd di Distrik Solothurn, Swiss mendirikan usaha sepatu yang diberi label ‘Bally & Co’. Usaha ini berkembang dengan cepat keluar Swiss. Sepatu merk ‘Bally’ ini kemudian melangkah menjelajah Eropa, hingga benua Amerika dan akhirnya tiba di Asia. Kini butik khusus sepatu mewah ini berada di hampir seluruh kota ternama di Amerika Utara. (page 130)

Seseorang kemudian wafat pada Maret 1980. Dan ketika keluarganya membereskan berkas-berkas di meja laki-laki yang baru saja dikebumikan itu, mereka menemukan sebuah potongan iklan koran terbitan akhir tahun lima puluhan yang digunting dengan rapi.

Apa isi potongan iklan itu?

Iklan yang memuat alamat penjual sepatu Bally di Jakarta.

Beliau ternyata sangat memimpikan memiliki sepatu itu. Sampai akhir hayatnya, seorang Bung Hatta tak pernah mampu membeli sepatu impiannya itu. Padahal sebagai wakil Presiden, beliau bisa saja meminta orang-orang, pengusaha untuk membelikannya atau memakai uang negara. Tapi tidak dia lakukan. (page 131)

Proud of you Mister :’)

Dan masih banyak lagi hal-hal yang benar-benar baru saya ketahui tentang kota kelahiran saya, tentang ibukota negara ini dan tentang mereka yang sangat mencintai bangsa ini :).

Recommended lah :).

Saudagar Baghdad dari Betawi karya Alwi Shahab adalah salah satu efek setelah saya membaca novel Adriana – Labirin Cinta di Kilometer Nol ini :). Benar-benar jadi ketagihan dan pengen ngeppoin lebih dalam tentang sejarah kota Jakarta. Bedanya buku tulisan Abah Alwi ini sudah sulit untuk dicari –nemu sih di toko buku online tapi buku bekas dan liat harganya langsung pengen nyembunyiin dompet :P–. Alhamdulillah, Maha Baik Allah yang memberikan kemudahan untuk tetap bisa baca buku ini :).

Melanjutkan tulisan yang sebelumnya masih di folder draft :). Novel ini sudah selesai dibaca dua tahun yang lalu *ketahuan ngendap di draft nya berapa lama -__-*.

 

Referensi:

Tentang sejarah pembagian waktu di Indonesia — http://historia.id/sains-teknologi/kisah-zona-waktu-di-indonesia

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s