Meracacacau · Uneguneg

Semuanya akan dimudahkan terhadap untuk apa dia diciptakan..

Bukankah Rasulullah saw juga pernah bersabda, Semuanya akan dimudahkan terhadap untuk apa dia diciptakan..

Benar-benar pertama kali mendengar nya kemarin, diucapkan oleh salah seorang pembicara di Daurah Murobbi. Saat berkata seperti itu si pembicara tengah menjawab pertanyaan dari salah satu peserta tentang bagaimana cara kita mengenali potensi binaan kita (fyi, ini daurah murobbi untuk mentor sekolah SMA), karena kebanyakan diusia mereka, merekanya sendiri juga belum tahu apa potensi mereka.

Si pembicara menjawab dengan menceritakan pengalamannya, bagaimana dulu beliau berupaya untuk mempelajari ilmu-ilmu tentang kepribadian, berdiskusi dengan temannya yang mendalami ilmu psikologi, dan membaca buku-buku tentang tes minat dan bakat. *huaaa, mendengarkan beliau menceritakan pengalamannya berhasil membuat saya me-nganga, bisa se-serius gitu usahanya demi mengetahui potensi masing-masing binaannya #malu -__-*
“..dan terus pernah selama sebulan lebih, liqoan saya setiap pertemuan isinya cuman diskusi tentang karakter pribadi dan mengisi kuisioner-kuisioner tes minat dan bakat”.
—–
..sama juga dengan kita terhadap anak-anak kita., berdoanya sama Allah jangan minta supaya anak kita jadi pilot, anak kita jadi dokter atau yang lainnya. semuanya serahkan ke Allah, terserah anak kita kelak jadi apa yang penting Allah ridha. Jadi kita doanya semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kelapangan hati yang lebih dalam mendidik anak anak kita untuk menjadi apa apa yang Allah inginkan” ini masih lanjutan dari jawaban pembicara diatas lho, yang entah kenapa jadi nyerempet ke tentang anak :P, oh mungkin karena si penanya adalah Ibu Ibu dan juga karena pembicaranya kadang suka random :), tapi tetap bermutu 🙂
Lebih penting apa yang Allah ta’ala inginkan anak kita jadi apa, bukan apa yang kita inginkan anak kita jadi apa. << Noted!
Yang penting mah apa yang Allah ta’ala inginkan saya jadi apa, bukan apa yang saya inginkan jadi apa. Terserah Allah, asal Allah ridha :’)
—–
“Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya…” (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir dan Muslim, kitab al-Qadar)
“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” QS. Al Lail ayat 7
Rangkaian kalimat diatas adalah petikan dari hadist panjang yang disampaikan Rasulullah saw terkait dengan pentingnya seorang hamba untuk beramal walaupun Allah swt telah menetapkan takdir akhiratnya.
Apa benar setiap yang akan termasuk kedalam jalan takdir kita itu pasti akan Allah mudahkan?
🙂

Saya sih percayanya iya, lha pan udah termakub noh didalam hadistnye, lewat sabda nabi Nya 🙂 *betawinya keluar:P*

Hanya mungkin ‘mudah’ nya bukan bermakna mudah yang macam sekali jalan langsung sampai, sekali coba langsung berhasil, sekali minta langsung dapat.
Allah, Dia-lah Tuhan yang Maha, yang Maha, yang Maha itu sangat amat teramat mengetahui kondisi dari setiap masing-masing ciptaan Nya, maka Dia jugalah yang paling tahu ‘jalan mudah’ seperti apa yang akan di hadapi masing-masing hamba Nya untuk akhirnya mendapatkan apa-apa yang telah diciptakan untuknya.
Lihat bagaimana cara Allah menyiapkan ‘jalan mudah’ bagi Rasulullah saw untuk menyerukan ajaran yang diembannya.
Atau lihatlah bagaimana bunda hajar menempuh ‘jalan mudah’ nya untuk mendapatkan air bagi bayi Ismail yang tengah menangis karena kehausan saat itu.
Ini tentang impian,
..dan tentang batas.
pernah ga sih ngalamin, dalam pertama kalinya dalam hidup kamu, kamu benar-benar ingin menjadi sesuatu. Dan kamu berupaya dengan sekeras usaha yang bisa kamu lakukan, meminta pada Nya apa yang diri ini inginkan, menceritakan pada orangtua seperti apa kelak kamu ingin menjadi. Bahkan itupun sampai terbawa dalam mimpi. Seolah-olah kamu juga sedang menyampaikan kepada semesta tentang sesuatu yang ingin kamu menjadinya. Saya pernah. Saya pernah (dan sampai detik ini pun masih sama) sangat-sangat menginginkannya. *bukan tentang seseorang yah, tapi tentang sesuatu :”)
“Sempurnakan ikhtiar itu supaya Allah suka, bukan agar keinginan terkabul. Jangan mengatur Allah dengan ikhtiar, ikhtiar adalah ibadah, amal soleh..” – Aa Gym –
JLEB!
Apa yang terjadi jika ternyata maksud baik yang sedang kamu upayakan disisipi sedikit saja niat yang kurang baik, setitik rasa sombong dan perasaan ‘aku lebih baik darinya’ misalnya?
Salahsatu jawabannya mungkin adalah nangis kejer bermalam-malam ketika kemudian Allah berkehendak “Tidak untuk saat ini” 😛 🙂
Maka sepakatlah saya dengan apa yang disampaikan oleh Aa Gym,
“Sebagian dari kita mungkin mempercayai bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Tidak salah, meski sebenarnya ada yang perlu diluruskan disini. Bahwa ternyata, doa dan usaha tidak selalu bekerja beriringan. Hakikatnya, semua ikhtiar adalah ibadah, wujud bakti seorang hamba pada Sang Khalik. Saat kita menyempurnakan ikhtiar kita, itu semata-mata karena ibadah, agar Allah suka, yang mudah-mudahan dengan rasa suka itu Allah berkenan mengabulkan segala pinta kita. Karena Allah..Untuk Allah..Agar Allah suka..”
Sejatinya pun Allah sangat menpati janji Nya untuk selalu mengabulkan pinta dan doa hamba-Nya: iya saat ini, iya tapi bukan sekarang, iya tapi yang lain. See, jawabannya selalu iya. 🙂
Untuk Allah yang Maha Baik itu,
Maka kenapa tidak mencoba untuk berusaha meluruskan niat, memurnikan niat, untuk benar benar menjadi karena Nya, untuk Nya dan agar dia ridha 🙂
“mungkin rencana kakak tidak sesuai dengan rencana-Nya, maka dari itu kakak putuskan untuk berhenti” -Kak Tika-
Batas.
Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’ (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin), batasannya adalah tiga kali. Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu. (ummu Ziyad, muslimah.or.id)
Bahkan dalam hal meminta izin untuk datang bertamu saja, kita sebagai seorang muslim memiliki batas. Batas untuk menghormati si empunya rumah, apakah beliau berkenan atau tidak dikunjungi.
Apatah diri ini dengan Si Empunya, 😦
Bukankah kita mempercayai bahwa dia yang Paling Maha Menepati janji untuk memenuhi setiap pinta hamba Nya yang memohon pada Nya?
Bukankah kita juga percaya bahwa Dia yang Paling Mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-hamba Nya?
..dan bukankah kita juga sangat menyakini bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu benar-benar yang terbaik untuk kita?, karena bisa jadi apa yang baik menurut kita ternyata adalah hal yang buruk bagi kita dan berlaku juga sebaliknya.
Dia yang Maha Mengetahui dan Dia juga yang Maha Berkehendak.
Just believe it!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s