Harta Karun · review

LEIDEN!

582060_ce4a9e0f-85f8-4727-8c4e-5b2846a0119eSaya langsung jatuh cinta seketika pada buku ini sesaat setelah selesai membaca kalimat di lembaran kata pengantar yang disampaikan penulis.

Pertama kalinya mengetahui buku ini, sekitar seminggu yang lalu ketika membaca salah satu tulisan di akun tumblr pak sohibuliman, beberapa postingannya diambil dari buku Leiden!, karya kang Dea Tantyo.

Saat baca untuk pertama kali postingan yang diambil dari buku ini, saya langsung suka! Dan langsung saat itu juga browsing bagaimana cara mendapatkan buku ini. Alhamdulillah, walau sempat was-was diawal karena takut sudah sold out, Allah masih menakdirkan kita berjodoh :))

Secara keseluruhan saya suka sama buku ini,
Eh salah, suka bangat!
Aaaaakkk…
Awesome to the max! 🙂
*okeh ini lebay :P*

Jarang-jarang lho saya *dengan sepenuh kesadaran diri tanpa paksaan apapun atau siapapun :P* menyengaja membaca buku yang berbau leadership dan sejenisnya 😛, (apalagi di kondisi saya yang sekarang) abis biasanya yang sudah-sudah buku-buku bertemakan sejenis ini berisikan kumpulan teori-teori yang membuat saya tetiba pusing dan lapar (?).

Leiden berbeda!

“Bangsa kita butuh inspirasi. Butuh teladan. Butuh contoh yang telah menulang sumsum antara kata dan perbuatan. Butuh model kepemimpinan yang lahir dari pola Leading by Example” (Leiden, pg.xv)

Yap, main point nya adalah Leading by Example.

Memimpin dengan contoh. Karena bagi saya pribadi, lebih mudah dan lebih cepat mencerna apa yang saya lihat (keteladanan) dibanding apa yang saya dengar. Masih inget kaidah dakwah yang pertama? “Al Qudwah qobla Ad Dakwah”

Di buku ini, yang memang jenisnya adalah buku bibliografi kita akan banyak bertemu dengan para tokoh inspiratif, who is the real leader. Soekarno, Hatta, Agus Salim, M. Natsir, Hamka, Umar, Khalid, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, Gandhi, Roosevelt, Soe Hok Gie, Bruce Lee, Kadet Soewoko, Hamengku Buwono IX, Nelson Mandela, hingga Marcus Tullius Cicero dan masih banyak nama lainnya.

Banyak bangat yah?! 🙂
iyah banyak dan kesemua-an kisahnya wow!

Halaman per halaman nya menyimpan banyak rasa dan suasana.
tiba-tiba tersenyum kagum waktu baca kisahnya Roosevelt, Jendral Soedirman dan Bp. Handry Satriago. Ada yang kenal dengan nama terakhir yang saya sebut?

Atau tersenyum haru waktu baca kisahnya Pak Mohammad Natsir yang lebih memilih pulang dengan dibonceng sepeda oleh ajudannya sesaat setelah beliau meletakkan jabatannya sebagai mentri. Jangan berpikir beliau pencitraan yak!, selama beliau menjalankan amanahnya sebagai mentri, beliau selalu tampil sederhana dan sangat bersahaja. Pakaian beliau untuk menjabat adalah jas dengan tambalan. “pakaianya,” ujar George Mc Turnan Kahin, “sungguh tak menggambarkan ia seorang menteri dalam pemerintahan”.

Dan semakin bergetar haru, ketika Raja Faisal – Raja Arab Saudi saat itu –berkata “M. Natsir bukan hanya pemimpin Islam di Indonesia saja, tapi juga pemimpin Islam di dunia, pemimpin kami-kami ini” huwaaaa T_T

Bisa juga di salah satu halamanya dibuat tersipu malu, ketika membaca balasan surat cintanya Pak Agus Salim untuk istrinya 🙂, isinya cuma tiga paragraf pendek, di awali dengan kalimat basmallah dan MERDEKA! *seriusan ada kata merdeka dengan capslock on dan tanda seru*. Kalimatnya sederhana, tapi berasa romantisnya :p. tidak ada kata-kata rayuan atau pujian untuk istrinya, satu-satunya kalimat yang mengandung pujian yang ada di dalam surat itu adalah “sebab itu baiklah kita bersyukur memuji Allah atas rahmat karunia-Nya”

Dan tersenyum sambil tak henti-henti nya berbisik “keren, keren, keren” dalam hati.
Prof. Schermerhon, Perdana Mentri Belanda (1945-1946) pernah berkata tentang siapa Haji Agus Salim. “Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang jenius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna dalam sedikitnya 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu: beliau – Haji Agus Salim – hidup melarat”.

Pernah dengar kisah tentang kejeniusan Agus Salim di event Konferensi Buruh se-Dunia (ILO) di Jenawa, Swis??

Hari itu pada tahun 1929-1930, Himpunan Serikat Buruh Belanda menunjuk Agus Salim untuk mewakili mereka hadir di konferensi ILO.

Bersiap menaiki podium, semua meremehkan Agus Salim yang tampil sangat sederhana dengan kopiah dan jenggutnya. Bahkan beberapa dari mereka mengejek dengan suara “embek”. Beliau tidak menghiraukan, sesampai di podium berdiri tegak. Haji Agus Salim memulai pidatonya.

Then miracle happened: Paragraf 1 pidatonya, beliau sampaikan fasih dengan bahasa Belanda. Paragraf 2 dengan bahasa Inggris. Paragraf 3 dengan bahasa Jerman. Paragraf 4 dengan bahasa Perancis.

Semua mata terbelalak, mendengar Agus Salim berbicara lantang tentang kekejian kolonial kepada seisi ruangan di forum besar Internasional dalam 4 bahasa sekaligus. Jenewa terpukau.

Dan efeknya bukan main: Akibat gugatan Agus Salim di Forum Internasional itu, AS dan beberapa Negara Eropa tidak mau lagi membeli hasil kebun Hindia Belanda yang diperoleh dari hasil kekejaman tanam paksa. Ekspor Belanda diboikot. Ekonomi Belanda mulai terpuruk dan Bangsa Indonesia mulai menjejaki perjuangan kemerdekaan.

Allahu Akbar! Merdeka! :))

Baru baca sampai chapter 3 nya aja (dari keseluruhan 14 chapter) rasa-rasanya udah pengen teriak “I would like to declare myself as Agus Salim and Mohammad Natsir new big fan” 😛 😀

Dan suasana-suasana hati lainnya yang gak jauh-jauh dari kagum, terpesona, terharu, dan tersipu 🙂

Huaaa benar benar awesome to the max! 🙂

Buku ini terdiri dari 276 halaman yang dibagi menjadi 14 chapter, berisikan point-point utama yang berkaitan dengan Leadership yang tentunya selalu ada kisah teladan yang penuh inspirasi didalamnya.

Saat menulis ini, saya baru akan menuju Chapter 11. Tapi rasanya sudah gak sabar ingin memberitahu tentang ke-keren-an buku ini 🙂

Very, very, very recommended! 🙂

PS:
Tadi diawal saya bilang memang cukup aneh bagi saya pribadi untuk membaca buku tentang leadership di kondisi saya yang seperti ini –tidak sedang dalam suatu organisasi dan tidak sedang memegang suatu amanah di lembaga tertentu–.

Tapi percaya deh, buku ini masih tetap recommended buat siapapun yang ingin mengenal Founding Father Negara kita, atau buat yang ingin makin tambah bangga sebagai seorang Muslim, atau juga buat yang ingin mengenal deretan manusia yang turut membangun skenario kepemimpinan di Indonesia dan dunia. Atau sekedar buat bahan cerita agar obrolannya jadi lebih bermutu 😛, percaya ga percaya saya selalu mengulang kembali kisah yang sehabis saya baca di buku ini ke adik saya 🙂,

“tau gak dek, Jendral Soedirman itu orangnya kurus dan punya penyakit asma, sering kambuh juga, makanya suka dibopong pakai tenda sama pasukannya, dan kerennya katanya beliau hidup hanya dengan satu paru-paru”

Lagi juga,
Bukankah setiap dari kita adalah pemimpin?
Dan bukankah setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya?

“Suka tidak suka, setiap orang yang hidup sesungguhnya terlibat dalam proses kepemimpinan. Paling tidak, ia dituntut untuk memimpin dirinya sendiri untuk survive.” (Leiden, pg.11)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s